Ustadz Reza Prima Matondang: Teladan Ibrahim – Ismail untuk Era Milenial

0
646

PWMJATENG.COM, KENDAL – Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah patut dijadikan contoh dalam kehidupan keluarga dalam memberikan edukasi. Esensi dari menyembelih anak tercinta, Ismail oleh sang ayah, Ibrahim yang terinspirasi dari mimpi kebenaran yang datangnya dari Allah justru tidak membuat kedua Rasul itu surut, sedih, dan takut akan kehilangan salah satu anggota keluarga Ibrahim adalah sebuah kesabaran yang tidak terbatas ujungnya, justru sang Ismail mohon kepada ayahnya untuk tidak menunda – nunda dalam melaksanakan perintah Allah tersebut. “ Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau pasti mendapatiku insya Allah termasuk orang yang sabar”. Jawaban tegas ismail adalah bukti akan kesabaran untuk taat kepada seluruh aturan dan kehendak Illahi, sekalipun itu pahit dan getir.

Pantaslah Ismail disebut shadiqul wa’di, orang yang menepati janji, karena begitu pisau dihadapkan kepadanya, tepat di atas pelipihnya, Ismail tetap kokoh  tidak bergeming apalagi mundur. Demikian petikan khutbah Iedul Adha 1439 H, Rabu (22/8) di lapangan desa Sambongsari, Weleri yang disampaikan oleh Ustadz Reza Prima Matondang. Di hadapan ribuan jamaah sholat Iedul Adha, anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah tersebut melanjutkan, setelah keduanya berserah diri penuh dengan kepasrahan dan patuh dengan secara total dengan syariatNya, maka “ Nyatalah kesabaran keduanya “. Makna kata ‘tallahu lil jab’in adalah merebahkannya dengan wajah yang tengkurap untuk penyembelihan yang segera dilakukan dari tengkuknya dan agar Ibrahim tidak melihat wajahnya menyembelihnya, karena cara ini lebih meringankan bebannya.

Kisah nyata Ibrahim dan Ismail dalam pengorbanan, kesabaran dan keteguhan dalam melaksanakan perintah Allah itu menurut Ustadz Reza berbuah manis, diganjar dengan balasan terbaik, “ Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “. Untuk meneruskan kurban, Allah mengganti Ismail dengan seekor sembelihan berupa kambing kibasy. Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pad Iedul Adha. Rangkaian kisah ke dua Rasul itu memberi pelajaran penting kepada kita, di era milenial jiwa sabar ketika mendapat cobaan pengorbanan oleh Allah dalam mencari ridhoNya sangat penting. Sebagai da’i, mubaligh, dan aktifis yang menyeru kepada ummat untuk taat kepada Allah. Dan adakalanya ujian tersebut datang dari orang – orang di sekitar, orang terdekat kita seperti anak, istri. Semua ujian itu bertujuan sebagai bukti bahwa Allah lebih dicintai dari apapun.

Ditambahkan oleh Ustadz Reza, pengoraban di jalan Allah tidak harus bermakna nyawa, dan harta. Sejarah Islam mencatat banyak kesatria yang mengorbankan jiwanya dan para dermawan yang mengorbankan hartanya fii sabilillah, karena Allah telah memberi kabar terbaik bagi mereka.

Terpisah, sekretaris Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PDM Kendal, H. Muntoha, S.Km, M.Kes dalam khutbah Iedul Adha di halaman SD Kebonagung, Ngampel mengatakan esensi Kurban dan korban memiliki makna berbeda. “ Kurban bermakna penyembelihan hewan korban yang memancarkan darah sebagi simbol merealisasikan iman dan taqwa kepada Allah. Korban belum tentu berorientasi pada pendekatan kepada Allah, tetapi memiliki tujuan lain, banyak orang berkorban harta benda tetapi sia – sia, tidak mendapat ridho Allah, kecuali urusan keduniaan. Tidak sedikit orang berani berkorban, nyawa sebagai taruhannya untuk mendapatkan harta, perampok, begal dan pencuri adalah contohnya “ katanya.

Sholat Iedul Adha 1439 H yang digelar oleh warga Muhammadiyah di Kendal terdapat di 87 titik yang tersebar di tanah lapang, seperti di stadion madya lama Kendal imam dan khatib Rahmat Arif, S.HI, MA, di halaman SD Muh Purin menghadirkan Wakil Rektor UNISSULA, H.M. Qomarudin M.Sc, Ph.D, di halaman SKB Cepiring bertindak sebagai imam dan khatib, wakil ketua PDM Kendal, Drs. H. Moh. Zabidi, ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kendal, Ustadz H. Mahtum Ali Samhari berkhutbah di lapangan desa Ngadibolo, Boja, dan di lapangan Jatipurwo, Rowosari bertindak sebagai khatib Dr. H. Tamzis dari Jakarta.

Terkait dengan hewan kurban Iedul adha 1439 H yang dikelola oleh PCM, PRM, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Kab. Kendat menurut catatan Lazismu Kendal terdapat sekitar 168 ekor sapi dan 128 kambing.

“ Kami punya program daging sapi kurban for 1000 rendang kaleng. Program ini sebagai bentuk kepedulian kami kepada para mustahiq di daerah yang membutuhkan untuk waktu mendatang “ kata ketua kantor layanan Lazismu Daerah Kendal, Agus Wahyudi. Menurut Agus yang dibutuhkan adalah daging sapi sesuai keputusan rapat bersama. (Abdul Ghofur/MPI Kendal)