BeritaMunas Tarjih

Pemilihan Pekalongan sebagai Lokasi Munas Tarjih 1 Abad Bukan Tanpa Sebab, Haedar Sampaikan Alasan Ini!

PWMJATENG.COM, Pekalongan – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak peserta Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-32 di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan untuk menarik inspirasi dari tiga peristiwa penting dalam sejarah pergerakan Muhammadiyah di Pekalongan.

Dalam pembukaan Munas Tarjih, Jumat (23/2), Haedar Nashir menyoroti tiga peristiwa tersebut yang memiliki signifikansi dalam hubungan antara Pekalongan dengan gerakan keagamaan dan politik Islam di Indonesia.

Pertama, Haedar menekankan tahun 1921 di mana Pekalongan menjadi saksi dari Rapat Umum Muhammadiyah yang dihadiri oleh dua tokoh monumental, HOS Cokroaminoto dan KH. Ahmad Dahlan. Dalam pertemuan tersebut, Cokroaminoto membahas isu politik melawan penjajah Belanda, sedangkan KH. Ahmad Dahlan menyampaikan wawasan keagamaan yang jernih. Peristiwa ini menjadi bagian penting dari sejarah Pekalongan dan Muhammadiyah.

Kemudian, pada tahun 1922, Muhammadiyah cabang Pekajangan didirikan, setahun sebelum wafatnya KH. Ahmad Dahlan. Meskipun awalnya dihadapkan dengan resistensi, namun setelah mendengarkan ceramah inspiratif Sang Pencerah di Yogyakarta, mereka malah beralih mendukung gerakan Muhammadiyah.

Haedar menggarisbawahi bagaimana pemikiran Kiai Dahlan mampu mengubah sikap dan pandangan, yang memicu pendirian Muhammadiyah di Pekajangan pada tahun 1922.

Baca juga, Munas Tarjih 1 Abad Resmi Dibuka, KH. Tafsir: Ini Panggung Muhammadiyah untuk Berkontribusi bagi Peradaban Dunia

“Awalnya seorang tokoh asal Pekajangan menentang bahkan hendak melakukan penolakan terhadap Muhammadiyah tapi setelah ke Yogyakarta malah terinspirasi oleh pemikiran Kiai Dahlan dan pulang ke Pekajangan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1922,” ungkap Haedar.

Terakhir, pada tahun 1927, Pekalongan menjadi tuan rumah Kongres Muhammadiyah ke-16. Dari kongres ini, terbentuklah Majelis Tarjih, sebuah lembaga internal di Muhammadiyah yang fokus pada pembahasan isu-isu keagamaan. Tonggak ini memberikan fondasi kuat untuk membahas dan meresolusi masalah-masalah keagamaan dalam lingkup organisasi.

Haedar menekankan bahwa tiga peristiwa ini bukan hanya sebagai kenangan historis semata, melainkan menjadi sumber inspirasi bagi peserta Munas saat ini. Mereka diharapkan dapat mengambil hikmah dari jejak-jejak tersebut untuk mencapai keputusan-keputusan yang jernih dan berharga dalam mengarahkan perjalanan Muhammadiyah di masa depan.

“Tiga tonggak penting ini tentu menjadi inspirasi sekaligus pendorong bagi para peserta Munas hari ini untuk bagaimana menghasilkan keputusan-keputusan yang jernih, berbobot,” ujar Haedar.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE