Kolom

Manisnya Buah Birrul Walidain

Jika benar bahwa keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat At-Tirmidzi yang dinilai hasan oleh Al-Albani, sungguh beruntung orang-orang yang mampu meraih keridaan keduanya.

Ketika orang tua rida, Allah pun rida. Dan ketika Allah rida kepada seorang hamba, terbukalah jalan kemudahan dan keberkahan baginya, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Subhanallah wa tabarakallah.

Keridaan orang tua dapat diraih dengan berbakti kepada mereka, atau yang dikenal dengan istilah birrul walidain. Sesuai maknanya, birrul walidain mencakup segala bentuk kebaikan yang dilakukan seorang anak kepada kedua orang tuanya.

Bersikap dengan akhlak yang mulia, menjaga dan membantu mereka, memberikan pertolongan, serta membimbing dan menasihati ketika mereka melakukan kesalahan, semuanya termasuk bentuk bakti kepada orang tua.

Berbagai kebaikan tersebut akan membuahkan hasil yang manis, baik di dunia maupun di akhirat.

Di Antara Bentuk Birrul Walidain

1. Taat dan Patuh kepada Orang Tua

Pada dasarnya, permintaan, perintah, panggilan, dan perkataan orang tua wajib dipatuhi selama berada dalam perkara yang ma’ruf, yaitu tidak bertentangan dengan aturan agama.

Hal ini dapat kita pelajari dari kisah Juraij, seorang ahli ibadah. Suatu ketika, saat sedang melaksanakan salat, ibunya memanggilnya. Namun, Juraij tidak memenuhi panggilan tersebut. Peristiwa itu terjadi hingga tiga kali.

Karena merasa panggilannya tidak dipenuhi, sang ibu kemudian berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum dia melihat wajah seorang pelacur.”

Allah mengabulkan doa tersebut. Seorang perempuan berusaha menggoda Juraij, tetapi ia menolaknya. Meski demikian, perempuan itu kemudian menuduh Juraij melakukan zina.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (HR. Bukhari No. 2482). Berdasarkan kisah tersebut, para ulama menjelaskan pentingnya menaati perintah, memenuhi permintaan, dan menjawab panggilan orang tua.

2. Bertutur Kata dengan Baik dan Lemah Lembut

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

(QS. Al-Isra’: 23)

Para ulama menjelaskan bahwa kata “ah” dalam ayat tersebut merupakan contoh gangguan yang paling ringan terhadap orang tua. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya bisa berupa ucapan “huh”, “aduh”, atau ungkapan sejenis yang menunjukkan kejengkelan kepada mereka.

Perkataan semacam itu merupakan bentuk sikap yang dilarang terhadap orang tua. Apalagi jika sampai membentak, mencela, atau menghina mereka. Wal’iyadzu billah.

Karena itu, seorang anak hendaknya senantiasa menjaga tutur katanya. Berbicara dengan sopan, bersikap lembut, dan tidak menyakiti hati orang tua merupakan bagian penting dari bakti kepada mereka.

3. Bersikap Tawadhu’ kepada Orang Tua

Seorang anak hendaknya merendahkan hati di hadapan kedua orang tuanya, sekalipun ia memiliki kedudukan tinggi, terpandang, atau mempunyai kelebihan dibandingkan mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’”

(QS. Al-Isra’: 24)

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang anak hendaknya memperlakukan orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan kerendahan hati.

Kedudukan, ilmu, kekayaan, maupun pencapaian yang dimiliki seorang anak tidak seharusnya membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang tuanya.

Sebaliknya, semua kelebihan tersebut semestinya menjadikannya semakin mampu menghormati, menyayangi, dan memberikan kebaikan kepada keduanya.

4. Memberikan Nafkah kepada Orang Tua yang Membutuhkan

Pada dasarnya, orang tua diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri melalui pekerjaan atau penghasilannya. Namun, apabila mereka berada dalam keadaan miskin dan membutuhkan bantuan, mereka memiliki hak untuk mendapatkan bantuan dari harta anaknya guna memenuhi kebutuhan hidup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu. Sesungguhnya makanan yang paling baik adalah yang merupakan hasil kerjamu. Dan sesungguhnya harta anak-anakmu juga merupakan hasil kerjamu, maka makanlah darinya tanpa ragu.”

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Para ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut bukan berarti seluruh harta anak secara mutlak menjadi milik ayahnya. Namun, hadis ini menunjukkan adanya hak orang tua yang harus diperhatikan oleh anak, termasuk dalam penggunaan harta.

Dalam kitab Fiqhut Ta’amul halaman 130, dijelaskan bahwa seorang anak hendaknya tidak mengabaikan pendapat ayahnya dalam urusan penggunaan harta.

[PERLU VERIFIKASI: Judul lengkap kitab, nama penulis, edisi, dan kesesuaian isi pada halaman 130 perlu dikonfirmasi agar rujukan dapat dipertanggungjawabkan.]

Dengan demikian, membantu memenuhi kebutuhan orang tua yang kekurangan merupakan salah satu bentuk nyata dari birrul walidain.

Buah Manis dari Birrul Walidain

Berbakti kepada kedua orang tua bukan hanya mendatangkan keridaan mereka, tetapi juga memiliki berbagai keutamaan. Di antara buah manis birrul walidain adalah sebagai berikut.

1. Menjadi Sebab Dikabulkannya Doa

Berbakti kepada orang tua dapat menjadi sebab dikabulkannya doa melalui dua sisi.

Pertama, doa seorang anak dikabulkan melalui bakti yang dilakukannya kepada orang tua. Hal ini dapat kita lihat dalam kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, serta kisah Uwais bin Amir Al-Qarni.

Kedua, doa orang tua untuk anaknya memiliki kedudukan yang mustajab. Keridaan orang tua dapat melahirkan doa-doa kebaikan bagi anaknya. Doa tersebut menjadi keberkahan tersendiri bagi anak yang senantiasa berbakti kepada keduanya.

Karena itu, menjaga hubungan baik dengan orang tua merupakan salah satu ikhtiar untuk memperoleh keberkahan melalui doa mereka.

2. Menjadi Sebab Terhapusnya Dosa Besar

Berbakti kepada orang tua juga disebutkan dalam sebuah hadis sebagai amalan yang dapat menjadi sebab pengampunan dosa.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertobat?”

Nabi bertanya, “Apakah engkau masih memiliki seorang ibu?”

Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”

Beliau kemudian bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki seorang bibi?”

Ia menjawab, “Ya.”

Nabi pun bersabda:

“Berbaktilah kepadanya.”

(HR. Ibnu Hibban)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik kepada kerabat yang memiliki kedudukan dekat dengan orang tua, termasuk bibi dari pihak ibu.

Dalam kisah tersebut, Nabi mengarahkan laki-laki itu untuk berbakti kepada bibinya setelah ia menyampaikan keinginannya untuk bertobat.

3. Mendatangkan Keberkahan dan Menambah Rezeki

Berbakti kepada kedua orang tua juga merupakan salah satu sebab datangnya keberkahan dan bertambahnya rezeki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahmi.”

(HR. Ahmad)

Hadis ini memberikan motivasi kepada kita untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang tua dan keluarga.

Bakti kepada orang tua serta silaturahmi merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar dan menjadi jalan untuk meraih keberkahan hidup.

4. Menjadi Sebab Anak Berbakti kepada Kita

Salah satu buah dari berbakti kepada orang tua adalah harapan agar anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.

Sebaliknya, seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya hendaknya khawatir apabila kelak anak-anaknya memperlakukannya dengan cara yang sama.

Tsabit Al-Banany menceritakan:

“Aku melihat seseorang memukul bapaknya di suatu tempat. Maka dikatakan kepadanya, ‘Apa-apaan ini?’ Sang ayah berkata, ‘Biarkanlah dia. Sesungguhnya dahulu aku memukul ayahku pada bagian ini, maka aku diuji Allah dengan anakku sendiri. Ia memukulku pada bagian ini pula.’”

Kisah ini menjadi pelajaran agar kita tidak meremehkan perlakuan terhadap orang tua. Sikap yang kita tunjukkan kepada mereka dapat menjadi pelajaran yang dilihat dan ditiru oleh anak-anak kita.

Karena itu, jika kita menginginkan anak-anak yang menghormati dan menyayangi kita ketika tua nanti, mulailah dengan menghormati dan menyayangi orang tua kita sendiri.

5. Menjadi Sebab Diterimanya Amal

Berbakti kepada kedua orang tua juga disebutkan sebagai salah satu sebab diterimanya amal seseorang. Ketika amal diterima oleh Allah, seorang hamba akan memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Kalau aku tahu bahwa aku memiliki satu salat yang diterima, pasti aku akan bersandar pada hal itu. Barang siapa berbakti kepada kedua orang tuanya, sesungguhnya Allah menerima amalnya.”

Perkataan ini menegaskan pentingnya memperhatikan hak-hak orang tua. Jangan sampai seseorang bersungguh-sungguh dalam menjalankan berbagai ibadah, tetapi justru mengabaikan kewajibannya untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Mari Meraih Manisnya Birrul Walidain

Saudaraku, itulah beberapa keutamaan dan buah manis dari birrul walidain. Keridaan orang tua diraih dengan berbakti kepada mereka. Keridaan orang tua berkaitan dengan keridaan Allah, dan dari sanalah kita berharap memperoleh keberkahan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita meluangkan waktu untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan kedua orang tua.

Sudahkah kita memenuhi panggilan mereka dengan baik? Sudahkah kita menjaga tutur kata ketika berbicara dengan mereka? Sudahkah kita membantu kebutuhan mereka, menghormati pendapat mereka, dan mendoakan kebaikan bagi keduanya?

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar keberhasilan dunia, tetapi justru melupakan orang-orang yang dahulu mencurahkan begitu banyak waktu, tenaga, dan kasih sayang demi membesarkan kita.

Mari bermuhasabah dan memperbaiki bakti kita kepada kedua orang tua. Kita memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kemampuan untuk senantiasa berbuat baik kepada mereka, meraih keridaan-Nya, dan memperoleh keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.

Wallahu a’lam.

Penulis: Arif Setyoko
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slottotoslotpkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari initoto 4dsitus totoslot gacorzonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4dligabolapkv gamespkv games