Tata Cara Wudhu Menurut Tarjih Muhammadiyah

Wudhu bukan sekadar membasahi anggota tubuh. Ia merupakan cara bersuci yang dituntunkan sebelum salat, dengan anggota, batas basuhan, dan urutan yang perlu diperhatikan. Karena itu, praktik wudhu sebaiknya dikembalikan kepada Al-Qur’an, hadis sahih, serta penjelasan yang telah dihimpun dalam tuntunan Tarjih.
Panduan ini menyajikan tata cara wudhu secara ringkas: mana tindakan yang disebut langsung dalam Al-Qur’an, mana yang menerangkan kesempurnaan wudhu Nabi, berapa kali basuhan dilakukan, dan bagian mana yang kerap terlewat.
Ringkasan Tata Cara Wudhu
Urutan wudhu menurut tuntunan Tarjih ialah berniat ikhlas dan membaca basmalah; mencuci telapak tangan; berkumur serta menghirup air ke hidung; membasuh wajah; membasuh tangan sampai siku; mengusap seluruh kepala sekali beserta telinga; membasuh kaki sampai mata kaki; lalu membaca syahadat. Dasar pokoknya ialah QS. Al-Maidah ayat 6, sedangkan perinciannya mengikuti hadis Nabi dan Putusan Tarjih.[1][2]
Secara praktis, urutannya sebagai berikut:
- Siapkan air yang bersih dan dapat digunakan untuk bersuci.
- Niatkan wudhu karena Allah, lalu baca basmalah.
- Cuci kedua telapak tangan, kemudian berkumur dan hirup air ke hidung.
- Basuh wajah dan kedua tangan sampai siku.
- Usap seluruh kepala satu kali, lalu usap kedua telinga.
- Basuh kedua kaki sampai mata kaki.
- Setelah selesai, baca syahadat yang dituntunkan.
Dalil dan Kedudukan Wudhu
Dasar utama wudhu terdapat dalam firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah (5): 6).[1]
Ayat tersebut menyebut empat tindakan pokok: membasuh wajah, membasuh tangan sampai siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki sampai mata kaki. Hadis kemudian menjelaskan cara Nabi melaksanakannya secara lebih lengkap.
Dalam riwayat Humran, Utsman bin Affan memperagakan wudhu Rasulullah.
أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ، فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ، وَاسْتَنْشَقَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا، وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مِرَارٍ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Humran melihat Utsman bin Affan meminta sebuah bejana berisi air. Utsman kemudian menuangkan air pada kedua telapak tangannya dan membasuhnya tiga kali. Setelah itu, ia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana, lalu berkumur dan menghirup air ke hidung. Selanjutnya, ia membasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua tangannya sampai siku tiga kali, mengusap kepalanya, kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kaki tiga kali.” (HR. al-Bukhari no. 159).[3]
Riwayat ini memperlihatkan bahwa praktik wudhu Nabi tidak hanya mencakup empat anggota yang disebut dalam QS. Al-Maidah ayat 6. Terdapat pula pencucian telapak tangan, berkumur, dan menghirup air ke hidung sebagai bagian dari rangkaian wudhu yang sempurna.
Tindakan Pokok dan Wudhu yang Sempurna
QS. Al-Maidah ayat 6 menyebut empat anggota yang harus dikenai air atau usapan ketika berwudhu, yaitu wajah, tangan sampai siku, kepala, dan kaki sampai mata kaki. Adapun hadis Nabi menerangkan cara pelaksanaannya secara lebih lengkap, mulai dari niat dan basmalah, mencuci telapak tangan, berkumur, membersihkan hidung, hingga membaca doa setelah wudhu.[2][3]
Dengan memahami dasar tersebut, setiap gerakan wudhu dapat ditempatkan secara tepat. Ada yang disebut langsung dalam Al-Qur’an dan ada pula yang dijelaskan melalui praktik Nabi. Keduanya membentuk panduan yang utuh sebagaimana dihimpun dalam tuntunan Tarjih.
Urutan Wudhu Menurut Tarjih Muhammadiyah
Tabel berikut menjadi panduan cepat. Istilah pada kolom “kedudukan” menunjukkan asal tuntunan—bukan penetapan hukum baru di luar sumber yang dirujuk.
| Urutan | Gerakan | Cara melakukan | Jumlah | Kedudukan dan dasar |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Niat dan basmalah | Hadirkan maksud berwudhu karena Allah, lalu baca bismillāh | Sekali di awal | Pembuka dalam tuntunan Tarjih [2] |
| 2 | Mencuci telapak tangan | Ratakan air pada kedua telapak dan sela jari | Tiga kali | Praktik Nabi dalam hadis Utsman [3] |
| 3 | Berkumur dan menghirup air | Masukkan air ke mulut dan hidung, lalu keluarkan | Tiga kali | Praktik hadis; dirinci dalam tuntunan Tarjih [2][3] |
| 4 | Membasuh wajah | Ratakan air pada seluruh batas wajah | Satu, dua, atau tiga kali | Disebut dalam QS. 5:6; dicontohkan tiga kali [1][3][6][7] |
| 5 | Membasuh tangan sampai siku | Basuh tangan kanan, kemudian kiri, dengan menyertakan siku | Satu, dua, atau tiga kali | Disebut dalam QS. 5:6; dicontohkan tiga kali [1][3][6][7] |
| 6 | Mengusap kepala dan telinga | Usap seluruh kepala dari depan ke belakang lalu kembali; usap telinga dalam rangkaian yang sama | Satu kali | QS. 5:6; hadis Abdullah bin Zaid dan Abdullah bin Amr [1][4][5] |
| 7 | Membasuh kaki sampai mata kaki | Basuh kaki kanan lalu kiri, termasuk mata kaki dan sela jari | Satu, dua, atau tiga kali | Disebut dalam QS. 5:6; dicontohkan tiga kali [1][3][6][7] |
| 8 | Membaca doa setelah wudhu | Baca syahadat setelah selesai | Sekali | HR. Muslim no. 234a [9] |
1. Niat dan Membaca Basmalah
Niat adalah kesengajaan hati untuk berwudhu karena Allah. Tuntunan Tarjih menempatkan niat ikhlas bersama bacaan basmalah pada awal wudhu, tetapi tidak menetapkan satu lafal Arab tertentu sebagai syarat sah.[2][11] Dengan demikian, orang yang hendak berwudhu tidak harus mengucapkan bacaan niat tertentu. Setelah berniat, bacalah bismillāh sebelum mulai berwudhu.
2. Mencuci Telapak Tangan, Berkumur, dan Membersihkan Hidung
Cuci kedua telapak tangan tiga kali. Pastikan air mencapai sela-sela jari, terutama jika tangan baru dipakai memegang benda yang dapat menghalangi air.
Setelah itu, berkumurlah serta hirup air ke hidung dan keluarkan kembali sampai tiga kali. Air dapat diambil dengan satu cidukan untuk mulut dan hidung, sebagaimana riwayat Abdullah bin Zaid yang dicantumkan dalam materi Tarjih.[2] Ketika berpuasa, jangan menghirup air terlalu kuat agar tidak tertelan.[2]
3. Membasuh Wajah
Basuh seluruh wajah dengan meratakan air. Untuk memeriksa cakupannya, perhatikan area dari batas tumbuh rambut yang wajar sampai bagian bawah dagu, serta dari sisi telinga yang satu ke sisi lainnya. Kumis, lipatan di sekitar hidung, dan bagian tepi wajah jangan dibiarkan kering.
Wajah boleh dibasuh sekali, dua kali, atau tiga kali. Nabi diriwayatkan pernah membasuh anggota wudhu sekali-sekali dan dua kali-dua kali, sedangkan hadis Utsman memperagakan tiga kali.[3][6][7] Karena itu, tiga basuhan merupakan bentuk yang dicontohkan, bukan alasan untuk terus menambah basuhan tanpa kebutuhan.
4. Membasuh Kedua Tangan sampai Siku
Basuh tangan kanan terlebih dahulu, kemudian tangan kiri. Air harus merata dari ujung jari hingga siku. Jangan berhenti tepat sebelum siku karena bagian tersebut termasuk anggota yang harus dibasuh sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Maidah ayat 6.[1]
Perhatikan pula sela-sela jari dan bagian kulit yang tertutup cincin, jam tangan, atau aksesori lainnya. Longgarkan atau lepaskan benda tersebut jika menghalangi sampainya air. Cat, lem, maupun lapisan tebal yang menutupi kulit juga perlu dibersihkan sebelum berwudhu.
5. Mengusap Seluruh Kepala dan Kedua Telinga
Basahi kedua tangan, lalu usapkan pada kepala satu kali. Hadis Abdullah bin Zaid menerangkan bahwa Nabi memulai dari bagian depan kepala, menjalankan kedua tangan sampai tengkuk, kemudian mengembalikannya ke tempat semula.[2][4]
Yang dilakukan adalah mengusap seluruh kepala, bukan hanya menyentuh sedikit rambut di bagian depan. Sesudah itu, usap bagian dalam kedua telinga dengan jari telunjuk dan bagian luarnya dengan ibu jari. Cara mengusap telinga ini bersumber dari riwayat Abdullah bin Amr dalam Sunan Abi Dawud no. 135.[2][5]
Kepala dan telinga diusap sekali. Keduanya tidak dibasuh tiga kali seperti wajah, tangan, dan kaki.
6. Membasuh Kedua Kaki sampai Mata Kaki
Basuh kaki kanan, kemudian kaki kiri, dengan menyertakan kedua mata kaki. Alirkan air ke sela jari dan periksa tumit serta sisi telapak yang sering luput. Peringatan Nabi tentang tumit yang tidak terkena air menunjukkan bahwa meratakan basuhan bukan perkara sepele.[8]
Kaki dapat dibasuh sekali, dua kali, atau tiga kali sebagaimana anggota basuhan lainnya.[3][6][7] Yang utama bukan banyaknya air, melainkan sempurnanya cakupan. Jika basuhan pertama sudah merata, jangan mengubah tiga kali basuhan menjadi pemborosan.
Berapa Kali Anggota Wudhu Dibasuh?
Hadis sahih menunjukkan variasi satu, dua, dan tiga kali. Al-Bukhari meriwayatkan Nabi berwudhu sekali-sekali (no. 157), dua kali-dua kali (no. 158), dan melalui hadis Utsman tiga kali untuk anggota yang dibasuh (no. 159).[3][6][7]
| Anggota | Jumlah | Catatan praktis |
|---|---|---|
| Wajah, tangan, dan kaki | Satu, dua, atau tiga kali | Setiap basuhan harus merata; tiga kali tidak berarti wajib |
| Kepala | Satu kali usapan | Gerakkan tangan dari depan ke belakang lalu kembali |
| Telinga | Satu kali usapan | Diusap dalam rangkaian setelah kepala |
Dengan demikian, wudhu satu kali basuhan tetap memiliki dasar. Tiga kali adalah bentuk kesempurnaan yang banyak dipraktikkan Nabi, sedangkan kepala tetap diusap satu kali menurut tuntunan yang digunakan.[2]
Bagian yang Harus Terkena Air dan Kesalahan yang Perlu Dihindari
Kesempurnaan wudhu ditentukan oleh sampainya air atau usapan pada anggota yang dituntunkan, bukan oleh derasnya keran. Pemeriksaan singkat berikut lebih berguna daripada mengulang basuhan karena ragu.
| Bagian | Periksa | Kesalahan yang kerap terjadi |
|---|---|---|
| Wajah | Tepi wajah, sekitar hidung, bawah bibir dan dagu | Air hanya mengenai bagian tengah wajah |
| Tangan | Siku, sela jari, area cincin atau jam | Berhenti sebelum siku atau ada lapisan penghalang |
| Kepala | Seluruh kepala dari depan ke belakang dan kembali | Hanya mengusap poni atau sebagian kecil kepala |
| Telinga | Bagian dalam dan luar daun telinga | Mengusap telinga tiga kali atau melewatkannya tanpa memahami tuntunannya |
| Kaki | Mata kaki, tumit, sela jari dan sisi telapak | Tumit atau mata kaki tetap kering |
Jaga urutan agar setiap langkah mudah diperiksa. Tidak perlu menyediakan doa khusus untuk setiap anggota wudhu. Daftar bacaan semacam itu tidak terdapat dalam sumber tuntunan Tarjih yang dipakai dalam artikel ini, sehingga tidak semestinya dinisbatkan sebagai bacaan wudhu yang baku.[2][11]
Doa dan Amalan Setelah Wudhu
Setelah selesai berwudhu, bacalah syahadat sebagaimana diajarkan Rasulullah saw:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Muslim no. 234a).[9]
Hadis tersebut menyebut keutamaan dibukakannya delapan pintu surga bagi orang yang menyempurnakan wudhu lalu membaca syahadat itu.[9]
Seseorang juga dapat mengerjakan dua rakaat setelah berwudhu. Muhammadiyah.or.id menjelaskannya sebagai salat sunah wudhu dengan dasar hadis Bilal.[10]
Hal yang Membatalkan Wudhu
Mengetahui cara wudhu perlu dilengkapi dengan kemampuan menjaga wudhu. Tuntunan Thaharah Majelis Tarjih dan Tajdid merangkum pembatal berupa keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, hubungan seksual, menyentuh kemaluan, serta tidur nyenyak dalam keadaan berbaring.[11] Kedudukan setiap keadaan dan dalilnya memerlukan penjelasan tersendiri, terutama untuk kasus yang sering diperselisihkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah setiap anggota wudhu wajib dibasuh tiga kali?
Tidak. Hadis sahih menunjukkan basuhan satu, dua, dan tiga kali.[3][6][7] Yang tidak boleh diabaikan ialah meratakan air pada anggota yang dibasuh. Kepala diusap satu kali.
Apakah kepala cukup diusap sebagian?
Tuntunan Tarjih mengarahkan usapan pada seluruh kepala: dari bagian depan menuju tengkuk, lalu dikembalikan ke posisi awal.[2][4]
Bagaimana cara mengusap telinga?
Usap bagian dalam telinga dengan jari telunjuk dan bagian luarnya dengan ibu jari, satu kali setelah mengusap kepala.[2][5]
Apakah niat wudhu harus dilafalkan dalam bahasa Arab?
Sumber Tarjih yang digunakan menekankan niat ikhlas dan tidak menetapkan satu lafal Arab tertentu sebagai syarat.[2][11] Niat adalah maksud sadar untuk berwudhu karena Allah.
Apakah cat kuku atau lem memengaruhi wudhu?
Jika lapisannya menghalangi air menyentuh bagian yang wajib dibasuh, lapisan itu perlu dihilangkan sebelum wudhu. Prinsipnya, perintah membasuh baru terlaksana ketika air mencapai anggota tersebut.[1]
Adakah doa khusus saat membasuh setiap anggota?
Tidak ada daftar doa per anggota dalam sumber tuntunan Tarjih yang dirujuk. Bacaan yang dicantumkan setelah wudhu ialah syahadat berdasarkan hadis sahih.[2][9][11]
Penutup
Tata cara wudhu yang benar memadukan empat tindakan pokok dalam QS. Al-Maidah ayat 6 dengan perincian praktik Nabi yang dihimpun dalam tuntunan Tarjih. Lakukan setiap gerakan sesuai batas anggotanya, gunakan jumlah basuhan yang memiliki dasar, usap seluruh kepala sekali, dan hindari bagian yang masih kering. Ketelitian seperti ini membuat wudhu sederhana, tertib, dan sesuai tuntunan.
Referensi:
- Kementerian Agama Republik Indonesia. “Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Maidah (5): 6.”
- Ali Yusuf, S.Th.I., M.Hum. Wudhu Menurut Putusan Tarjih. Materi Pengajian Tarjih, dimuat pada situs resmi Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah; merujuk Himpunan Putusan Tarjih, Kitab Thaharah, hlm. 45–74.
- Al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Wudhu, hadis no. 159, riwayat Humran dari Utsman bin Affan.
- Al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Wudhu, hadis no. 185, riwayat Abdullah bin Zaid tentang mengusap kepala.
- Abu Dawud. Sunan Abī Dāwūd, Kitab al-Thaharah, hadis no. 135, riwayat Abdullah bin Amr tentang mengusap telinga.
- Al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Wudhu, hadis no. 157, tentang wudhu satu kali basuhan.
- Al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Wudhu, hadis no. 158, tentang wudhu dua kali basuhan.
- Muslim. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Thaharah, hadis no. 241a, peringatan terhadap tumit yang tidak terkena air.
- Muslim. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Thaharah, hadis no. 234a, tentang syahadat setelah wudhu.
- Redaksi Muhammadiyah. “Shalat Sunnah Wudhu.” Muhammadiyah.or.id, 9 Agustus 2020.
- Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tuntunan Thaharah. Yogyakarta, 2015. Dokumen produk Musyawarah Tarjih tingkat wilayah; digunakan sebagai sumber pelengkap, bukan disamakan dengan putusan PP Muhammadiyah.



