Berita

Jelang Uji Visi Misi Capres, Haedar Nashir: Pemimpin Harus Miliki Visi Kebangsaan dan Kenegarawanan

PWMJATENG.COM, Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, memberikan pandangannya mengenai kepemimpinan di Indonesia. Menurutnya, yang paling penting adalah pemimpin memiliki visi kebangsaan dan kenegarawanan, Jumat (17/11/2023).

Dalam keterangannya di kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Bantul, DIY, Haedar menekankan bahwa PP Muhammadiyah selalu mengedepankan prinsip-prinsip konstitusi dan keadilan dalam menilai politik dan kekuasaan. Beliau juga menyoroti pentingnya orientasi kepada kesejahteraan dan pemeliharaan kearifan budaya.

“Saya tidak akan masuk ke soal person, soal figur, dan soal calon-calon. Semua anak muda itu punya hak yang sama dalam politik,” kata Haedar, menanggapi pertanyaan wartawan mengenai politik dinasti menjelang Pilpres 2024.

Haedar menegaskan bahwa pembahasan seputar politik dan kepemimpinan harus terbuka dan mengikuti prinsip-prinsip konstitusi yang berlaku untuk semua. “Karena itu kalau kita membuka ruang konstitusi dan hukum berlaku kan untuk semua,” tambahnya.

Dalam konteks pembangunan bangsa dan negara, Haedar menyatakan bahwa pemimpin tidak hanya dilihat dari usia atau kemampuan teknis semata. Yang terpenting adalah adanya visi kebangsaan, kenegarawanan, dan pengalaman dalam menghadapi dinamika kehidupan berbangsa.

Baca juga, Muhammadiyah di Usianya yang ke-111: Ikhtiar Menyelamatkan Semesta

“Kedua, bahwa membangun bangsa dan negara itu juga bukan sekadar tua muda, bukan soal tua muda, tetapi soal visi kebangsaan, kenegarawanan, pengalaman dalam pergumulan kehidupan kebangsaan dan sekaligus juga leadership yang tumbuh. Bukan sekadar kemampuan-kemampuan teknis,” jelasnya.

Haedar kemudian memberikan contoh dengan merujuk pada Presiden pertama RI, Sukarno. Beliau menekankan bahwa perjalanan hidup Sukarno penuh dengan pergumulan dan pengalaman yang tidak hanya terfokus pada usia atau karier.

“Menjadi Presiden usia 44 tahun. Dalam pergumulan yang kita tahu, Bung Karno itu dibuang ke berbagai tempat, kemudian interaksinya dengan seluruh tokoh bangsa, dengan perdebatan, dengan silaturahmi itu luar biasa,” ungkap Haedar.

Haedar juga mencatat hal serupa terjadi pada Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta, yang menjabat pada usia 43 tahun. “Pergumulan menghayati denyut nadi kehendak rakyat, nasib rakyat, dan nasib Indonesia ketika sebelum bahkan setelah Indonesia merdeka,” tambah Haedar.

Pandangan Haedar Nashir menyoroti pentingnya visi, pengalaman, dan komitmen terhadap kepentingan nasional dalam menilai kualitas seorang pemimpin.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE

Tidak bisa menyalin halaman ini karena dilindungi copyright redaksi. Selengkapnya hubungi redaksi melalui email.