Dr Eny Winaryati Apresiasi Karya Guru dan Kepala Sekolah Muhammadiyah Produktif

0
675
Dr ENY WINAYARTI, M.Pd DEKAN FMIPA UNIMUS

Oleh : Hendra Apriyadi, S,Pd (Guru SMK Muhammadiyah Lebaksiu Kab Tegal  dan Mahasiswa MPB Pascasarjana UMS)

PADA awal-awal tahun sebelum kemerdekaan seperti KH Ahmad Dahlan , KI Hajar Dewantoro, Muhammad Syafei,menempatkan nilai-nilai karakter pada tempat yang tepat baru kemudian didukung dengan nilai-nilai kognitifnya.

Ketika bincang- bincang dengan Dr Eny Winayarti, M.Pd selaku dekan Fakultas MIPA universitas Muhammadiyah Semarang dan juga wakil Ketua dua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah mempunyai sebuah  Harapan, khususnya SMK sangat beruntung karena pemerintah sangat mendukung  untuk berkompetisi dan berkolaborasi, penting untuk berkolaborasi dengan unsur lain, seperti perguruan tinggi, masyarakat dan termasuk dengan masyarakat itu sekarang ada revitalisasi komite sekolah desain baru dari Mendikbud itu sangat pas karena memang komite sekolah melibatkan masyarakat dalam pengambangan sekolah, kedua sekolah harus mengikuti perkembangan zaman, apalagi sekarang ada teori dari teori X,Y, dan Z, pada teori Z menyatakan bahwa seorang dapat menyelesaikan lima pekerjaan dalam satuan waktu yang sama, dengan demikian sekolah baik dengan gurunya dalam proses pembelajaran pun harus kreatif dan inovatif

Demikian pula hasil produk pada pesertadidik  juga harus tanggap dengan fenomena ini sehingga anak setelah luluspun dia akan tanggap dan akan mengambil secara cepat inisiatif untuk bisa berkreatifitas.

SMK Muhammadiyah Lebaksiu kabupaten Tegal Jawa Tengah sekolah ini menciptakan sebuah strategi pembelajaran yang luar biasa dan Teritegrasikan pada produk, Kepala sekolahnya yang produktif, kreatif dan inovatif serta keinginannya untuk maju sungguh luar biasa, dan salah satu guru yang mempunyai trobosan yang bisa di Integrasikan dari pelajaran Bahasa Indonesia dikemas dengan strategi pembelajaran yang bisa menghasilkan produk dan karya ini membuktikan SMK Muhammadiyah Lebaksiu bisa menjadi sekolah yang maju dalam pengembangan media pemblajaran ,

Ketika diskusi dengan Hendra Apriyadi Wakil Kepala  Sekolah Hubungan Masyarakat SMK Muhammadiyah Lebaksiu, menjelaskan konsep pembelajaran Kreatif yang saya kembangkan adalah pembelajaran kolaborasi antara teori dan menciptakan karya atau produk, Dengan ini maka para siswa akan mendapatkan pengalaman yang menarik dan bisa beriteraksi dengan masyarakat contohnya Pada materi Negosiasi kelas X Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

Para siswa saya ajak untuk mengamati dan memahami dulu tentang teori setelah itu ada proses tanya jawab yang akhirnya menghasilkan ide yang bisa dikembangkan untuk berkarya. Alkhamdulillah dampaknya sangat kreatif. Karena SMK Muhammadiyah Lebaksiu mempunyai unit produksi Jahe Instan Famuba, para siswa saya berikan tugas mejual hasil produk yang kemudian ada komunikasi dalam bernegosiasi dengan para konsumen.

Literasi Sebagai Program unggulan

Selain itu SMK Muhammadiyah Lebaksiu juga mempunyai program Literasi, pengembangan literasi ini adalah integrasi dari pelajaran Bahasa Indonesia yaitu aspek Membaca dan menulis. Saya coba lakukan penelitian pada siswa saya seberapa persen keberhasilan siswa saya dalam membuat sebuat karya khususnya dalam bidang menulis. Ternya hasilnya sangat memuaskan ada 3 siswa yang sudah mempunyai karya berupa Cerpen dan Novel serta saya manfaatkan di sela sela mengajar untuk mengajari para guru yang berminat menulis tentunya akan menarik jika ini di terapakan di Sekolah Muhammadiyah. Ungkap Hendra Apriyadi seorang guru dan Juga mahasisa pascasarjana.

saya optimis, kalau kata Prof. Lincolin menyampaikan Perguruan tinggi Muhammadiyah sepuluh tahun kedepan akan bisa menyaingi perguruan Negeri, dan saya yakin kalau sekolah ini dikelola secara istiqomah oleh seluruh komponen sekolahan maka akan dapat menyaingi sekolah  negeri di kabupaten Tegal ini.

Dan yang kedua SMK Muhammadiyah Lebaksiu ini punya beberapa keunggulan, dan yang menarik menurut saya yaitu keunggulan yang berbasis literasi, dan ini merupakan persoalan kita semua sebagai orang tua dimana anak-anak kita ini sangat malas untuk menulis, kalau ini tidak segera diatasi oleh lembaga pendidikan untuk mengambil alih agar membuat terobosan baru agar anak itu mempunyai keterampilan menulis maka akan sangat dikhawatirkan anak-anak kita tidak akan mempunyai keterampilan menulis.

Dan ini luar biasa guru dan murid ternyata sampai akhirnya membuat kesepakatan bersama dan berkomitmen untuk memajukan SMK Muhammadiyah  Lebaksiu yakni literasi menjadi sesuatu hal yang bisa diandalkan dan mudah-mudahan kedepan majalah atau buletin yang dikembangkan juga akan mengarah kepada literasi yang dimiliki itu bisa disampaikan kemasyarakat sehingga masyarakat mendapat imbasnya entah itu berupa edukasi maupun produk yang dimiliki.

Gaya Belajar Siswa

Sebelum memberikan pelajaran seorang guru seharusnya memahami gaya belajar siswanya. Seorang siswa bisa lebih mudah memahami pelajaran jika sesuai dengan hatinya dan menyenangkan. Menurut Rudi Hartono, ada siswa yang lebih mudah menerima pelajaran melalui pendengaran (auditori), ada juga siswa yang mudah memahami dan menangkap sebuah pelajaran dengan melihat (visual) dan juga ada siswa  yang  lebih  mudah  dengan  langsung  mempraktikkan  apa  yang didengar atau dilihat (kinestetik).

Guru yang baik dan mengerti, tentu berusaha mengetahui serta mengembangkan bakat potensi siswanya. Hal itu didasari adanya keyakinan bahwa si anak ada potensi besar. Sehingga bisa jadi meskipun di sekolah anak belum melahirkan prestasi yang bagus guru dan orang tua jangan lelah untuk mencari penyebab belum keluarnya potensi anak.

Menurut  Alfred  Adler  tokoh  psikologi dunia,  setiap  orang adalah  suatu  konfigurasi  motif-motif  sifat-sifat,  serta  nilai-nilai  yang khas. Tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi siswa (Winkel,2005:164)

Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana seorang menyerap, Kemampuan mengatur dan mengolah informasi (Suparman , 2010:63) .

Manusia tumbuh dan berkembang dari bayi tak berdaya dalam segala kebutuhannya bergantung pada orang lain menjadi manusia yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai corak ragam masyarakat, dari yang sederhana sampai yang modern dan kompleks.Ia dapat menyesuaikan hidupnya dalam gua akan tetapi juga dapat hidup dalam ruang angkasa. Jadi dalam hidup manusia dari bayi sampai dewasa ia mengalami berbagai perubahan.

Akan tetapi ia banyak belajar sebagi akibat pengaruh lingkungannya terhadap mana ia berinteraksi. Belajar merupakan gejala yang wajar setiap manusia akan belajar. Namun kondisi-kondisi belajar dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan  bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuanya, atau mengubah kelakuanya.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks sebagi tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar . Proses belajar terjadi berkat siswa memeroleh seseuatu yang ada di lingkunagn sekitar .

Dari  beragam  pendapat  di  atas,  penulis  mencoba  memaknai bahwa gaya belajar siswa adalah cara atau upaya siswa memahami informasi dalam hal ini materi pelajaran yang disampaikan guru.

ketiga bentuk gaya belajar tersebut merupakan cerminan nyata gaya belajar siswa yang selama ini menjadi rujukan para ahli khususnya penulis mengambil pendapat dari.

Jika dihubungkan dengan kurikulum 2013 dimana penilaian dibagi menjadi tiga bagian yaitu penilaian dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik maka sudah cukup tepat jika gaya belajar condong ke tiga bentuk yaitu visual, auditorial dan kinestetik.

Menurut Reid, Divaharan, dkk, Gunawan, Susilo, Frengky, seperti dikutip Ghufron dan Rini menjelaskan bahwa gaya belajar merupakan cara yang sifatnya individu untuk memperoleh dan   menyerap   informasi  dari   lingkungannya   termasuk   lingkungan belajar.

Definisi lainnya dikemukakan Kolb seperti dikutip Ghufron dan Rini bahwa gaya belajar merupakan metode yang dimiliki individu untuk mendapatkan informasi yang pada prinsipnya gaya belajar merupakan bagian  integral  dalam  siklus  belajar  aktif.

Dunn  dan  Griggs  seperti dikutip Ghufron dan Rini, juga menyampaikan pendapat tentang gaya belajar.  Keduanya  berpendapat  bahwa  beberapa  pelajar  tidak  dapat belajar dengan baik pada waktu pagi hari tetapi dapat belajar pada siang hari. Beberapa pelajar dapat belajar pada lingkungan belajar yang berisik tapi pelajar lain dapat belajar pada lingkungan belajar yang sunyi.

Sumber Data :

Hasil Wawancara dan diskusi dengan Dr Eny Winayarti, M.Pd selaku dekan Fakultas MIPA universitas Muhammadiyah Semarang

M.N.  Ghufron  dan  Rini  Risnawati, 2012.  Gaya  Belajar;  Kajian  Teoritik,      Pustaka Pelajar, Yogyakarta