Ribuan Jamaah Padati Salat Idulfitri 1446 H Muhammadiyah Kota Semarang

PWMJATENG.COM, Semarang – Sebanyak 49 lokasi di 16 kecamatan Kota Semarang menjadi tempat pelaksanaan Salat Idulfitri 1446 H yang digelar oleh Muhammadiyah. Lebih dari 30 ribu jamaah memadati berbagai lokasi salat yang telah disiapkan.
Para penceramah dari Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Semarang dikerahkan sebagai khatib di berbagai titik. Beberapa di antaranya adalah Nurbini yang bertugas di halaman Masjid Baitul Iman Manyaran, AM Jumai di lapangan parkir eks-Wonderia, serta Ahwan Fanani di lapangan Taman Lansia RW 02 Kelurahan Rejosari. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Fachrur Rozi, bertindak sebagai khatib di Badan Dakwah Islam (BDI) Pertamina Cilacap.
Untuk pertama kalinya, PDM Kota Semarang juga menggelar Salat Idulfitri di halaman Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates. Masjid yang baru diresmikan pada Mei 2024 ini menghadirkan Kholid Winandar dari Majelis Tarjih PDM Kota Semarang sebagai khatib.
Dalam ceramahnya, Nurbini menekankan pentingnya menjaga istiqamah dalam beribadah setelah Ramadan. “Bisa terus istiqamah adalah karamah seorang wali Allah yang luar biasa,” tegasnya, mengutip kitab Majmu’ah Al-Fatawa.
Ia menyebut enam kiat agar tetap istiqamah, di antaranya berdoa memohon hidayah kepada Allah, menjaga keikhlasan, rutin beramal meski sedikit, melakukan muhasabah, memilih teman yang saleh, serta menjalankan puasa Syawal.
Di lokasi lain, AM Jumai dalam khutbahnya di lapangan eks-Wonderia menekankan pentingnya peran umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. “Sebagai hamba Allah, kita harus taat pada perintah-Nya. Sebagai umat Rasulullah, kita harus meneladani beliau, dan sebagai warga negara, kita harus patuh pada aturan yang berlaku,” ujarnya.
Baca juga, Ketupat dan Bedug: Simbol Islam dalam Akulturasi Budaya Jawa
Menurutnya, kontribusi dalam pembangunan bisa dilakukan sesuai kapasitas masing-masing, baik melalui harta, tenaga, kekuasaan, maupun ilmu. Ia juga mengajak masyarakat Kota Semarang untuk bersatu mendukung kebijakan pemimpin daerah yang pro-rakyat, serta mengkritisi kebijakan yang merugikan.
Sementara itu, Ahwan Fanani dalam ceramahnya di Taman Lansia Rejosari mengajak jamaah menjadikan Idulfitri sebagai momentum kembali ke fitrah. Ia mengutip Surat Ar-Rum ayat 30 yang menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah.

Ahwan menambahkan bahwa temuan ilmiah seperti God Spot dalam otak manusia membuktikan kecenderungan alami manusia untuk mencari Tuhan. “Penemuan ini memperkuat petunjuk Al-Qur’an bahwa manusia memiliki naluri bertuhan dan berserah diri kepada Allah,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tujuan syariat Islam adalah mencapai kemaslahatan dan mencegah kemudaratan. Oleh karena itu, Idulfitri harus dimaknai sebagai perayaan kembali kepada fitrah serta menumbuhkan nilai-nilai luhur yang diperoleh selama Ramadan.
Di halaman Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Kholid Winandar mengingatkan bahwa tanda diterimanya amal ibadah selama Ramadan adalah keberlanjutan dalam melakukan kebaikan. “Setelah amal saleh, hendaknya kita terus melanjutkan amal saleh lainnya,” katanya.
Beberapa amalan yang dianjurkan pasca-Ramadan antara lain puasa enam hari di bulan Syawal, salat tahajud, membaca Al-Qur’an, serta bersedekah. Ia menegaskan bahwa orang yang amalnya diterima akan semakin takut jika amalnya tidak bernilai di sisi Allah. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang semakin menjauhi maksiat, gemar berbagi, dan senantiasa menjaga silaturahmi.
Kontributor : Agung
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha