Berita

Tata Cara Mandi Wajib yang Benar Menurut Fiqih, Ustadz Agus Arifin: Kunci Utama Syarat Sah Salat!

PWMJATENG.COMJEPARA — Ustadz Agus Arifin membeberkan panduan lengkap tata cara mandi wajib sesuai tuntunan syariat dalam Pengajian Rutin Kamis Malam Jumat di Masjid Al-Istiqomah Tahunan, Jepara, Kamis (27/8/2026). Langkah ini sangat krusial mengingat keabsahan ibadah seorang Muslim bergantung penuh pada kesucian diri dari hadas besar. Pemahaman mendalam terkait hal ini menjadi fondasi utama sebelum seseorang menjalankan ibadah harian.

Dalam tausiyahnya selepas salat Maghrib, Ustadz Agus menegaskan bahwa bersuci merupakan kunci pembuka utama ibadah. Beliau menyebut wudhu dan mandi bersih sebagai wasilah atau sarana menuju maqashid, yaitu pelaksanaan salat itu sendiri. Tanpa pemahaman bersuci yang benar, seorang Muslim berisiko membatalkan syarat sah salat yang mereka kerjakan setiap hari.

Ustadz Agus kemudian memperjelas urutan tata cara mandi wajib atau mandi janabah yang praktis dan sesuai sunnah. Langkah pertama memuat kewajiban membersihkan area kemaluan terlebih dahulu, lalu melanjutkannya dengan berwudhu secara sempurna. Setelah itu, guyur bagian kepala sebanyak tiga kali hingga membasahi pangkal rambut secara merata.

Selanjutnya, ratakan air ke seluruh permukaan tubuh dari atas hingga bawah tanpa ada bagian yang terlewat. Bagi perempuan berambut panjang yang terikat, Ustadz Agus menjelaskan bahwa mereka tidak wajib membuka ikatan tersebut. Hal terpenting tetap berpatokan pada tersampaikannya air ke bagian kulit kepala secara merata.

Perbedaan Hadas dan Najis yang Wajib Dipahami Jamaah

Selain mengupas tata cara mandi wajib, Ustadz Agus menekankan pentingnya memahami perbedaan hadas dan najis. Najis merupakan benda kotor menurut syariat yang menempel pada badan, pakaian, atau tempat ibadah. Sementara itu, hadas merujuk pada status hukum seseorang setelah mengalami kondisi tertentu yang mengharuskan proses bersuci.

Kategori najis sendiri terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu mukhaffafah (ringan), mutawassithah (sedang), dan mughaladhah (berat). Contoh najis berat meliputi jilatan anjing yang membutuhkan cara mensucikan najis mughaladhah khusus, yakni membasuh wadah sebanyak tujuh kali dengan salah satunya memakai tanah. Pemahaman tingkatan ini mencegah kekeliruan masyarakat saat membersihkan pakaian atau tempat salat.

Ustadz Agus menambahkan bahwa penguasaan materi fiqih bersuci ini memegang peranan vital dalam kehidupan rumah tangga. Pengetahuan mengenai masa haid, nifas, madzi, hingga wadi merupakan ilmu dasar yang wajib diajarkan kepada generasi muda. Hal ini menjamin setiap anggota keluarga mampu menjalankan tata cara mandi wajib dengan tepat demi menjaga keabsahan ibadah mereka.

Kontributor: Muslim
Editor: Akmal

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/