Prof Hilman Latief, Menggagas Dana Abadi Untuk Kemanusiaan

PWMJATENG.COM, YOGYAKARTA– Hilman Latief selaku Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sodaqoh Muhammadiyah (LazisMu). Mengatakan, sebetulnya Muhammadiyah itu sudah filantropi, bahkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang dimilikinya bisa dilihat sebagai bentuk wakaf yang lebih progresif dari wakaf yang biasa.

Menurut AUM sebagai lembaga yang secara pembiayaan dan pendapatan sudah bisa mandiri serta berkelanjutan adalah wujud wakaf yang sesunguhnya. Muhammadiyah, bisa dikatakan lebih advance di dalam bidang tersebut. Diskusi bulanan yang digelar oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah pada Ahad (20/2), Hilman memaparkan, terkait dengan wakaf progresif Muhammadiyah sudah 100 tahun lebih menjalankan pola tersebut.

“Tapi saat ini ada yang lebih porgresif dalam menata manajemennya. Ini sebetulnya yang perlu kita pikirkan, tapi sebenarnya Muhammadiyah menjadi suatu contoh,” tegasnya

BACA JUGA  Pesantren Ramadhan SD Muhammadiyah Jepara Ajarkan Siswa Berbagi

Demikian, pandangan Hilman saat ini Muhammadiyah belum memiliki model Investment yang cukup kuat. Namun saat ini AUM sedang membuat program-program sosial yang serupa dengan CSR. Namun CSR juga belum memiliki model dan arah yang jelas.

Dari kenyataan tersebut ia mengusulkan supaya segera ada model, dan test case yang terkait dengan dana abadi yang dikelola Muhammadiyah supaya tetap eksis dan kompatibel dengan zaman yang dihadapi.

Demikian, pencapaian kerja filantropi yang dilakukan oleh LazisMu saat ini Hilman telah mencatat sejak tahun 2016 sampai 2020 terus mengalami peningkatan pertumbuhan. Khususnya dari tahun 2019 ke tahun 2020, Kantor Layanan (KL) yang awalnya hanya berjumlah 534 KL, pada tahun 2020 bertambah menjadi 1019 KL.
BACA JUGA  Sekda H Farid Diminta Menjadi Ketua Dewan Penasehat Pendirian RS PKU Muhammadiyah Sampang

Catatan menarik lainnya yang dimiliki oleh LazisMu adalah hampir di setiap AUM khususnya AUM bidang kesehatan saat ini memiliki KL LazisMu.
“Ini bisa menjadi cikal bakal dari konteks filantropi yang sustainable. Karena ada sebetulnya yang menjadi perhatian kita adalah sustainable philanthropy for health care, sustainable philanthropy for humanitarian mission,” pujar Hilman
Oleh karena itu, dalam konteks bencana alam sekarang ini pihaknya sedang mencoba menjaga keberlangsungan keuangan untuk program tersebut.

“Ditulis oleh Jurnalis Magang – M. Kausar abadi”

Total
24
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts