Taufiq Kiemas, Soekarno dan Muhammadiyah

0
325

Taufiq Kiemas, Soekarno dan Muhammadiyah
Oleh: Mustofa B Nahrawardaya

Jakarta – Tidak banyak yang tahu, bagaimana dekatnya Taufiq Kiemas dan Muhammadiyah. Dua tahun silam, tepatnya Jumat 29 Juli 2011, sebuah lift baru di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah diresmikan. Selain Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, maka Ketua MPR RI Taufiq Kiemas pun termasuk yang ikut meresmikan penggunaan lift tersebut. Lha kok Taufiq Kiemas ikut meresmikan?
Ceritanya, suami Megawati Soekarnoputri tersebut memang sudah lama runtang-runtung dengan Din Syamsuddin karena sama-sama memiliki visi besar memperbaiki bangsa melalui berbagai aksi besar di Jakarta maupun berbagai kota besar yang lain di Indonesia. Alhasil, kedua tokoh ini pun sering bertemu, sering saling undang. Keduanya tak terhitung lagi berapa kali bertemu dan saling tukar pandangan membicarakan persoalan bangsa dan negara Indonesia.
Suatu hari, almarhum hadir di PP Muhammadiyah Jakarta. Namun ketika ingin naik ke lantai 2 yakni ruangan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, TK—panggilan menantu Bapak Proklamator RI ini, mengaku kesulitan dan nyaris tidak sampai di ruangan Din. Maklumlah, selain usia, tubuh almarhum memang tergolong besar. Oleh karenanya, meskipun dengan susah payah, TK pun lalu mencapai lantai 2 gedung di Jl Menteng Raya 62 Jakarta Pusat tersebut.
Tak disangka, beberapa hari kemudian, TK menelepon Din Syamsuddin dan bermaksud membantu pembangunan lift agar tidak menyulitkan orang yang ingin menaiki gedung berlantai 4 itu. Beberapa saat kemudian, Taufiq Kiemas pun membangun lift lengkap dengan interior setiap pintunya. Maka dari itu, saat diresmikan, Taufiq Kiemas pun hadir dan turut meresmikan dengan menggunting pita.
Alhasil, setelah sukses dibangun dan diresmikan, maka TK pun sering menghadiri acara di PP Muhammadiyah. Selain memudahkan almarhum menaiki lantai demi lantai, kini lift tersebut sangat membantu banyak aktifitas yang menghubungan antar lantai tentunya. Bahkan, tidak hanya menjangkau lantai 4, lift tersebut kini dibangun hingga menjangkau lantai 5 untuk persiapan penambahan lantai Gedung PP Muhammadiyah.
Tidak bisa dikisahkan, seberapa besar manfaat lift di Kantor Muhammadiyah Pusat ini. Bantuan Taufiq Kiemas kepada Muhammadiyah tidak hanya itu. Ketika Universitas Muhammadiyah Prof HAMKA (Uhamka) di Pasar Rebo membangun Kampus baru, almarhum Taufiq Kiemas juga membantu biaya pembangunan gedung tersebut. Berkat bantuannya, maka ribuan mahasiswa Uhamka kini bisa dengan nyaman menempati kampus megah di kawasan Jakarta Timur ini.
Peresmian Kampus Uhamka, dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Taufik Kiemas, serta beberapa pejabat negara seperti Menhut Zulkifli Hasan yang turut membantu pembangunan Kampus Uhamka. Kampus ini diresmikan pada 26 Juni 2010, dan hingga sekarang sudah banyak dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keummatan.
Melalui PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Taufiq Kiemas juga mendekatkan Muhammadiyah dengan dirinya. Atas prakarsa Muhammadiyah sebagai salah satu penggagasnya, maka terbentuklah Bamusi (Baitul Muslimin Indonesia), salah satu sayap politik PDIP yang memang disiapkan untuk membumikan Islam melalui jalur politik di PDIP. Din Syamsuddin yang menginisasi bersama beberapa tokoh Ormas Islam lainnya, maka Bamusi berhasil didirikan pada 29 Maret 2007 di Jakarta. Sejak itu, antara Bamusi dan Muhammadiyah pun sering bertemu dan menggelar aksi bersama untuk kepentingan umat.
Misalnya pada 1 Oktober 2008, Muhammadiyah dan Bamusi, mengadakan salat Iedul Fitri bersama di Gelora Bung Karno (GBK). Ribuan Islam mengikuti dengan seksama salat Iedul Fitri ini. Beberapa ormas lain juga ikut menjadi penggagas pelaksanaan salat Iedul Fitri bersama itu, di antaranya Pemuda Pancasila, Angkatan Muda Ka’bah, serta Pelajar Islam Indonesia. Muhammadiyah dan Baitul Muslimin Indonesia, serta banyak Ormas tersebut bersama-sama mempersiapkan salat Iedul Fitri selama 2 minggu, sejak rapat perdana pada 16 September 2008.
Tidak hanya di Jakarta, Bamusi Daerah pun juga menjalin hubungan yang baik dengan Muhammadiyah. Sebagai contoh, ketika digelar dialog menjelang Pilada Jatim, 2012 silam, Bamusi Jatim juga mengundang Rektor UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) Muhajir Effendi. Banyak Bamusi di Provinsi lain, juga menyelenggarakan acara serupa, dengan melibatkan Muhammadiyah setempat.
Ketika HUT Bamusi pada akhir Mei 2013 silam, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pun hadir. Pada kesempatan itu, Taufiq Kiemas pun berpesan, bahwa Bamusi bagaimanapun harus berhasil merebut garis tengah umat Islam dengan organisasinya tersebut. Sebagai penggagas Bamusi, Muhammadiyah sangat berkepentingan dengan berdirinya sayap politik PDIP tersebut, karena tak bisa dipungkiri, untuk membumikan Islam, berdakwah, dan menyebarkan ajaran serta nilai-nilai Islam, Muhammadiyah tidak mungkin bisa bekerja sendirian.
Sejak itu, tidak terhitung lagi berapa kali Taufiq Kiemas hadir ke Muhammadiyah bertemu Din Syamsuddin dan “jamaah” Muhamamdiyah yang lain. Bahkan almarhum menjadi narasumber Pengajian Bulanan rutin PP Muhammadiyah.
Pada beberapa kali pertemuan besar Tokoh Bangsa, TK pun hadir dan turut memberikan pendapat dan masukan bersama tokoh lain. Meski banyak tokoh lain yang hadir, namun almarhum termasuk salahsatu tokoh yang sangat disegani oleh tokoh lain karena kesenioran-nya dalam berpolitik.
Terakhir, almarhum hadir di PP Muhammadiyah pada Pengajian Bulanan dengan tema ‘Menegakkan Kedaulatan Negara Dengan Empat Pilar Bangsa’ Kamis (28/3/2013) silam, dan mendapatkan banyak apresiasi positif dari sekitar 500 peserta pengajian yang hadir. Almarhum dengan panjang lebar menceritakan hubungan dirinya dengan sejarah partai Islam, maupun hubungan keluarga mertuanya, Soekarno dan Muhammadiyah.
Sekedar diketahui, mertua almarhum, yakni Ir Soekarno memang seorang Muhammadiyah. Saksi sejarah tentang Muhammadiyah-nya Soekarno, masih bisa ditemukan di berbagai tempat. Salah satunya, adalah adanya dua surat Soekarno yang saat ini masih disimpan rapi di rumah bekas pengasingannya di Bengkulu. Surat tersebut ditandatangani Ir Soekarno, yang waktu itu menjabat Voorzitter Consul Hoofdbestuur Moehammadijah Daerah Benkoelen. Jabatan Soekarno bisa diketahui juga dari surat tersebut.
Ketika Soekarno diasingkan ke Bengkulu tahun 1938, mertua TK ini kemudian bertemu dengan banyak tokoh Islam di sana. Salah satunya adalah H. Hasan Din, seorang tokoh Muhammadiyah Bengkulu. Hasan Din memiliki anak perempuan cantik bernama Siti Fatimah yang kemudian diperistri Soekarno. Mungkin Anda tidak tahu, siapa Siti Fatimah? Beliau adalah Fatmawati, Ibunda Megawati Soekarno Putri.
Setelah menikah dengan Soekarno, Siti Fatimah mengganti nama dirinya dengan Fatmawati. Dari perkawinannya dengan Fatmawati, Soekarno dikaruniai 5 anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
Dari kesekian anak Fatmawati, Megawati-lah yang berhasil menapak dunia politik hingga menjadi Presiden menggantikan Abdurrahman Wahid pada 2001 silam. Hal itu tidak bisa terlepas dari peran suami Mega, almarhum Taufiq Kiemas yang wafat di Singapura dan dimakamkan Minggu (9/6/2013) hari ini.
Oleh karenanya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pun dari Malang meminta kepada segenap warga Muhammadiyah untuk turut melakukan salat ghaib atas wafatnya menantu Proklamator RI itu.

*) Mustofa B Nahrawardaya, Anggota Majelis Pustaka & Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Koordinator IJF (Indonesia Journalist Forum), bisa dihubungi di twitter: @MustofaNahra.

Artikel ini juga dimuat di detikcom (Fakhrudin)