Berita

Ibnu Hasan: Hakekat Ibadah dalam Islam

PWMJATENG.COM, Banyumas– Seseorang beribadah memiliki berbagai alasan di antaranya adalah pertama ibadah merupakan kewajiban kepada Allah SWT kedua untuk memenuhi perintah Allah Swt. dan yang ketiga agar dijauhkan dari siksa dan bisa meraih surga. Alasan tersebut tentu saja tidak ada yang salah, akan tetapi ada suatu alasan yang paling bernilai yaitu beribadah karena kebutuhan.

“Kita beribadah karena kita membutuhkan, bukan Allah yang butuh tetapi kita”. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. H. Ibnu Hasan, M.S.I. Wakil Ketua PWM Jawa Tengah saat mengisi pengajian rutinan di Masjid Besar At-Taqwa Ajibarang, Ahad pagi (11/12/22).

Ibadah Mahdah dan Ghairu Mahdhah

Ibadah hakikatnya adalah perwujudan dari syahadat, seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat maka pembuktiannya adalah ibadah. Ibadah sendiri dibagi menjadi dua yaitu:

Pertama mahdah (khusus) yang ditentukan tata caranya oleh Allah Swt. dan rasulnya telah. Contoh dari ibadah mahdah ialah salat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. bagaimana pelaksanaan serta bacaannya dan sudah diperinci oleh Rasulullah Saw. maka ibadah mahdah tidak boleh ada pengurangan atau penambahan.

“Ibadah mahdah ini tidak boleh ada penambahan atau pengurangan cukup apa yang telah ditetapkan Allah Swt. dan Rasul Saw.” Jelas Ustaz Ibnu Hasan

Kedua ialah ibadah ghairu mahdha (tidak ditentukan) caranya tidak ditentukan secara rinci dan kita boleh membuat cara sendiri, contohnya adalaha belajar merupakan ibadah ehingga caranya bisa menyesuaikan dengan keinginan seseorang. Asalkan tidak menggunakan cara-cara yang haram serta tidak dibenarkan oleh Allah dan rasulnya.

Ibadah tentu tidak hanya di Masjid saja tapi di pasar, warung juga merupakan ibadah jika di mesjid kita ruku dan sujud maka di pasar menjual dengan jujur membeli dengan benar atau di warung melayani pelanggan dengan baik dan ramah maka termasuk beribadah dengan cara yang berbeda.

Perintah Allah Swt. di dalam Al-Qur’an dan perintah Rasulullah Saw. melalui sunnahnya yang tertuang dalam hadis ada yang bersifat sawah tidak boleh ditambah atau dikurangi, namun ada pula yang bersifat mutawal yang boleh diubah atau dikembangkan.

Baca juga: Raker PDM Kota Magelang: Dakwah Muhammadiyah Harus Dirasakan Masyarakat

Ciri Amal yang Ikhlas

Menurut Ustaz Ibnu Hasan ciri-ciri amalan yang ikhlas yaitu pertama tidak membagus-baguskan amalnya ketika ada yang melihat, kedua tidak menambah jumlahnya ketika ada yang memuji, ketiga tidak mengurangi atau bahkan mencabut amalnya jika ada yang mengecewakan atau menyakiti hatinya, dan keempat tidak bercampur dengan syirik.

“Ikhlas atau tidak seseorang kita tidak bisa menilai karna itu urusan yang paling dalam dengan Allah Swt,” jelasnya.

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an tentang ciri amalan yang ikhlas dalam surah Al-Baqarah ayat 112

مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Artinya: Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih. (Al-Baqarah ayat 112).


Ikhlas sendiri memiliki makna yaitu hanya mengharap rida Allah Swt. dan tidak mencampurkan amalan dengan Syirik ataupun Riya. Manfaat dari ikhlas itu sendiri ketika seseorang beramal saleh maka ia merasakan ketenteraman, misalnya ketika mengeluarkan hartanya ia tidak merasakan kekhawatiran akan berkurangnya hartanya bahkan merasakan ketenangan setelah melepaskan hak-hak orang lain dalam hartanya.

Penulis: Mukhlis

Editor : M Taufiq Ulinuha

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE