BERSAHABAT DENGAN LAPAR

0
291

Oleh Hayati Nufus
Ketua Ranting Aisyiyah Karangrejo Kerjo, Karanganyar

SAYA berpikir kadang pria itu makhluk yang terlalu rasional dan minimalis dalam menggunakan perasaan, hal itu terjadi ketika saya mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan saat mengikuti acara reuni dengan teman-teman SMA.

Setelah sekian puluh tahun kami tidak bertemu reuni menjadi momen istimewa dan sarat dengan kegembiraan. Semua orang tampak riang, bahagia dan penuh tawa saling melepas rindu satu sama lain. Pun hal itu terjadi pada saya sampai ada seorang teman pria menyapa, “Hai Hayati apa kabar?” “Wah sekarang tambah gemuk ya?” Saya tertegun dan hanya mampu tersenyum menanggapi sapaan itu, entah mengapa ada perasaan tidak nyaman yang membuat mood jadi berubah. Keriangan yang tadi berpendar di hati perlahan meredup, reuni yang awalnya menjadi ajang sukacita bersilaturahmi dengan teman lama menjadi acara panjang dan membosankan bagi saya.

Buat wanita memiliki tubuh langsing, wajah cantik awet muda tentu adalah idaman sehingga untuk urusan yang satu ini sering membuat perasaan mudah sensi. Saya pernah mengikuti pola diet Tya Subiakto dalam menurunkan berkilo-kilo gram berat tubuhnya dengan rutin mengkonsumsi lima gelas jus di pagi hari, namun saya tidak mampu bertahan lama mengikutinya. Kemudian mencoba cara Dewi Hughes dengan diet kenyangnya itu pun tidak dapat saya lakukan maksimal. Sebenarnya saya sudah mulai merutinkan puasa sunnah senin-kamis sejak dahulu tapi berat tubuh tidak kunjung turun signifikan.

Ramadhan lalu saya bertemu dengan seorang dokter pegiat dakwah JSR (jurus sehat ala Rosul) di medsos namanya dr. Zaidul Akbar saya belajar darinya bagaimana merubah paradigma tentang kesehatan tubuh. Ada nasehat sang dokter yang ia kutip dari quote Dr. Umar Faruq Abdullah, nasehat itu sangat menarik dan menantang walaupun berkali-kali saya gagal saat mempraktekannya, Hunger is the first element of self discipline if you can control what you eat and drink, you can control everything else.

Quote ini menyisakan rasa penasaran dalam diri saya dan menjadi dorongan yang kuat untuk mencari jawabannya. Benarkah bila kita mampu mengontrol keinginan makan dan minum, kita mampu mengendalikan hal lain dalam hidup?

Tabiat dasar manusia cenderung menyukai kesenangan dan menghindari penderitaan, makan-minum adalah salah satu kesenangan yang digandrungi manusia dan lapar adalah penderitaan yang acap kali dihindarinya.

Saya teringat nasehat kondang yang sering disenandungkan banyak orang yaitu syair tombo ati. Lima resep yang dianjurkan untuk mengobati hati salah satunya adalah dengan sering melaparkan perut atau dalam syairnya kudu weteng ingkang luwe.

Lapar adalah ujian paling dasar bagi kita untuk menjadi manusia yang berdisiplin. Disiplin erat kaitannya dengan kemampuan pengendalian diri seseorang dalam menahan keinginan dan mentaati aturan. Menurut penulis ketika seseorang belajar mendisiplinkan diri dengan menahan dorongan alam bawah sadarnya sebenarnya ia sedang berpuasa. As-shoum atau puasa dalam bahasa ilmu fiqh adalah al imsak artinya menahan. Kewajiban puasa ditegaskan dalam Al-Quran Qs. Al Baqoroh 2:183. Kemampuan menahan diri dan mengendalikan keinginan sahwat adalah keterampilan tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah selesai dengan kebutuhan primitifnya yaitu makan, minum dan kebutuhan biologis lainnya. Artinya mereka adalah orang-orang yang hanya sedikit makan-minum dan lebih banyak melaparkan diri atau puasa. Maka tidak heran jika seseorang mampu berpuasa dengan benar sesuai tuntunan syariat ia layak menyandang gelar muttaqin. Menjadi manusia yang bertaqwa adalah cita-cita tertinggi yang berusaha diraih oleh setiap individu yang beriman.

Belajar dari Al Quran surat Al Fatihah Qs. 1:6-7, pada ayat itu doa dan permohonan kita pada Allah adalah agar Ia menunjukkan pada kita jalan yang lurus (shirothol mustaqim) yaitu jalan orang-orang terdahulu yang telah Allah beri nikmat. Tafsir Ibnu Katsir menerangkan bahwa Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang makna ayat itu adalah jalan orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka berupa ketaatan dan peribadatan kepada-Nya, yaitu para nabi-Nya, para sidiqqin, para syuhada dan orang-orang saleh. Belajar keteladanan dari sejarah orang-orang yang diberi nikmat di atas kita akan menemukan benang merah yang menghubungkan mereka satu sama lain di jaman apapun mereka hidup. Karakteristik orang-orang yang diberi nikmat adalah stamina yang kokoh dalam meretas jalan penuh kesulitan dan penderitaan dengan kesabaran, mereka banyak menahan diri dari kesenangan dan kenikmatan hidup karena takut dan taatnya pada Allah. Melaparkan diri adalah pakaian mereka sehari-hari seperti yang sudah diteladankan oleh role model kita Rosulullah SAW. Sepanjang hidup Rosul adalah orang yang tidak pernah membiarkan dirinya kenyang maupun kekenyangan. Pituturnya dalam sebuah hadits layak kita ikuti, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut, Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika harus (melebihkannya) hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas.”(Hr. At-Tirmidzi).

Menurut dr. Zaidul Akbar menjadi langsing dan sehat bukan tujuan dari upaya kita mengurangi makan dan minum melainkan tujuan utamanya adalah mentaati perintah Allah dan RosulNya. Banyak melaparkan diri sangat baik untuk kesehatan jasmani maupun ruhani kita, ada proses repairing berkesinambungan dalam tubuh bila kita konsisten melakukannya. Jika kita membiasakan diri berpuasa atau menyedikitkan makan dan minum maka akibatnya fungsi tubuh kita akan kembali normal seimbang dan menjadi sehat, langsing serta bahagia adalah buah dari ketaatan kita pada Allah. Bersahabat dengan lapar lebih mendekatkan diri kita pada ketaatan karena itulah jalan orang-orang bertaqwa. Wallahu a’lam.

______
Kerjo, 11 Rabiul Akhir 1441 H