BeritaKabar Dunia

Jadi Ujung Tombak Kaderisasi Ulama, PCIM dan PCIA Mesir Gelar Musycabis ke-10

PWMJATENG.COM, Kairo, Mesir¬†‚ÄstBertempat di Capital Palace Grand Bill Room (Qasr El Maliki), Kairo, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA), menggelar pembukaan Musyawarah Cabang Istimewa (Musycabis) ke-10, Selasa (9/7/24).

Mengusung tema, “Revitalisasi Jati Diri PCIM-PCIA sebagai Ujung Tombak Kaderisasi Ulama”, Musycabis ke-10 ini diawali berbagai rangkaian kegiatan, di antaranya Muhammadiyah Day (27-29/7/24), Baitul Arqam (3-4/7/24), dan Musypimcab (7/7/24).

Hadir dalam pembukaan Musycabis ke-10 PCIM dan PCIA Mesir, Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Indonesia untuk Mesir, M Zaim A Nasution, Duta Besar Palestina untuk Mesir, Diab Al Louh, Wakil Direktur Markaz Tathwir Ta’lim Thullab al-Wafidin wal Ajanib, Syahidah al-Mar’aa, Pimpinan Pesantren Tahfiz Maskanul Huffadz, Oki Setiana Dewi, Ketua PCIM Mesir, Hidanul Achwan, Ketua PCIA Mesir, Hilma A’yunina, Ketua Perwil XXXVIII Republik Arab Mesir, Andre Hermawan, serta para tamu undangan lainnya.

Pembukaan Musycabis ke-10 PCIM dan PCIA Mesir ini sendiri diawali dengan berbagai penampilan, di antaranya penampilan siswa-siswi TK ABA Kairo, seni bela diri oleh Tapak Suci Mesir, dan seni dabkah palestina oleh Al-Faloja Palestinian Folk Dance.

Ketua Panitia Musycabis ke-10 PCIM dan PCIA Mesir, Luthfi Hamdan Rafindra Ma’ruf, dalam laporannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dalam Musycabis ini.

“Banyak terima kasih kami haturkan kepada berbagai pihak yang turut menyukseskan acara ini sehingga acara dapat berjalan dengan lancar,” ucap Luthfi.

Ketua PCIM Mesir, Hidanul Achwan, dalam sambutannya menyampaikan, bahwa tidak terasa bahwa PCIM dan PCIA Mesir periode 2022-2024 Mesir telah berjalan selama 2 tahun 4 bulan, hingga pada akhirnya hari ini, PCIM dan PCIA Mesir menggelar Musycabis ke-10 sebagai bagian dari regenerasi organisasi.

“Sebagai orang yang terlibat di dalam organisasi ini, tentu saya merasakan nikmatnya menjadi anggota Muhammadiyah. Banyak sekali kebaikan-kebaikan yang tidak dapat diraih dan diwujudkan, melainkan dengan keterlibatan semua pihak,” ucap Hidan.

Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta ini juga menghimbau kepada segenap kader Muhammadiyah di Mesir untuk merefleksikan dan meneguhkan tema Musycabis ke-10 ini, di mana kader-kader Muhammadiyah yang berkesempatan untuk belajar di Universitas Al-Azhar, mampu membawa risalah dakwah Muhammadiyah yang berkemajuan dengan nilai-nilai wasatiyah.

Baca juga, Telah Terbit! Download Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 1446 H

“Sehingga besar harapan kami, para tunas-tunas kader Muhammadiyah Mesir, mampu pulang menjadi suluh peneguh bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah,” imbuhnya.

Hidan juga menuturkan bahwa dirinya sering dihubungi oleh Pimpinan Persyarikatan dari berbagai level di Indonesia untuk dimintai informasi, bilamana terdapat kader Muhammadiyah yang belajar di Mesir dan akan pulang ke Indonesia. Mereka berharap, para kader Muhammadiyah yang telah selesai belajar di Al-Azhar, untuk mengabdi di grassrots Persyarikatan.

Mengakhiri sambutannya, Hidan, juga menanggapi berbagai isu yang tengah santer di tanah air, yakni para mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar tidak bisa mengaji, membaca kitab, dan isu negatif lainnya. Isu-isu ini menurutnya perlu menjadi refleksi bagi para kader Muhammadiyah di Mesir untuk memacu semangatnya dalam belajar dan nantinya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Selanjutnya, Hilma A’yunina, Ketua PCIA Mesir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peran perempuan tidak hanya di rumah saja, melainkan memiliki andil di berbagai bidang., bahkan dalam sejarah peradaban dunia, perempuan telah menorahkan andil yang luar biasa.

“Kita sebagai mahasiswi Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, memiliki tanggungjawab besar untuk menampilkan (memperlihatkan) apa yang telah kita dapatkan di Al-Azhar. Menjadi duta Al-Azhar di manapun kita berada,” ucap Hilma.

Ketua PCIA Mesir periode 2022-2024 ini juga berharap bahwa Musycabis ini tidak hanya sekadar menjadi formalitas belaka, melainkan menjadi muhasabah selama satu periode terakhir.

“Mohon maaf apabila dalam periode ini kita temui hal-hal yang kurang berkenan. Tentunya kemajuan PCIM dan PCIA Mesir ke depan tidak terbatas pada pengurus (pimpinan) pada waktu itu. Semua membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, baik pengurus maupun di luar pengurus, karena PCIM dan PCIA Mesir milik seluruh warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” pungkasnya.

Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Indonesia untuk Mesir, M Zaim A Nasution, dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kehadiran PCIM dan PCIA Mesir sejak tahun 2002, dinilai sudah cukup berpengalaman untuk berkarya di berbagai bidang.

Baca juga, Hijrah ke Kalender Islam Global Tunggal

“Keberadaan PCIM dan PCIA Mesir merupakan keniscayaan. Di mana para kader dan simpatisan Muhammadiyah (di Mesir) merupakan pilihan yang datang khusus dari Indonesia dan mendapat kesempatan untuk belajar di Al-Azhar. Khususnya dalam rangka mengumpulkan ilmu pengetahuan dan ke depan para kader dan simpatisan ini akan membina umat, khususnya di Indonesia, ketika para kader Muhammadiyah yang ada di Mesir pulang ke Indonesia,” ucap Zaim.

Menukil Surat Ali Imran ayat 104, Zaim, mengingatkan bahwa para kader Muhammadiyah di Mesir mengemban misi untuk menjadi yang terbaik, dengan belajar di Mesir dan kemudian mengembangkan ilmu pengetahuan dan menyebarkannya kepada umat dan masyarakat.

Zaim juga menyinggung kontribusi Tapak Suci dan TK ABA di Mesir yang telah memberikan manfaat kepada segenap warga Indonesia di Mesir dan warga Mesir itu sendiri, baik dari sisi budaya maupun pendidikan.

Duta Besar Palestina untuk Mesir, Diab Al Louh, dalam sambutannya, menyampaikan kondisi Palestina yang hingga saat ini masih dijajah oleh Israel. Kondisi ini menjadikan warga Palestina berada dalam ketakutan dan kesulitan di dalam hidupnya.

Diab mewakili Pemerintah dan warga Palestina mengapresiasi berbagai bantuan yang telah diberikan oleh Pemerintah dan masyarakat Indonesia, khususnya Muhammadiyah. Bantuan-bantuan yang diberikan selama ini, telah meringankan beban warga Palestina.

Selanjutnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam amanatnya, menyampaikan selamat atas terselenggaranya Musycabis ke-10 PCIM dan PCIA Mesir.

“Jadikan Musycab ini sebagai ikhtiar untuk, selain bermuhasabah atas program dan kebijakan periode lalu, juga memperbaharui dan mengembangkan program dan kebijakan baru di periode yang akan datang dengan lebih baik. Kami percaya PCIM Mesir akan semakin maju dan dinamis, sehingga merepresentasikan cabang istimewa Muhammadiyah yang berdiri di garis depan dalam kemajuan PCIM di seluruh negara,” ucap Haedar melalui video conference.

Ia menambahkan, bahwa PCIM Mesir yang termasuk PCIM tertua, dari periode ke periode telah menghasilkan karya nyata. Haedar berharap pada periode yang akan datang dilakukan prioritas program yang utama.

“Kami memahami bahwa di seluruh PCIM selalu ada keterbatasan-keterbatasan yang berbeda dengan cabang-cabang Muhammadiyah yang mapan di tanah air. Karena itu, prinsip taqdimul aham minam muhim, mengambil prioritas dalam program. Sehingga program bukan daftar keinginan, tetapi pilihan-pilihan yang bersifat alternatif dan utama,” imbuhnya.

Dengan telah dibangunnya Markaz Dakwah Muhammadiyah di Mesir oleh PP Muhammadiyah, Haedar berharap PCIM dapat semakin memanfaatkannya sebagai pusat kegiatan pengembangan PCIM dan sebagai pusat dialog jaringan dengan PCIM dunia.

Hadir dalam pembukaan Musycabis, Pimpinan Pesantren Tahfiz Maskanul Huffadz, Oki Setiana Dewi, berpesan kepada segenap kader Muhammadiyah di Mesir untuk senantiasa istiqomah dalam berdakwah. Untuk itu, perlu menumbuhkan cinta dengan dakwah dan organisasi, agar mampu istiqomah dalam berdakwah.

Dalam rangkaian acara pembukaan Musycabis, PCIM dan PCIA Mesir menyerahkan bantuan alat kesehatan dari warga Indonesia untuk RS Palestina di Mesir.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE