Kolom

Mengapa Kampus Kita Kiblat ke Barat? Padahal Metode Sorogan Pesantren Jauh Lebih Maju

Oleh: Heri Isnaini (Dosen Sastra IKIP Siliwangi)

PWMJATENG.COMDi sebuah pesantren yang masih mempertahankan tradisi lama, seorang santri duduk berhadapan dengan kiai. Di tangannya terbuka sebuah kitab kuning yang telah penuh coretan makna gandul. Ia membaca perlahan, sesekali terbata. Sang kiai membetulkan bacaan, menjelaskan maksud kalimat, lalu mengajukan pertanyaan.

Proses itu berlangsung tidak sampai lima belas menit. Namun, dalam waktu yang singkat itu terjadi sesuatu yang jarang kita temukan dalam ruang kelas modern: hubungan intelektual yang intim antara guru dan murid.

Masyarakat mengenal pemandangan semacam itu dengan istilah “sorogan” bersama “bandongan”. Kedua metode ini menjadi bagian penting dari tradisi pendidikan pesantren selama berabad-abad. Melalui jalur tersebut, ribuan ulama Nusantara lahir. Mereka tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menjadi pemimpin masyarakat, penulis, pejuang kemerdekaan, bahkan pembangun peradaban lokal.

Namun, ada sebuah pertanyaan besar yang layak kita ajukan. Jika metode itu telah teruji selama ratusan tahun dan berhasil melahirkan banyak tokoh besar, mengapa kita justru lebih sering merujuk kepada teori-teori dari Barat saat membicarakan pendidikan?

Mengapa nama-nama seperti Piaget, Vygotsky, Bruner, atau Dewey begitu akrab dalam ruang kuliah pendidikan? Sementara itu, publik sering kali hanya menyebut sorogan dan bandongan sebagai metode tradisional yang hidup di pesantren.

Mitos Modernisasi dan Superioritas Barat

Pertanyaan ini bukan sekadar soal pilihan metode belajar. Isu ini menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana kita memandang pengetahuan dan dari mana kita menganggap ilmu itu berasal.

Salah satu persoalan terbesar dalam dunia pendidikan Indonesia adalah kecenderungan berpikir bahwa sesuatu yang modern pasti lebih baik daripada sesuatu yang tradisional. Akibatnya, pembuat kebijakan sering memosisikan praktik pendidikan lokal sebagai peninggalan masa lalu yang perlu mereka perbarui atau bahkan mereka tinggalkan.

Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam, banyak metode pembelajaran modern sesungguhnya memiliki kemiripan dengan praktik yang telah lama hidup di pesantren.

  • Pesantren telah lama menerapkan metode sorogan jauh sebelum dunia pendidikan modern meramaikan istilah personalized learning.

  • Hubungan kiai dan santri juga telah menjalankan konsep mentoring system selama berabad-abad.

  • Selain itu, tradisi pembelajaran individual yang ketat di pesantren sudah berjalan lebih dahulu sebelum universitas bergengsi dunia memperkenalkan tutorial system.

Perbedaannya hanya satu: Barat melahirkan dan membungkus teorinya dengan bahasa akademik modern, sedangkan pesantren mewariskan tradisi lokal mereka melalui praktik nyata.

Sebab itulah, kita sering kali lebih mudah mengakui sebuah gagasan setelah gagasan itu memiliki nama asing. Kita merasa lebih percaya diri mengutip istilah student-centered learning daripada menjelaskan bagaimana sorogan membangun kemandirian belajar santri.

‘Coloniality of Knowledge’ di Perguruan Tinggi

Dalam kajian pascakolonial terdapat konsep yang bernama coloniality of knowledge atau kolonialitas pengetahuan. Konsep ini menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah dan sumber daya, tetapi juga menentukan pengetahuan mana yang absah dan mana yang masuk kategori pinggiran. Kita masih merasakan warisan semacam itu hingga hari ini.

Di banyak perguruan tinggi, teori pendidikan yang mendominasi umumnya berasal dari Eropa atau Amerika. Penulis Barat menulis buku-buku yang menjadi rujukan utama tersebut dalam bahasa Inggris. Jurnal yang menyandang status bereputasi tinggi pun sebagian besar berasal dari negara-negara Barat. Sementara itu, akademisi sering memperlakukan praktik-praktik pendidikan lokal sekadar sebagai objek penelitian, bukan sumber teori.

Kita meneliti pesantren. Kita mengamati sorogan. Kita mendokumentasikan bandongan. Namun, kita jarang sekali bertanya, apakah praktik-praktik itu dapat melahirkan teori pendidikan baru?

Akibatnya, pesantren sering hadir dalam literatur akademik hanya sebagai studi kasus, bukan sebagai pusat produksi pengetahuan. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Institusi ini adalah laboratorium kebudayaan yang berhasil bertahan melewati era kerajaan, kolonialisme, revolusi, hingga era digital.

Paradoks Pendidikan Modern yang Kaku

Tentu saja persoalannya tidak sesederhana menganggap Barat salah dan tradisi lokal benar. Ada alasan logis mengapa sistem pendidikan modern berkembang seperti sekarang. Negara modern membutuhkan pendidikan massal. Jutaan siswa harus belajar dalam waktu yang sama. Manajemen menuntut kurikulum harus seragam, evaluasi harus terukur, dan guru harus mampu mengajar puluhan siswa sekaligus.

Dalam konteks itu, metode sorogan memang menghadapi tantangan besar. Sorogan membutuhkan kedekatan personal antara guru dan murid. Metode ini memerlukan waktu yang panjang dan jumlah pengajar yang memadai. Apa yang efektif untuk dua puluh santri belum tentu mudah berjalan bagi empat puluh siswa dalam satu kelas.

Namun, justru di sinilah letak paradoksnya. Ketika pendidikan modern semakin besar dan birokratis, berbagai kritik muncul terkait hilangnya perhatian terhadap kebutuhan individual peserta didik. Banyak siswa merasa hanya menjadi angka dalam sistem. Hubungan antara guru dan murid menjadi semakin formal dan impersonal.

Sebab itulah, dunia pendidikan global mulai mencari kembali pendekatan yang lebih personal. Kini muncul konsep pembelajaran diferensiasi, pembelajaran adaptif, mentoring, coaching, dan berbagai bentuk pembelajaran berbasis kebutuhan individu.

Tanpa disadari, sebagian konsep itu bergerak mendekati apa yang telah lama berlaku dalam sorogan. Seolah-olah dunia modern sedang menemukan kembali sesuatu yang sebenarnya sudah lama hidup di Nusantara.

Membangun Epistemologi Pendidikan Nusantara

Masalah terbesar kita mungkin bukan kurangnya tradisi pendidikan, melainkan kurangnya keberanian untuk membangun teori dari tradisi tersebut. Kita memiliki pesantren, surau, hingga padepokan. Kita memiliki berbagai bentuk pendidikan komunitas yang telah bertahan selama berabad-abad. Namun, semua itu sering kali berhenti sebagai praktik belaka.

Padahal, teori tidak lahir dari ruang kosong. Pengalaman yang manusia refleksikan, sistematisasikan, dan kembangkan menjadi konseplah yang melahirkan teori.

Jika John Dewey membangun teorinya dari pengalaman pendidikan Amerika, mengapa kita tidak bisa membangun teori pendidikan Nusantara dari pengalaman pesantren? Jika Vygotsky merumuskan konsep perkembangan sosial berdasarkan konteks masyarakatnya, mengapa kita tidak mengembangkan konsep serupa berdasarkan hubungan kiai, santri, dan komunitas pesantren?

Kita penting mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, terutama ketika Indonesia sedang berupaya membangun identitas pendidikan yang lebih mandiri.

Meski demikian, kita wajib menghindari romantisme berlebihan terhadap tradisi. Tidak semua yang lama pasti baik, dan tidak semua yang baru pasti buruk. Kita perlu mengkaji tradisi secara kritis sebagaimana kita mengevaluasi teori modern secara kritis pula.

Bandongan, misalnya, sangat efektif untuk mentransmisikan ilmu kepada banyak santri. Namun dalam praktik tertentu, metode ini dapat menjadi terlalu berpusat pada guru jika pengajar tidak membuka ruang dialog.

Demikian pula pendidikan modern memiliki banyak keunggulan dalam hal akses, teknologi, dan pengelolaan pembelajaran skala besar. Sebab itu, tujuan kita bukan mengganti seluruh teori Barat dengan metode lokal. Langkah yang lebih penting adalah membangun dialog yang setara antara keduanya.

Kita tidak perlu menolak Piaget untuk menghargai sorogan. Kita juga tidak perlu menolak Dewey untuk memahami nilai-nilai pendidikan pesantren. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk menyatakan bahwa pengalaman pendidikan Indonesia juga layak menjadi sumber teori.

Kemerdekaan Intelektual: Bergerak Menjadi Pencipta Teori

Pada akhirnya, persoalan sorogan dan bandongan bukan hanya soal metode pembelajaran. Masalah ini menjadi cermin tentang bagaimana bangsa ini memandang dirinya sendiri. Selama kita terus menganggap teori harus datang dari luar, selama itu pula kita akan menjadi konsumen pengetahuan. Kita akan sibuk mengimpor konsep, menerjemahkan istilah, dan menyesuaikan diri dengan kerangka berpikir orang lain.

Namun, ketika kita mulai melihat pesantren, surau, dan berbagai tradisi pendidikan Nusantara sebagai sumber pemikiran yang sah, saat itulah kita bergerak dari sekadar pengguna menjadi pencipta teori. Mungkin inilah pelajaran paling penting yang dapat kita ambil dari sorogan dan bandongan.

Nilainya bukan semata-mata terletak pada cara mengajar kitab kuning, melainkan pada kesadaran bahwa Nusantara telah lama memiliki tradisi intelektual yang kaya.

Tantangannya sekarang bukan lagi membuktikan bahwa tradisi itu pernah berhasil karena sejarah telah membuktikannya. Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki keberanian intelektual untuk menjadikannya sebagai landasan dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia.

“Sebab sebuah bangsa tidak akan pernah benar-benar merdeka jika ia hanya menjadi tempat beredarnya teori orang lain.”

Masyarakat meraih kemerdekaan intelektual ketika mereka mampu membaca kembali warisan pengetahuannya sendiri, mengolahnya secara kritis, lalu menawarkannya kepada dunia sebagai sesuatu yang bernilai universal. Dan mungkin, salah satu pintu menuju ke sana berada di ruang-ruang sederhana pesantren, ketika seorang santri menyodorkan kitabnya kepada seorang kiai dalam tradisi yang kita sebut sorogan.

Editor: Alafasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://middlepassage.dei.uc.pt/https://privacycolab.dei.uc.pt/https://cmd.dei.uc.pt/https://henrique.dei.uc.pt/https://hormon-osteoporosezentrum.de/
https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://aku.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/https://akperstg.ac.id/
zonawin777zonawin777