DO’A PETUNJUK HIDUP DUNIA AHIRAT

0
1337

Oleh

Drs Mulyono

Do’a adalah silahul mukmin senjata orang beriman, do’a merupakan ibadah yang sangat mulia dalam islam, do’a merupakan permohonan hamba kepada Alloh WT. do’a merupakan petunjuk hidup terhadap kebutuhan manusia baik urusan dunia maupun ahirat. Rosululloh mengajarkan berbagai petunjuk hidup banyak sekali melalui do’a do’a, salah satu do’a Rosululloh yang mengandung permohonan hajat hidup manusia baik untuk kehidupan dunia maupun ahirat adalah sebagai berikut : Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: ya Alloh aku memohon kepadaMu petunjuk , ketqwan, penjagaan, dan kecukupan. ( HR Muslim )

Do’a ini sangat pendek lafadznya, tetapi padat akan ma’nanya, inilah salah satu  kegungan Rosululloh SAW. yang diberi oleh Alloh SWT. Jawamiul Kaliim, yaitu kemampuan untuk berkata yang pendek tetapi padat dan luas ma’nanya.

Dalam do’a ini Rosululloh mengajarkan kepada umatnya agar selalu memohon kepada Alloh akan empat hal, karena empat hal ini merupakan hajad hidup manusia yang sangat asasi baik didunia maupun diahirat nanti. Yaitu ( Al Huda, al Tuqoo , al Afaaf dan al Ghina )

1 . AL HUDA: artinya petunjuk yang sempurna dari Alloh untuk membimbing perjalanan hidup yang luas dan beragam.  Imam As Sa’di mengatakan : Al Huda adalah ilmu yang bermanfaat dan pemahaman terhadap dinul islam yang benar, karena itu Al Huda merupakan sumber kebaikan dalam hidup manusia, dari sini seorang dikatakan mendapat hidayah manakala ia beriman berilmu dan beramal berdasarkan ilmu syar’i yang benar.

Jadi tidak benar kalau ada orang tiba tiba mendapat hidayah tanpa melalui proses ilmu syar’i yang benar, bahkan wahyu pertama kali yang diturunkan oleh Alloh adalah tentang Ilmu dan prosesnya. Jalan kebaikan manusia dunia dan ahirat adalah ilmu, maka kita diprintah untuk memohon hidayah disetiap rokaat dalam sholat karena hidayah itu melalui proses ilmu.

2 . AT TUQOO :artinya Ketaqwaan yang tanpa batas yang menyeluruh dalam setiap lini kehidupan, dalam upaya melaksanakan printah Alloh dan menjauhi laranganNya. Imam As Sa’di mengatakan :  At Tuqoo  adalah amal sholeh, dalam bentuk menjalankan printah dan menjauhi larangannya. Maka dua hal  ( Al Huda dan At Tuqoo ) jika digabung akan terwujudlah kebaikan dalam beragama seseorang. Karena hakekat Agama adalah ilmu yang bermanfaat dan pemahaman terhadap islam yang benar namanya  Al Huda.  lalu melaksanakan ketaatan terhadap Alloh dan Rosulnya secara menyeluruh namanya  At Tuqoo.

Al Huda dan At Tuqoo didahulukan  dalam do’a ini karena ini merupakan kebutuhan mutlaq hidup seorang mu’min, untuk meraih petunjuk hidup yang mesti dibutuhkan manusia dalam upaya meraih perbekalan yang menyeluruh baik dunia maupun ahirat.

At tuqoo / ketaqwaan adalah benteng hidup manusia. dalam perjalanan hidup ini tidak mungkin lepas dari godaan dan ujian yang semakin hari semakin deras dan berat, maka jika tidak memiliki benteng yang kuat yaitu taqwa ( perasaan takut kepada Alloh yang benar benar )  haqqo tuqotih maka akan mudah tergoyah dan larut dalam kehidupan yang jauh dari nilai nilai kebenaran.

3 . AL AFAAF  : artinya keterjagaan, yaitu terjaganya diri dari melakukan hal hal yang dilarang oleh agama. Dalam akhlakul karimah kita kenal istilah  IFFAH. Secara bahasa, ‘iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33)

Termasuk dalam makna ‘iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Allahberfirman:      يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena merekata’affuf(menahan diri dari meminta-minta kepada manusia).(Al-Baqarah: 273)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada RasullahTidak ada seorang pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah melainkan beliau berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau. Rasulullah pun bersabda kepada mereka ketika itu:

مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لا أدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّه مَنْ يَسْتَعِفّ يُعِفّه اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرُ يُصَبِّرَهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.(HR. Al-Bukhari)

4. AL GHINA:artinya kekayaan, yaitu kekayaan hati yang sempurna sehingga tidak merasa bergantung dan mengharap apa yang ada ditangan manusia, akan tetapi hanya  bergantung dan berharap apa yang ada ditangan Alloh SWT. karena Alloh adalah dzat al ghoni

Alghina adalah hati yang selalu merasa qonaah atas pemberian Alloh SWT, yang menjadikan hidup tenang, tidak mudah tergoda oleh keadaan seperti apapun, karena ia tidak banyak berharap kecuali hanya kepada Alloh SWT,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari )

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Rasulullah berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. )

Maka dengan Al Afaaf dan Al Ghina ini sempurnalah kebahagiaan manusia didunia dan ahirat. inilah kehidupan yang disebut hayatan thoyiba. Karena barang siapa yang diberi rizqi Alloh al huda, at tuqoo, al afaaf dan al ghina ia telah mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan dunia dan ahirat

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim )

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah )