Bahaya Perilaku Zalim dalam Islam: Mengenal 3 Macamnya yang Menghancurkan Amal

Oleh: Shihab Wicaksono Ardhi, M.Ag. (Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid, PDM Banyumas)
Perilaku zalim merupakan salah satu perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Tidak hanya merugikan orang lain, sifat ini juga dapat menghancurkan seluruh amal kebaikan kita di dunia dan akhirat.
Mengenai larangan ini, Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadis qudsi dari Allah SWT:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ الغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
Artinya: “Dari Abu Dzar Al-Ghifari RA, dari Nabi SAW, beliau meriwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.'” (HR. Muslim, no. 6737).
Hadis di atas memberikan hikmah penting bahwa perilaku zalim tidak mendatangkan manfaat sedikit pun. Allah SWT sebagai Zat Yang Maha Pemurah bahkan telah mengharamkan diri-Nya untuk berlaku zalim, sejalan dengan sifat-Nya yaitu al-’Adl (Maha Adil).
Lalu, jika Allah Maha Adil, mengapa harus ada surga dan neraka, dosa dan pahala, serta kebaikan dan keburukan?
Kebaikan digambarkan seperti cahaya benderang yang membuat kita melihat dengan jelas. Sebaliknya, keburukan adalah kegelapan di mana cahaya petunjuk Allah telah hilang. Orang yang rajin menjemput hidayah akan ditunjukkan jalan kebaikan, sementara mereka yang malas akan terpuruk dalam keburukan.
Secara umum, kezaliman wajib dijauhi dan dibagi menjadi 3 macam:
1. Perilaku Zalim kepada Allah SWT
Zalim kepada Allah bermakna kesesatan yang nyata akibat menyimpang dari perintah-Nya, baik dalam perkara akidah maupun ibadah. Allah SWT berfirman:
وَٱلْكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254).
Kezaliman jenis ini umumnya dikelompokkan ke dalam tiga perbuatan besar, yaitu:
-
Syirik: Menyekutukan Allah (dosa terbesar yang tidak diampuni tanpa tobat, sesuai QS. An-Nisa’: 48).
-
Kufur: Mengingkari syariat dan menganggap perintah Allah sia-sia.
-
Nifaq: Bersikap munafik, menampilkan kebaikan di luar namun hatinya ingkar demi urusan duniawi (QS. Al-Baqarah: 8).
2. Perilaku Zalim kepada Diri Sendiri
Zalim kepada diri sendiri terjadi ketika seseorang melakukan perbuatan yang menjerumuskannya ke dalam kehinaan. Salah satu contoh nyatanya adalah memelihara kebodohan akibat malas menuntut ilmu.
Padahal, ilmu yang bermanfaat adalah wasilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba di mata Allah SWT, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11.
3. Perilaku Zalim kepada Orang Lain
Macam kezaliman yang ketiga adalah tindakan yang mengganggu kenyamanan, merugikan hak, atau menyakiti fisik dan perasaan orang lain.
Menariknya, Islam mengajarkan kita untuk menolong orang yang dizalimi sekaligus orang yang berbuat zalim itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda:
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.” Kemudian ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, aku bisa menolongnya jika ia terzalimi, namun bagaimana cara kami menolong orang yang menzalimi?” Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari no. 6952 & Muslim no. 2584).
Menolong pelaku zalim artinya aktif menasihati, mencegah tangannya agar berhenti berbuat merusak, serta mendoakannya agar kembali ke jalan yang benar.
Kesimpulan
Kezaliman adalah pintu utama menuju kehancuran. Manakala seseorang sudah kecanduan berbuat zalim, seluruh amalan baiknya akan hangus dan digantikan oleh kehinaan, baik selama hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Alafasy



