Khazanah IslamKolom

Salam dalam Salat sampai “Wa Barakatuh”, Adakah Hadisnya?

Salam adalah penutup salat yang menjadi rukun menurut mayoritas ulama. Dengan salam, seorang muslim keluar dari salat dan kembali kepada aktivitas dunia. Lafaz salam yang diajarkan Rasulullah ﷺ memiliki makna mendalam: doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dalam praktiknya, bacaan salam dalam salat memiliki beberapa versi. Ada yang berhenti sampai wa rahmatullāh, ada pula yang menambahkan wa barakātuh. Perbedaan ini perlu diketahui supaya kita tidak mudah menyalahkan orang yang mengamalkan bacaan berbeda.

Lantas, apakah salam dalam salat sampai wa barakātuh memiliki dasar hadis?

Pandangan Fuqaha tentang Bacaan Salam dalam Salat

Ibnu Qudamah dalam Asy-Syarh al-Kabīr menjelaskan:

وجملة ذلك ان الافضل أن يقول السلام عليكم ورحمة الله لما ذكرنا من حديث ابن مسعود، وقد روى وائل بن حجر قال: صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه ” السلام عليكم ورحمة الله وبركاته – وعن شماله – السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ” رواه أبو داود، فان قال كذلك فحسن، والاول أحسن لكثرة رواته وصحة طرقه، فان قال السلام عليكم حسب فقال القاضي: يجزئه في ظاهر كلام أحمد ونص عليه في صلاة الجنازة وهو مذهب الشافعي لان النبي صلى الله عليه وسلم قال ” وتحليلها التسليم ” وهذا التسليم. (الشرح الكبير لابن قدامة) (1/ 591)

Kesimpulannya, yang lebih utama adalah mengucapkan “Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh”, sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu Mas‘ud.

Diriwayatkan pula dari Wā’il bin Hujr, ia berkata:

“Aku salat bersama Nabi ﷺ, maka beliau salam ke arah kanan dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’, dan ke arah kiri dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’.”

Riwayat tersebut dinisbatkan kepada Abu Dawud.

Jika seseorang mengucapkan salam dengan tambahan wa barakātuh, menurut penjelasan tersebut, hal itu baik. Namun, bacaan tanpa tambahan wa barakātuh dinilai lebih utama karena periwayatnya lebih banyak dan jalurnya lebih sahih.

Apabila seseorang hanya mengucapkan “Assalāmu ‘alaikum”, al-Qādhī menyatakan bahwa bacaan tersebut telah mencukupi menurut zahir perkataan Imam Ahmad. Imam Ahmad juga menegaskannya dalam salat jenazah.

Hal tersebut juga merupakan pendapat Imam al-Syafi‘i berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Dan yang menghalalkan (menyelesaikan) salat adalah salam.”

Dengan demikian, ucapan salam tersebut telah dianggap sah. (al-Syarh al-Kabīr karya Ibn Qudāmah, 1/591).

Bolehkah Menambahkan “Wa Barakatuh”?

Dalam al-Fiqh al-Muyassar (1/268) terdapat pembahasan mengenai hukum menambahkan lafaz wa barakātuh dalam salam salat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang lebih utama adalah tidak menambahkan lafaz wa barakātuh. Ini merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Ahmad (Hanbali), baik pada salam pertama maupun salam kedua.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa wa barakātuh dapat ditambahkan pada salam pertama, sedangkan pada salam kedua tidak ditambahkan.

Dalam keterangan tersebut dijelaskan bahwa tidak mengapa menambahkan lafaz wa barakātuh pada salam pertama karena terdapat riwayat dari Nabi ﷺ. Wā’il bin Hujr r.a. berkata:

“Aku salat bersama Nabi ﷺ, maka beliau salam ke arah kanan dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’, dan ke arah kiri dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh’.”

Namun, bacaan dengan tambahan wa barakātuh tidak dilakukan terus-menerus, melainkan sesekali. Sebab, Nabi ﷺ sendiri tidak selalu melakukannya. Riwayat yang hanya menyebut wa rahmatullāh juga lebih banyak periwayatnya dan jalurnya lebih sahih dibanding riwayat yang mencantumkan tambahan wa barakātuh.

[PERLU VERIFIKASI: identitas lengkap penulis dan edisi al-Fiqh al-Muyassar yang dirujuk perlu dicantumkan agar sumber 1/268 dapat dilacak pembaca.]

Catatan Al-Albani tentang “Wa Barakatuh”

Al-Albani memberi catatan:

وقال الألباني: وكان أحيانًا يزيد في التسليمة الأولى: “وبركاته” [رواه أبو داود بسند صحيح]، فالأولى الإتيان بهذه الزيادة أحيانًا؛ لأنَّها لم ترد في أحاديث أُخر، فثبت أنَّ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- لم يداوم عليها.

Al-Albani berkata:

“Kadang-kadang Nabi ﷺ menambahkan pada salam pertama lafaz ‘wa barakātuh’ (diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad sahih). Maka yang utama adalah sesekali mengucapkan tambahan ini, karena ia tidak disebutkan dalam hadis-hadis lain. Dengan demikian, terbukti bahwa Nabi ﷺ tidak selalu melakukannya secara terus-menerus.”

(Tawdīh al-Ahkām min Bulūgh al-Marām, 2/292).

Pandangan Tarjih Muhammadiyah tentang Salam “Wa Barakatuh”

Pandangan Muhammadiyah tentang salam dalam salat dalam naskah ini merujuk kepada Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Lafaz yang dianjurkan disebut:

“Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh”

Salam tersebut diucapkan ke kanan dan ke kiri sebagai penutup salat. Dengan demikian, Muhammadiyah menekankan kesempurnaan lafaz salam hingga wa barakātuh. Namun, jika salam berhenti sampai wa rahmatullāh, juga tidak menjadi masalah.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud terdapat keterangan bahwa Rasulullah ﷺ salam ke kanan sampai wa barakātuh, sedangkan ketika salam ke kiri hanya sampai wa rahmatullāh:

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ». وَعَنْ شِمَالِهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ».

Dari ‘Alqamah bin Wā’il, dari ayahnya, ia berkata:

“Aku pernah salat bersama Nabi ﷺ, maka beliau salam ke arah kanan dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh’, dan ke arah kiri dengan lafaz: ‘Assalāmu ‘alaikum wa rahmatullāh’.”

(Sunan Abī Dāwūd, ditahqiq dan diberi komentar oleh al-Albānī, 1/379). Riwayat serupa juga disebut terdapat dalam riwayat at-Thabrani, 8/463.

Hadis Wā’il bin Hujr tentang salam Nabi ﷺ dengan tambahan wa barakātuh tersebut dinilai sahih dan dapat diamalkan. Tambahan ini merupakan ziyādah al-thiqah yang memperkaya lafaz salam dalam salat.

Perbedaan riwayat menunjukkan keluasan sunnah, bukan kontradiksi.

Apakah “Wa Barakatuh” Juga Ada pada Salam Kedua?

Syaikh al-Mubārakfūrī menjelaskan:

قال الشيخ المباركفوري: اعلم أنَّ أكثر نسخ أبي داود خالية من زيادة “وبركاته” مع التسليمة الثانية، وإنَّما هي مع التسليمة الأولى فقط، حتى توهم البعض أنَّ الحافظ ابن حجر وهم في نقل هذه الزيادة مع التسليمة الثانية، وإنَّما الواهم هو ذلك البعض؛ فإنَّ هذه الزيادة مع التسمليمتين موجودة في بعض النسخ الصحيحة المعتمد عليها.

Syaikh al-Mubārakfūrī berkata:

“Ketahuilah bahwa kebanyakan naskah Sunan Abī Dāwūd tidak memuat tambahan lafaz ‘wa barakātuh’ pada salam kedua, melainkan hanya pada salam pertama saja. Sehingga sebagian orang menyangka bahwa al-Hāfizh Ibn Hajar keliru dalam menukil tambahan ini pada salam kedua. Padahal yang keliru adalah orang yang menyangka demikian, karena sesungguhnya tambahan itu pada kedua salam terdapat dalam sebagian naskah yang sahih dan dijadikan sandaran.”

Menurut al-Mubārakfūrī, riwayat tambahan wa barakātuh bukan hanya terdapat pada salam pertama. Tambahan tersebut juga ditemukan pada salam kedua dalam sebagian manuskrip Sunan Abī Dāwūd yang dinilai terpercaya. Karena itu, menurut penjelasan tersebut, Ibn Hajar tidak salah dalam menukilnya.

Ibn al-Ṣalāḥ memang pernah mengatakan bahwa tambahan tersebut tidak tsabit. Namun, al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar menanggapinya dengan menyatakan bahwa tambahan itu terdapat dalam riwayat Ibn Ḥibbān, Abū Dāwūd, dan Ibn Mājah.

Penulis Subul al-Salām juga menegaskan bahwa setelah meneliti naskah sahih Sunan Ibn Mājah, ia menemukan riwayat tersebut. Keterangan ini disebut dalam ‘Awn al-Ma‘būd Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (3/296, hadis no. 846).

Mana yang Lebih Utama: “Wa Rahmatullah” atau “Wa Barakatuh”?

Abū Iyās Maḥmūd ibn ‘Abd al-Laṭīf ibn Maḥmūd (‘Uwīḍah) dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Ṣalāh menulis:

وقد وردت عدة صيغ للتسليم أكثرها روايةً وأصحُّها إسناداً هي [السلام عليكم ورحمة الله] فأرى الأخذ بها والعمل بها وترك ما سواها وذلك لما سبق من أدلة، ووردت صيغة [السلام عليكم ورحمة الله وبركاته] مرة في التسليمة الأولى، ومرة أخرى في التسليمة الثانية، فعن وائل رضي الله عنه قال «صليت مع النبي – صلى الله عليه وسلم – فكان يسلِّم عن يمينه: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وعن شماله: السلام عليكم ورحمة الله» رواه أبو داود. فهذا في التسليمة الأولى. وروى عبد الله رضي الله عنه «أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يسلِّم عن يمينه وعن يساره حتى يُرى بياض خدِّه: السلام عليكم ورحمة الله، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته» رواه ابن حِبَّان. فهذا في التسليمة الثانية، إلا أنَّ إسناد هذين الحديثين دون إسناد الأحاديث السابقة من حيث الصحة والقوة.

Telah diriwayatkan beberapa bentuk bacaan salam (taslīm) dalam salat. Bentuk yang paling banyak riwayatnya dan paling sahih sanadnya adalah:

“Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.”

Karena itu, penulis kitab tersebut berpendapat untuk berpegang dan mengamalkan bacaan ini berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya.

Adapun bacaan:

“Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh wa barakātuh”

diriwayatkan pada salam pertama dan juga terdapat riwayat yang menempatkannya pada salam kedua.

Dari Wā’il r.a. diriwayatkan:

“Aku salat bersama Nabi ﷺ, beliau salam ke kanan: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh wa barakātuh, dan ke kiri: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.”

(HR. Abū Dāwūd). Riwayat ini menunjukkan tambahan wa barakātuh pada salam pertama.

Dari ‘Abdullāh r.a. juga diriwayatkan:

“Bahwa Nabi ﷺ salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh, Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh wa barakātuh.”

(HR. Ibn Ḥibbān). Riwayat ini menunjukkan tambahan tersebut pada salam kedua.

Namun, sanad kedua hadis tersebut dinilai lebih lemah dibandingkan sanad hadis-hadis sebelumnya dari segi kesahihan dan kekuatan.

Kesimpulan

Dengan demikian, bacaan salam dalam salat yang lebih sering dipraktikkan Nabi ﷺ adalah sampai “wa rahmatullāh”. Namun, pada kesempatan lain terdapat riwayat bahwa beliau membaca salam sampai “wa barakātuh”.

Artinya, bacaan salam sampai wa rahmatullāh maupun dengan tambahan wa barakātuh sama-sama memiliki dasar riwayat.

Karena itu, silakan mengamalkan bacaan yang dipilih berdasarkan dalil yang diyakini, tanpa harus mencela orang lain yang mengamalkan bacaan berbeda.

Wallahu a‘lam.

Rujukan:

  • ‘Uwīḍah, M. ibn ‘A. ibn M. al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Ṣalāh, Vol. 1–2, cetakan terakhir.
  • Abdurrahman al-Jazairi. Kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba‘ah, II. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004.
  • Al-‘Aẓīm Ābādī, M. ibn A. ‘Awn al-Ma‘būd Sharḥ Sunan Abī Dāwūd, Vol. 1–14. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994.
  • An-Nawawi. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzab, Vol. 11. Kairo: Dar al-‘Alamiyyah, 2018.
  • As-Sayyid Sabiq. Fiqh as-Sunnah, I. Kairo: Syirkah ad-Dauliyah li ath-Thiba‘ah, 2004.
  • Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Al-Mughni. Beirut: Dar al-Fikr, 1405 H.
  • Ibnu Rusyd. Bidayat al-Mujtahid, VI. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2017.
  • Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih. Tanya Jawab Agama, Jilid 1–8. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003.
  • Wahbah az-Zuhaili. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, II, Vol. 1–8. Dimasyq: Dar al-Fikr, 1985.

Penulis: Dr. Ali Trigiyatno (Ketua MT PWM Jateng)
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *