Muhammadiyah Memutuskan Awal Waktu Subuh Ditambah 8 Menit

Muhammadiyah Memutuskan Awal Waktu Subuh Ditambah 8 Menit
Muhammadiyah Memutuskan Awal Waktu Subuh Ditambah 8 Menit

PWMJATENG.COM, YOGYAKARTA — Penentuan waktu awal subuh merupakan persoalan yang sangat penting. Karena hal tersebut berkaitan dengan empat jenis ibadah yang meliputi: penentuan awal salat subuh, akhir salat witir, awal ibadah puasa, dan akhir wukuf di Arafah.

Syamsul Anwar selaku Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa penentuan awal subuh harus berdasarkan penelaahan Al-Quran dan Hadis, serta realitas objektif di alam raya. Para Ulama Muhammadiyah berkumpul pada saat Musyawarah Nasional Tarjih ke-13 tahun 2020 untuk membicarakan tentang titik ketinggian matahari di bawah ufuk pada saat fajar.

“Mengapa Majelis Tarjih mengangkat persoalan ini karena banyaknya pertanyaan, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai belahan dunia. Misalnya di Maroko sejumlah pemuda dengan sengaja menyantap makanan di bulan Ramadan pada saat azan subuh berkumandang sebagai sikap protes bahwa jadwal resmi masih terlalu pagi,” ucap Syamsul.

BACA JUGA  Muhammadiyah Umumkan Fatwa Salat Idul Fitri 1441 H Besok

Masalah awal waktu subuh baru dipermasalahkan di Indonesia karena kedatangan seorang ulama yang berasal dari Timur Tengah. Ulama tersebut heran dengan kondisi yang masih gelap tetapi azan sudah berkumandang. Sehingga masalah ini menciptakan perdebatan di kalangan para ahli dan kekhawatiran di hati masyarakat.

Majelis Tarjih ikut serta menyumbang gagasan ihwal parameter terbit fajar dan memutuskan bahwa ketinggian matahari berada di -18 derajat di bawah ufuk. Hal ini juga menjadi evaluasi dari yang sebelumnya -20 derajat berubah menjadi -18 derajat. Artinya, waktu subuh yang selama ini dipakai terlalu cepat sekitar 8 menit.

Putusan ini didukung oleh mayoritas para ulama ahli astronomi yang sejauh ini bisa diakses Majelis Tarjih. Sejumlah negara lain juga sudah menggunakan kriteria awal waktu Subuh pada ketinggian matahari -18 derajat seperti Malaysia, Turki, Inggris, Prancis, Australia, dan Nigeria.

BACA JUGA  Fatwa Tarjih Muhammadiyah: Shalat Idul Fitri Kondisi Wabah Corona

“Ditulis oleh Jurnalis Magang – (Tria Isriani)”

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts