Hajriyanto Y. Tohari: “Muhammadiyah Krisis Kader Bangsa”

0
341

SEMARANG – Wakil Ketua MPR RI, Hajriyanto Y. Tohari, mengatakan saat ini Muhammadiyah mengalami krisis kader bangsa. Hal tersebut disampaikan saat berdialog dengan warga Muhammadiyah Kota Semarang di Gedung Muhammadiyah Jawa Tengah, jl. Singosari Raya No. 33 Semarang, beberapa waktu lalu.
Hajriyanto mengatakan bahwa calon pemimpin bangsa yang muncul saat ini tidak ada yang dari kalangan Muhammadiyah. Menurutnya, dalam survei-survei calon pemimpin bangsa pada urutan-urutan atas tidak ada yang pernah mengenyam pergerakan Islam. Yang tertinggi hanyalah Hidayat Nurwahid, itupun diposisi bawah dan kalah dengan Jokowi saat pilgub DKI Jakarta. Hal tersebut menurut Hajriyanto merupakan kemerosotan dari gerakan-gerakan ke-Islaman yang gagal memunculkan calon pemimpin bangsa.
“Sekarang yang ada di DPR, di kabinet, di komisioner, jurnalis, yang ada adalah Pengurus IPNU, Fatayat, PMII dan Anshor”, tegas Hajriyanto. Menurutnya, walaupun kader Muhammadiyah itu minoritas, tapi harus mempunyai kualitas, walaupun Muhammadiyah bukan etnitas politik.
Hajriyanto menegaskan bahwa cita-cita menjadi presiden tidak bisa muncul secara mendadak. Oleh karena itu, perkaderan Muhammadiyah melalui IPM, IMM dan Pemuda Muhammadiyah harus diubah. Hajriyanto berpendapat bahwa gerakan perkaderan Muhammadiyah harus berfikir ekstensifikasi, sehingga nantinya dapat bertebaran dimana-mana. Hajriyanto mencontohkan misalnya setelah dari IPM, jika mau bergerak ke eksternal maka harus mulai terjun keluar. “Jika ingin terjun ke politik, maka harus mulai masuk ke politik, mulai dari anggota departemen, kemudian menunjukkan ketekunan dan kesabaran dalam melakukan kerja-kerja politik, karena dalam politik tidak ada yang instan”, papar Hajriyanto.
Selain itu, Hajriyanto juga mencontohkan jika ingin terjun ke bisnis, maka juga harus memperkenalkan diri ke publik melalui jejaring bisnis dan kekuatan ekonomi. “Saat ini banyak pengusaha-pengusaha yang lari ke politik’, tegas Hajriyanto.
Hajriyanto juga menyoroti persoalan mubaligh dan khatib Muhammadiyah yang semakin merosot jumlahnya. Menurutnya, Muhammadiyah belum berhasil sebagai organisasi dakwah. Hajriyanto mengatakan Muhammadiyah butuh pemimpin dan mubaligh yang mampu menggerakkan massa, bukan hanya sebagai kajian akademis semata. “Kaderisasi harus terus berjalan. Jangan dilupakan juga IMM dan IPM untuk dilatih menjadi mubaligh”, saran Hajriyanto.
Terkait Pilpres
Hajriyanto juga mengomentari terkait kiprah Muhammadiyah saat pilpres. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan kumpulan orang dengan kesamaan semangat. Namun, terkait dengan pilpres, Muhammadiyah tidak bisa diarahkan karena Muhammadiyah bukan organisasi politik. “Amien Rais saja yang saat itu mencalonkan diri sebagai presiden tidak bisa menggiring suara Muhammadiyah”, tegas Hajriyanto. Dia bercerita ketika Jusuf Kalla maju sebagai calon presiden (capres) dan berkunjung di Muhammadiyah juga sudah pernah diingatkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik yang dapat mendongkrak suara. Namun, Jusuf Kalla tetap bersilaturahmi untuk meminta restu maju capres. (Fakhrudin)