Kolom

Gelap Mata Gelap Hati

Gelap Mata Gelap Hari

Oleh : Khafid Sirotudin*

PWMJATENG.COM – Saya paling banyak mendengar diksi “mata aji” (mata hati) diungkapkan oleh Suwargi Haji Muslim. Mantan Ketua PDM Kendal, motivator gerakan zakat Bapelurzam Weleri dan Ketua LazisMu PWM Jateng 2015-2017. Mata aji sering dipakai beliau untuk menjelaskan di banyak Pengajian Ahad Pagi maupun khotbah Jumat. Serta pada saat memberikan “wejangan” kepada AMM Weleri, para kader muda persyarikatan.

Sebagaimana pernah diajarkan seorang ustaz yang mengisi pengajian rutin di rumah saya. Kitab suci menarasikan hati dengan beberapa istilah. Hati seorang insan itu berlapis-lapis, dari yang terluar hingga paling dalam. Keimanan, keyakinan, perasaan, niat dan motif itu berada di dalam hati yang tidak terlihat. Maka dalam peradaban normatif, kita tidak diperkenankan untuk menilai dan menghakimi seseorang berdasarkan niat, namun atas dasar apa yang terlihat (barang bukti). Kitapun tidak berhak menilai kadar keimanan, keikhlasan, ketakwaan seseorang berdasarkan “hati” yang tidak terlihat.

Lapisan hati yang terluar dinamakan “shadrun” di mana perasaan sering alpa digunakan dan keyakinan masih mudah berubah. Kita sering mendengar perkataan umum terhadap seorang anak yang nakal, suka usil dan bikin onar dengan ungkapan ”pancen sodrun bocah kuwi (memang kurang berperasaan/memakai hati anak itu)”. Shadrun bersifat responsif– kadangkala reaktif– terhadap apa yang ditangkap panca indera (hidayah hawasi).

Lapis kedua dinamakan “qalbun”. Bagian hati yang memberikan respon kepada otak untuk berpikir setelah menerima tangkapan informasi dari indera. Kita mengenal istilah qalbun salim, yaitu hati yang bersih, lurus, memiliki spiritualitas cukup tinggi. Semangat untuk berbuat baik, beramal shalih serta rajin menjalankan kebaikan dan beribadah secara personal maupun sosial. Qalbun letaknya di tengah-tengah shadrun.

Berikutnya hati manusia dinamai “fuad”, yaitu bagian hati yang berkaitan dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia diri dengan Tuhannya. Fuad adalah tempat melihat batiniyah seseorang setiap kali mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Letaknya di tengah-tengah qalbun. Fuad adalah potensi hati yang berkaitan dengan inderawi, mengolah informasi yang berada di dalam otak (kanan, kiri, tengah) manusia.

Baca juga, Strategi Dakwah Muhammadiyah: Menyentuh Berbagai Lapisan Masyarakat

Fuad memiliki tanggungjawab intelektual yang jujur atas apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah, dibau oleh hidung dan kelembutan/kekasaran benda oleh kulit. Fuad cenderung memiliki kemampuan untuk merujuk kepada kejujuran, obyektivitas dan menjauhi kebohongan. Fuad juga memiliki kemampuan dalam mengolah, memilih, memutuskan segala informasi inderawi untuk dimasukkan ke ruang akal, berpikir, bertafakur, memilih dan mengolah data yang masuk ke dalam hati.

Lubb adalah bagian hati yang paling bersih dan murni. Kata lubb telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi lubuk. Seseorang yang sedang kasmaran acapkali memakai kalimat ”dari lubuk hatiku yang paling dalam, engkau bidadariku tiada bandingannya” saat merayu pasangan, cie…cie…prett. Padahal lubb sendiri adalah bagian hati yang terdalam, tempat bersemayam ruh dari Tuhan. Seseorang yang telah memiliki keyakinan atau keimanan yang telah bersemayam nyaman di dalam lubb, tidaklah mungkin untuk mudah berubah (murtad) walau diimingi harta kekayaan, jabatan atau bahkan diancam penderitaan dan hukuman.

Terlepas dari lapisan mana, yang jelas hati manusia (bukan hati hewan) adalah perangkat organik insani yang sanggup membedakan benar dan salah. Berbeda dengan hidayah hawasi (inderawi) yang diberikan Tuhan kepada manusia dan hewan. Maupun hidayah ‘aqli (akal) yang tidak diberikan Tuhan kepada hewan, namun diberikan kepada manusia. Akal dan panca indera dipakai manusia untuk dapat membedakan sesuatu itu baik atau buruk, bagus maupun jelek. Kebaikan dan keburukan menurut norma agama, norma hukum positif yang berlaku dan norma adat-sosial yang situasional dan kondisional.

Maka istilah gelap hati bisa dimaknai sebagai seseorang yang tidak mampu membedakan benar dan salah, kebenaran dengan ketidakbenaran, sesuatu yang haq dan bathil. Seseorang yang gelap hati dapat melakukan tindakan-tindakan yang diluar nalar kemanusiaan dan akal sehat. Seorang yang “nglalu” (Jawa : gelap hati) tega membunuh istrinya hanya gara-gara terjerat pinjol dan kalah berjudi slot. Seorang pemimpin yang gelap hati dapat melakukan tindakan yang nir adab, takabur hingga membuat peraturan secara ngawur. Penguasa yang gelap hati dapat mengkriminaliasi bahkan membunuh rakyatnya yang dianggap melawan kepentingannya. Naudzubillah.

Gelap Mata

Allah memberikan karunia dan rahmat-Nya berupa hidayah ilhami (instingtif), hawasi (inderawi), aqli (akal, bukan seonggok otak yang diberikan kepada hewan), hidayah dien (agama) dan taufik. Indera penglihatan mata diberikan Tuhan agar manusia mampu melihat benda berdasar pantulan cahaya yang memiliki laju kecepatan hingga 299.792.458 meter (hampir 300.000 kilometer) per detik. Dengan iptek hasil akalnya, manusia mampu melihat makhluk dan benda di dalam ekosistem mikro kosmos dengan bantuan alat mikrokoskop hingga berjuta-juta kali ukurannya.

Dengan telinga, manusia mampu mendengarkan alunan suara musik yang menarik, suara mercon serta bisikan teman sebelah dan berbagai bunyi-bunyian yang memiliki laju gelombang bunyi yang merambat pada medium elastisitas dengan kondisi atmosfer normal dan suhu 20 derajat Celcius (68 Fahrenheit) sebesar 343 meter per detik (1.238 kilometer per jam). Padahal ketika kita mengendarai mobil atau kendaraan bermotor dengan kecepatan 120-140 km per jam saja rasanya sudah mau terbang. Betapa sempurnanya perangkat inderawi yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Seseorang yang gelap mata bukan berarti mereka tidak memiliki mata atau buta sehingga tidak dapat melihat dengan kasat mata atas semua benda di depannya. Gelap mata adalah istilah atau ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan seseorang yang tidak mampu melihat segala kebaikan dan keindahan makhluk ciptaan Tuhan. Gelap mata bisa hadir disebabkan oleh adanya berbagai penyakit hati (iri, dengki, benci, hasad, serakah, pelit/bakhil, dll) serta tidak warasnya akal pikiran (ODGJ). Gelap mata tidak mampu melihat kebaikan, keindahan dan hikmah yang tampak di depan mata. Sebagaimana pepatah menyatakan “gajah di pelupuk mata tiada tampak”.

Gelap hati dan gelap mata adalah dua penyakit yang saling berkaitan. Sayangnya kebanyakan manusia tidak mau jujur dan terbuka ketika menyampaikan keluhan “penyakitnya” saat berobat ke dokter jiwa atau psikiater. Berbeda dengan ketika seseorang berobat ke dokter umum atau dokter spesialis tertentu yang menyangkut penyakit jasad atau badan (Influensa, DM, Muntaber, Hipertensi, dll) atau yang terlihat kasat mata (panu, kadas, kurap, jerawatan, dll).

Semoga kita dijauhkan dari penyakit Gelap Hati dan Gelap Mata. Seperti grup musik Bimbo telah melantunkan bait-bait lagu dalam judul “Bermata Tapi Tak Melihat”.

Bermata tapi tak melihat
Bertelinga tapi tak mendengar
Bermulut tapi tak menyapa
Berhati tapi tak merasa

Berharta tapi tak sedekah
Berbenda tapi tak berzakat
Berilmu tapi tak beramal
Berjalan tapi tak terarah

Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian
Semoga kita menjauh dari sifat sedemikian

Wallahu’alam

*) Cendekiawan & Saudagar Muslim, Ketua LP-UMKM PWM Jawa Tengah, Ketua Bidang Jaringan & Diaspora Kader MPKSDI PP Muhammadiyah.

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE