Silaturahmi ke Kantor Muhammadiyah Jawa Tengah, Zulkifli Hasan Ajak Masyarakat Belajar ke Muhammadiyah

0
476

PWMJATENG.COM, SEMARANG – Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan, menyampaikan jika masyarakat ingin maju maka belajarlah ke Muhammadiyah. “Mau jadi mahasiswa, tidak perlu studi jauh-jauh, belajar saja di Muhammadiyah. Mau belajar berdemokrasi, belajarlah ke Muhammadiyah, karena di Muhammadiyah ketuanya dipilih secara bersama-sama, memilih 13 pimpinan dulu baru memilih ketua, sekretaris, bendahara. Mau belajar bertoleransi, belajarlah ke Muhammadiyah, karena pasien sakit di rumah sakit Muhammadiyah tidak akan ditanya agamanya apa, kampus Muhammadiyah di Papua juga mayoritas beragama non muslim”, papar Zulkifli Hasan. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Senin (24/9), di Jalan Singosari Raya No. 33 Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan juga mengajak Calon Wakil Presiden, Sandiaga Salahudin Uno, Calon Legislatif PAN wilayah Jawa Tengah, Yayuk Basuki, dan Jajaran Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Jawa Tengah. Kunjungan tersebut diterima Ketua PWM Jawa Tengah, Drs. H. Tafsir, M. Ag, beserta jajaran pimpinan majelis dan lembaga, organisasi otonom (ortom) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah.

Dihadapan puluhan kader Muhammadiyah Jawa Tengah, Zulkifli Hasan juga menyampaikan tujuan Muhammadiyah yang dituangkan dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi sangat sesuai dengan visi Indonesia. Saat mendengar keluhan pimpinan Muhammadiyah Jawa Tengah mengenai tunggakan BPJS di Rumah Sakit Muhammadiyah se-Jawa Tengah yang diperkirakan mencapai Rp 300 miliar, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa DPR sudah merapatkan dan menyiapkan pencairan dana 5 Triliun. Namun hal tersebut dirasa kurang oleh para pimpinan Muhammadiyah. Menyoroti kegagalan pemerintah dalam mengurus negara tersebut, Zulkifli Hasan meyakinkan warga Muhammadiyah untuk ganti kepemimpinan.

Ketua PWM Jawa Tengah, Drs. H. Tafsir, M. Ag,  menyambut baik silaturahmi politik dengan Sandiaga Uno dan Zulkifli Hasan tersebut. Namun berkaitan dengan pilihan politik pada pemilihan presiden tahun 2019 mendatang, Tafsir menegaskan Muhammadiyah tetap bersikap netral, tetapi warga Muhammadiyah tidak boleh netral dan harus memilih salah satu pasangan calon presiden. Oleh karena itu Tafsir tidak keberatan disaat momen silaturahmi tersebut beberapa pimpinan dan warga Muhammadiyah menyerukan ganti pemimpin, karena warga dan pimpinan Muhammadiyah memang dibebaskan memilih calon presiden.

Dalam momen tersebut, Tafsir mengklaim Muhammadiyah Jawa Tengah adalah Muhammadiyah yang terbesar se-Indonesia. “Muhammadiyah Jawa Tengah mempunyai 35 kota-kabupaten, 573 cabang, 4000 ranting, 700 SMP-SMA,  25 perguruan tinggi Muhammadiyah dengan mahasiswa mencapai 100 ribu, 30 pesantren, 1 BPRS dengan aset mencapai 103 miliar dan 42 rumah sakit Muhammadiyah di Jawa Tengah, tapi BPJS hutang ke Muhammadiyah hampir 300 miliar, di rumah sakit Roemani saja sudah mencapai 48 miliar hutang BPJS”, tegas Tafsir.

Tafsir juga menyampaikan walaupun BPJS berhutang hampir Rp 300 miliar ke rumah sakit Muhammadiyah se-Jawa Tengah, tapi lembaga amal zakat Muhammadiyah (Lazismu) mampu memberi bantuan sebesar Rp 4 miliar untuk membangun rumah sakit, hunian sementara dan sekolah-sekolah di NTB. Hal tersebut sesuai dengan semboyan bahwa di dalam bencana meninggalkan berkah, yaitu Muhammadiyah Jawa Tengah meninggalkan bantuan berupa rumah sakit yang dapat terus dipakai oleh warga ke depannya. Pola tersebut juga diterapkan saat PWM Jawa Tengah membangun rumah sakit Muhammadiyah di Padang Pariaman. (Nanang Fakhrudin)