Unimus Gelar Seminar Islam dan Globalisasi

0
271

SEMARANG – Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) beberapa waktu yang lalu menyelenggarakan Seminar Islam dengan tema “Islam dan Globalisasi: Peluang dan Tantangan” di Gedung nursing Research Center (NRC), Jl. Kedungmundu Raya No. 8 Semarang. Seminar tersebut dibuka oleh Rektor Unimus, Prof. Dr. H. Djamaluddin Darwis, MA, dan dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Tembalang serta seluruh dosen dan karyawan Unimus.
Pembicara seminar tersebut, Prof. Dr. Ir. H. Achmad, MS, yang juga dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia termasuk masyarakat muslim, tidak perlu takut dan merasa dihantui dengan pesatnya arus globalisasi yang melanda negeri ini. Globalisasi membawa dampak positif dan negatif sehingga yang diperlukan adalah mewaspadai dampak negatif globalisasi. “Globalisasi bukan hantu tapi perlu diwaspadai dampak-dampak negatifnya termasuk di kalangan remaja. Saat ini remaja memang lebih dekat dengan televisi dibanding sumber-sumber lain yang mengandung nilai dan budaya luhur. Kita tidak boleh bingung akan mencari pegangan karena sesungguhnya agama Islam sudah lengkap mengajarkan nilai-nilai yang berlaku saat ini bahkan yang akan datang. Juga ajaran bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai penuh keluhuran”, jelas Prof. Achmad.
Menurut Prof. Achmad, dari rangkaian kunjungan ke sejumlah negara, termasuk negara-negara Barat, Amerika dan Eropa, masyarakat Indonesia tidak perlu mengkiblat negara Barat, khususnya soal nilai budaya yang bertentangan dengan nilai luhur bangsa dan agama. “Justru saat ini Barat pada kondisi bingung atau “galau” dan kawatir akan semakin merosotnya moral dan keagamaan masyarakatnya”, tegas Prof. Achmad.
Prof. Achmad juga menjelaskan banyaknya free sex, perkawinan sejenis, serta semakin sedikitnya penduduk yang mau menikah dan enggan melahirkan menjadikan sejumlah negara kebingungan akan masa depan negara tersebut. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk di negera Barat cenderung menurun. Nantinya ada masa dimana negara-negara Barat akan kembali mengikuti budaya dan agama masyarakat Timur. Sehingga masyarakat Indonesia sebagai orang Timur tidak perlu bingung, takut dan dihantui gencarnya serangan globalisasi beserta dampak yang ditimbulkannya. Masyarakat Indonesia tidak boleh terseret hal-hal negatif yang dikembangkan oleh sejumlah negara Barat.
Lebih lanjut, Prof Achmad menyampaikan Indonesia harus semakin mendorong generasi mudanya studi setinggi-tingginya dan berkarya nyata di negeri sendiri dan internasional. Selain itu, dialog Islam dengan berbagai pihak yang tidak sepemahaman dengan Islam termasuk dengan dunia Barat harus dilakukan secara dialogis, damai dan tidak anarkhis karena Islam tidak mengenal anarkhisme. (Fakhrudin/unimus.ac.id)