Din Syamsuddin Resmikan Gedung Dakwah Muhammadiyah Karanganyar

0
737

KARANGANYAR – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, MA, bersama Bupati Karanganyar, Rina Iriani, Senin (1/7), meresmikan Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar. Peresmian gedung dakwah yang pembangunannya menghabiskan dana hingga tujuh miliar lebih tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti. Dana pembangunan tersebut merupakan sumbangan dari amal usaha Muhammadiyah, yakni RS PKU Muhammadiyah Papahan, Karanganyar, yang sekarang sudah menjadi rumah sakit terbesar di Lereng Lawu tersebut.
“Saya sangat bahagia, artinya antara amal usaha Muhammadiyah dan persyarikatan sudah berjalan seiring. Ini yang diharapkan, setelah selama ini ada kesan saling mengecilkan satu dengan yang lain,” ungkap Din Syamsudin. Din bahkan berjanji akan menggunakan gedung dakwah dua lantai yang megah tersebut menjadi arena Sidang Tanwir 2014 mendatang. Menurutnya, dengan gedung besar tersebut peserta sidang tanwir dari seluruh Indonesia bisa terwadahi seluruhnya. “Kalau untuk muktamar memang belum, namun Sidang Tanwir saya kira sangat mampu. Saya percaya Karanganyar bisa menjadi tuan rumah yang baik, sehingga nanti akan kami usulkan pelaksanaannya di tempat ini,” papar Din Syamsuddin.
Din menjelaskan bahwa Sidang Tanwir merupakan sidang pendahuluan pra-muktamar, yang Isinya pencerahan bagi para pimpinan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia, untuk membuat program yang baik di masing-masing daerah dan juga tingkat pusat. “Kalau organisasi lain menamakan rakernas, rapat konsolidasi atau apapun, Muhammadiyah punya istilah sendiri, Sidang Tanwir. Tanwir dari asal kata nur, sinar atau cahaya, sehingga Sidang Tanwir merupakan pencerahan semua pimpinan persyarikatan,” jelas Din.
Dalam kesempatan tersebut, Din juga berharap sesuai dengan tema pokok yang dihasilkan muktamar di Yogyakarta, yakni maju bersama Amal Usaha Muhammadiyah, maka persayrikatan dan amal usaha harus berjalan seiring. Din menjelaskan bahwa amal usaha didirikan dan dirintis oleh pimpinan persyarikatan, dan selanjutnya diserahkan kepada professional untuk dikembangkan. Misalnya rumah sakit, koperasi, toko serba ada, dan termasuk sekolah yang dikelola secara mandiri dan professional. “Namun seiring perjalanan waktu, sering amal usaha merasa direcoki pimpinan persyarikatan, ketika diminta untuk menyumbang guna keperluan persyarikatan. Ini namanya kacang lupa kulitnya. Sebab keberadaan amal usaha itu didirikan oleh persyarikatan. Jadi wajar kalau persyarikatan meminta bantuan,” tegas Din.
Sebagai awal, gedung tersebut sudah digunakan untuk menggelar Diklat Kepanduan tingkat nasional selama dua hari, dihadiri pimpinan Kepanduan Hisbul Wathon Uyun Syamsudin dan Mayjen Purn Muchdi PR. (Fakhrudin/suaramerdeka.com)