Dr. Nisa Rachmah Anganthi, M.Si : Prasangka Positif Bisa Menjadi Antibodi

Dr. Nisa Rachmah Anganthi, M.Si : Prasangka Positif Bisa Menjadi Antibodi
Dr. Nisa Rachmah Anganthi, M.Si : Prasangka Positif Bisa Menjadi Antibodi

PWMJATENG.COM, SOLO – Pesantren Mahasiswa (Pesma) KH Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar halal bi halal secara virtual kepada para Staff dan Dewan Pengasuhan (DP). Mengundang Dr. Nisa Rachmah Anganthi, M.Si salah satu dosen Psikologi UMS sekaligus sebagai Dewan Pembina Pesma. Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu, (22/05/2021) melalui aplikasi Zoom.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ust. Najmudin selaku perwakilan dari Dewan Pembina, kemudian dilanjutkan oleh DP, Kantin dan Cleaning, Staff, Satpam, Direktur Pesma, dan terakhir diisi kajian oleh Dr. Nisa Rachmah Anganthi, M.Si sekaligus Dewan Pembina.

Selaku pembicara, Nisa Rachmah Anganthi, memberikan nasihat tentang Prejudice alias Prasangka. Prasangka sendiri adalah beropini sebelum memahami persoalannya dan tidak didasarkan atas fakta atau kebenaran.

BACA JUGA  Din Syamsudin Siap Nyapres Jika Muhammadiyah Berikan Ijin

“Kalau di psikologi prasangka menitik beratkan pada hal-hal negatif, sedangkan dalam islam menitik beratkan pada hal-hal positif,” Nisa menjelaskan.

Pada slide selanjutnya Nisa menunjukkan kepada para peserta mengenai dasar konseptual prasangka tersebut. Ia mengambil rujukan dari Al-quran dan Hadits Qudsi.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya ‘Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’

Sedangkan di hadits qudsi (HR. Muslim), ‘Aku sesuai persangkaan hambaKu, dan Aku bersamanya apabila hambaKu memohon padaKu.’

Terdapat tiga komponen prasangka yang disingkat menjadi ABC, yakni Affective (perasaan dan emosi), Behavior (perilaku), dan Cognitive (pikiran). Sedangkan ada beberapa faktor determinan prasangka yaitu; faktor demografi, budaya, psikologis, sosiologis, dan agama. Ada dua cara untuk mengelola prasangka, yaitu dengan ikhtiar dan ruhaniah.

BACA JUGA  Webinar PGSD UMS Ngobrolin Guru SD, Sukartono : Rekrutmen PNS harus ada!

“Ikhtiar yakni mencari fakta-fakta atau informasi, sedangkan ruhaniahnya melalui shalat istikharah,” terang Nisa.

Indikator dari perilaku prasangka negatif adalah perilaku menghindar, antagonis, merendahkan, dan konfrontasi. Sedangkan indikator dari perilaku prasangka positif yaitu memiliki perasaan positif, berperilaku positif, dan bebaik sangka.

Ada konsekuensinya apabila kita berprasangka positif, yakni dapat mengeluarkan hormon positif atau bahagia sehingga ada rasa sensasi yang menyenangkan, pengendali suasana hati, memiliki rasa cinta dan kasih sayang, keberkahan, kebermaknaan dan masih banyak lagi. Semua bisa menjadi antibodi serta menyehatkan fisik dan mental.

Sebaliknya, dampak yang dihasilkan dari prasangka negatif dapat menimbulkan masalah sosial dalam skala kecil ataupun luas seperti penganiayaan (bullying), konflik sosial (pertentangan kelompok masyarakat), perang (war) dan masih banyak lagi.

BACA JUGA  Santri AL-Mu'min Diterima Beasiswa Kedokteran UMS

Kontributor Yusmi Dwi Putri . Editor Ahmad Basyiruddin

Total
126
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts