Bagaimana Perawatan Jenazah Covid 19 Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah, Begini Caranya!

PWMJATENG.COM – Beginilah perawatan jenazah Covid 19 sejak meninggal dunia sampai dikuburkan menurut fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Fatwa itu termuat dalam surat edaran PP Muhammadiyah Nomor 02/Edr/I.0/E/202 tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid 19.  

Fatwa ini menyebutkan perawatan jenazah Covid 19 sejak meninggal dunia sampai dikuburkan dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, misalnya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 300/Menkes/SK/IV/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza.

Apabila dipandang darurat dan mendesak, beginilah perawatan jenazah Covid 19 dapat dimakamkan  tanpa dimandikan dan dikafani untuk menghindarkan tenaga penyelenggara jenazah dari paparan Covid-19 dengan pertimbangan asas-asas hukum syariah bahwa Allah tidak membebani hambaNya kecuali sejauh yang mampu dilakukannya.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih Hukum Shalat Fardhu dalam Wabah Covid 19

Apa yang diperintahkan Nabi saw dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, tidak ada kemudaratan dan pemudaratan, kemudaratan harus dihilangkan, kesulitan memberikan kemudahan, keadaan mendesak dipersamakan dengan keadaan darurat,  dan kemudaratan dibatasi  sesuai dengan kadarnya, dan mencegah mudarat lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat.

BACA JUGA  Anak Kandung Al Quran Yang Lahir Di Indonesia

Dalil yang Jadi Pegangan

Kewajiban memandikan dan mengafani jenazah adalah hukum kondisi normal, sedangkan dalam kondisi tidak normal dapat diberlakukan hukum darurat. Berikut ini dalil- dalil yang menjadi pegangan:

a. PertamaAllah tidak membebani  seseorang melainkan sejauh  yang mampu dilakukannya (al-Baqarah 2: 286)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

b. Kedua, hadis dari Abū Hurairah, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: … dan jika aku perintahkan kamu melakukan sesuatu, kerjakanlah sejauh kemampuanmu (Hadits muttafaq ‘alaih)

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Baca Juga:  Mirip Kondisi Sekarang, Nabi pun Pernah Dituduh Radikal dan Majelis Taklimnya Dimata-matai

c. Ketigatidak boleh berbuat mudarat dan menimbulkan mudarat.

BACA JUGA  Rajabiah: Antara Sunnah Dan Tradisi

لاضرر ولاضرار

d. Keempatkemudaratan harus dihilangkan.

الضَّرَرُ يُزَالُ

e. Kelima, kesukaran dapat mendatangkan kemudahan.

المشقة تجلب التيسير

f. Keenam,  keadaan  mendesak  dapat  dipersamakan dengan  keadaan  darurat, baik keadaan mendesak itu bersifat umum maupun khusus.

الحاجة تنزل منزلة الضرورة، عامةً كانت أو خاصةً

g. Ketujuh, kemudaratan dibatasi sesuai dengan kadarnya.

الضرورة تقدر بقدرها

h. Kedelapan,   mencegah    mudarat   lebih    diutamakan    daripada   mendatangkan maslahat.

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

Baca Juga:  Shalat Idul Fitri Kondisi Wabah Corona, Begini Fatwa Tarjih

17. Penyelenggaraan salat jenazah dapat diganti dengan salat gaib di rumah masing- masing. Adapun kegiatan takziah dilakukan secara terbatas dengan memperhatikan hal-hal yang terkait penanggulangan Covid-19 atau dilakukan secara daring.

BACA JUGA  Bencana Dalam Perspektif Alquran

Ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : نَعَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ , خَرَجَ بِهِمْ إلَى الْمُصَلَّى , فَصَفَّ بِهِمْ , وَكَبَّرَ أَرْبَعا

Dari Abu Hurairah ra (ia meriwayatkan): Sesungguhnya Rasulullah saw pernah menyiarkan informasi kematian Raja an-Najāsyī, lalu beliau keluar ke tempat salat bersama para sahabat, beliau membariskan mereka (membentuk saf) dan beliau bertakbir sebanyak empat kali takbir (salat gaib atas kematian Raja al-Najasyi) (HR al-Bukhārī).

Beginilah perawatan jenazah Covid 19 sejak meninggal dunia sampai dikuburkan menurut fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. (*)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts