Tafsir: “Syahwat Kemanusiaan”

0
377

Syahwat Kemanusiaan

Oleh: Tafsir

Kekuatan Muhammadiyah setidaknya ditopang oleh tiga hal, yaitu
jamaah, struktur organisasi dan amal usaha atau yang beken dengan
sebutan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ketiga kekuatan tersebut menyatu
dalam sebuah sinergitas memancarkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar
menuju the real muslim society (masyarakat muslim yang sebenarnya) yang
terbingkai dalam kalimat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Kekuatan jamaah mengindikasikan Muhammadiyah sebagai organisasi massa
yang terbentuk dari kumpulan banyak orang dengan visi atau mindset dan
tujuan yang sama. Dari sini Muhammadiyah dapat dipahami sebagai
kekuatan arus bawah dengan penuh kesadaran yang kemudian menghimpun
diri menjadi sebuah kekuatan dahsyat dalam sebuah nidham (peraturan
organisasi sistematis) yang darinya menghasilkan aktivitas positif bagi
upaya memanusiakan manusia.  Muhammadiyah adalah sebuah nidham yang
menegakkan kebenaran, sebagai lawan kebatilan, kebenaran yang tak
terorganisir dapat terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Oleh
karena itu kekuatan jamaah perlu ditampilkan untuk menunjukkan
kekuatannya sebagai sebuah organisasi massa.
Betapa kekuatan jamaah perlu sekali waktu ditampilkan pernah dilakukan
Nabi Muhammad saw pada peristiwa Fath al-Makkah (terbukanya Kota
Makkah). Setelah berhasil membangun masyarakat muslim di Madinah,
beliau dengan mengerahkan ratusan ribu jamaah berbaris ke Makkah dan
itu membuat miris para pemimpin dan masyarakat kafir Makkah. Maka
mereka pun berbondong-bondong masuk Islam dan jatuhlah Kota Makkah ke
tangan umat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Oleh Philip K Hitti dikatakan, sejak jatuhnya Kota Makkah ke tangan
umat Islam dan Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin Arab (bukan hanya
Islam) ketika itu. Ini semua adalah kekuatan jamaah.
Sebagai organisasi massa Islam yang digolongkan modern, Muhammadiyah
memiliki struktur organisasi berjenjang secara hierarkis dari yang
terendah yaitu ranting sampai yang tertinggi, yakni pimpinan pusat.
Kekuatan Muhammadiyah tidak hanya terletak pada anggota dan struktur
organisasi, tetapi juga oleh amal usahanya yang sedemikian banyak dan
beragam.
Amal Usaha Muhammadiyah  meliputi bidang-bidang pendidikan, kesehatan,
sosial, ekonomi dan sebagainya. Muhammadiyah Jawa Tengah memiliki lima
universitas di Semarang, Surakarta, Magelang, Purworejo dan Purwokerto.
Belum lagi yang berupa Sekolah Tinggi dan Akademi. Keseluruhan
mahasiswa yang ada bisa mencapai 50.000 orang. Belum lagi jumlah dosen
dan stafnya. Belum lagi sekolah, panti asuhan, pondok pesantren, rumah
sakit dan sebagainya.

Tidak Cukup
Kesan yang ada selama ini, struktur di level cabang dan ranting relatif
lebih lemah di banding pada level daerah dan wilayah. Ini tidak boleh
dibiarkan berlama-lama. Sebab kekuatan di level bawah itulah kekuatan
sejati Ormas seperti Muhammadiyah ini. Itulah sebabnya penguatan basis
bawah Muhammadiyah harus terus dibangun melalui Program Pemberdayaan
Cabang dan Ranting.
Berjamaah saja tentu tidak cukup. Islam menekankan amal atau perbuatan
dari pemikiran. Amal adalah manifestasi pemikiran dan pemahaman
terhadap Islam. Dari sinilah kemudian menghasilkan amaliah kolektif
yang terkenal dengan istilah AUM. AUM memiliki nilai strategis bagi
organisasi atau persyarikatan, bangsa dan kemanusiaan.
Bagi persyarikatan, AUM berfungsi sebagai alat dakwah, kaderisasi,
kemanusiaan dan pengembangan ekonomi. Sebagai alat dakwah, karena
pelayanan publik yang kita lakukan adalah cerminan keislaman dan sarana
syiar Islam dalam bentuk perbuatan nyata, yang dalam terminologi dakwah
sering disebut sebagai dakwah bi al-hal. Fungsi penting lain AUM tentu
saja adalah sebagai media pencetakan kader Muhammadiyah. Untuk yang
satu ini sering terjadi benturan kepentingan. Karena kerap terjadi kita
mengambil tenaga di AUM berhadapan dengan persoalan profesionalisme dan
kemanusiaan.
Pengelola AUM harus berbasis kader adalah harga mati. Tetapi kita juga
tidak ingin pengelola AUM yang tidak profesional di bidangnya. Di
samping itu, AUM juga harus memenuhi kualifikasi eksternal seperti
Depdiknas di bidang pendidikan, Depkes di bidang kesehatan dan
sebagainya. Harus menjadi bahan renungan bagi para aktivis AMM untuk
memenuhi kriteria profesional dan kualifikasi yang dibuat lembaga
terkait jika tidak ingin tersingkir dari percaturan pengelolaan AUM.

Syahwat Kemanusiaan
Karakter orang Muhammadiyah adalah sense of humanity atau syahwat
kemanusiaannya yang sangat besar. Sehingga tidak jarang ketika merekrut
tenaga untuk AUM, pertimbangan kemanusiaan mengalahkan kepentingan
kaderisasi. Seorang direktur RS PKU tidak akan tega melihat di dekat
rumahnya ada anak yatim yang belum bekerja. Dalam situasi seperti ini,
rasa kemanusiaan dapat mengalahkan segalanya. Namun demikian kita akan
selalu berkomitmen AUM adalah bagian dari media kaderisasi. Sense of
humanity inilah yang penulis sebut dengan kasih sayang.
Mendengar kata kasih, kita seolah terbawa pada istilah lazim Kristen,
karena dalam tradisi Kristen ungkapan “kasih Allah” telah menjadi idiom
bakunya. Bahkan mereka terbiasa menyampaikan ungkapan God is Love
(Tuhan adalah kasih, cinta). Dari sini kemudian terbentuk citra yang
agaknya menyudutkan Islam, bahwa Kristen dibangun di atas paradigma
kasih, sedangkan Islam dibangun di atas paradigma jihad. Jihad sering
dipahami sebagai perang yang identik dengan kekerasan dan teror.
Sebagai nilai kemanusiaan, Islam sangat akrab dengan nilai kasih dan
sayang yang dalam term Alquran terekspresikan dalam kata ar-rahman dan
ar-rahim. Bahkan ini sebenarnya menjadi ruh setiap perilaku seorang
muslim. Sebab dalam semua tindakannya, setiap muslim selalu harus
mengucapkan kalimat basmallah, bismillahirrahman ar-rahim (dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang). Perbuatan yang
dilakukan tanpa membacanya maka terputus nilai ukhrawinya. Kedua kata
ini juga terdapat dalam surat Al Fatihah yang wajib dibaca dalam setiap
salat. Bisa dibayangkan berapa banyaknya kata kasih sayang setiap hari
meluncur dari ucapan setiap muslim. Persoalannya, sejauh mana kita
menghayati dan mengamalkan ucapan tersebut sering menjadi tidak
sinkron. (Sumber: Joglo Semar/Fakhrudin)