Widhi Handoko : “Jika kepemimpinan saya bengkok, saya bersedia diturunkan”

0
501

Semarang – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang yang baru terpilih pada Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kota Semarang Januari lalu, H. Widhi Handoko, SH, SpN, mengaku, keterpilihannya sebagai Ketua PDM Kota Semarang merupakan tanggung jawab yang berat. Untuk itu, dibutuhkan kolektivitas dari seluruh pimpinan harian, pengurus, dan kader untuk memajukan jam’iyyah Muhammadiyah.
“Saya berusaha amanah, tapi harus jalan bersama. Saya berkomitmen menjadi pemimpin sesuai pedoman yang tercantum dalam buku Tigapuluh Pedoman Anggota Muhammadiyah karangan H AR Fachrudin,” tuturnya.
Dia yang juga menjadi Konsultan Polri selama 14 tahun itu meminta agar selalu diawasi dan diingatkan jika melakukan khilaf.
“Jika kepemimpinan saya benar-benar bengkok, saya bersedia untuk diturunkan sebagai Ketua PDM Kota. Sebab, jabatan di Muhammadiyah bukanlah aji mumpung atau mencari popularitas dan kekayaan. Ini murni amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara penuh,” ungkapnya.
Ke depan, dirinya mengutamakan pembenahan internal organisasi, terutama menguatkan kekompakan seluruh jajaran pengurus dan anggota Muhammadiyah di tingkatan cabang dan ranting. “Saya siap rutin turun ke bawah, menyaring aspirasi kader,” kata dia.
Terkait program unggulan, lulusan program Doktor Hukum Undip itu berkomitmen mengidentifikasi amal usaha Muhammadiyah termasuk memanfaatkan tanah-tanah yang hingga kini dibiarkan. Selain itu, ditargetkan selama 5 tahun mendatang, Muhammadiyah Kota memiliki pondok pesantren.
Notaris sekaligus Dosen Akpol itu terpilih memimpin Muhammadiyah Kota Semarang periode muktamar ke-46 (2010-2015) setelah meraih suara terbanyak dan disepakati 13 calon tetap pimpinan dalam musyawarah daerah di SMA Muhammadiyah I, Jl Tentara Pelajar, Januari lalu.
Widhi Handoko yang sebelumnya aktif sebagai Ketua Majelis Wakaf PDM Kota Semarang, meraih suara 124 dari total 2177 suara yang diperebutkan dari empat perwakilan pimpinan cabang (kecamatan) dan satu perwakilan pimpinan ranting (kelurahan).
Sementara itu, 12 pimpinan harian yang terpilih yakni Danusiri (118 suara), Shofa Chasani (115), Budiyono (113), Machasin (111), Parlin (99), Fachrur Rozi (96), Aan Jumeno (94), Nurbini (93), Soeratman HM (92), Zaenal Arifin (85), Suparno BM (75), dan Sarwoko Oetomo (74).
SEMARAK MUSYDA
Semarak Musyda bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang dimulai Pembukaan Musyda dengan pengajian umum Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA, di halaman Balai Kota Semarang.
Musda dibuka oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng, Drs H Musman Tholib, MAg, dan dihadiri oleh Pemerintah Kota Semarang beserta jajaran Muspida, wakil parpol, ketua MUI Kota, ketua organisasi keagamaan dan organisasi pemuda, dan 5000 orang dari simpatisan, jajaran pimpinan Muhammadiyah tingkat daerah, cabang, dan ranting, serta para guru, karyawan, siswa sekolah Muhammadiyah.
Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan pentas seni kreativitas para siswa sekolah Muhammadiyah di Semarang, serta demo/pentas tapak suci secara kolosal oleh 100 pendekar tapak suci Muhammadiyah tingkat SD hingga SMA se-Kota Semarang
Dalam rangkaian Musda tersebut, juga diadakan pelantikan Pemuda Muhammadiyah Jateng, serta malam harinya diselenggarakan pentas wayang kulit semalam suntuk di halaman gedung PDM Kota Semarang, Jl Singosari Timur 1/A, dengan dalang Ki Ketut Budiman, yang juga aktifis Pemuda Muhammadiyah.
Selain itu, acara juga dimeriahkan oleh pelantikan PD Pemuda Muhammadiyah dan PD Nasyiyatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang, serta penggalangan dana untuk korban banjir lahar dingin Merapi di Magelang. (Din/SM)