Tafsir: Pembaruan Muhammadiyah

0
522

MENCERMATI starting point kelahiran Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan, bertolak dari dua premis. Pertama, fenomena sosial empiris yang memperlihatkan betapa tertinggalnya umat Islam dalam percaturan modernitas. Kedua, begitu jauhnya umat Islam terlepas dari semangat Alquran dan keteladanan Rasulullah Muhammad saw.
Dari titik itu, Kiai Ahmad Dahlan mencari solusi dalam bentuk pencerahan (enlightenment, tanwir) dan pembebasan (liberasi) umat Islam dari keterbelakangan dan kejumudan. Pencerahan yang dilakukan dalam rangka membebaskan umat dari kejumudan dengan cara kembali kepada Alquran dan Sunah.
Adapun langkah liberasi dilakukan lewat mendirikan lembaga-lembaga pelayanan publik modern, seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Pencerahan dan pembebasan yang dilakukan untuk ukuran waktu itu merupakan pembaruan yang sangat progresif. Ia terlalu cepat lahir untuk zamannya. Tetapi kini semua itu jadi hal biasa dan tidak lagi sesuatu yang baru.
Karena itu, bila Muhammadiyah terjebak pada rutinitas pragmatis, hanya sibuk mengelola amal usaha, apalagi amal usaha itu tidak mampu berkompetisi dengan amal usaha sejenis milik orang lain, itu artinya Muhammadiyah kehilangan arah pembaruan dan progresivitasnya. Boleh saja Muhammadiyah berkilah dengan perkembangan amal usaha yang tiap hari secara kuantitatif bertambah sebagai wujud kemajuan.
Namun sebuah gerakan pembaruan tidak cukup hanya diukur dari jumlah amal usaha yang dihasilkan tanpa diimbangi kelahiran produk-produk pemikiran atau ijtihad yang dihasilkan. Terdapat beberapa hal yang perlu perumusan ulang (reformulasi) di lingkungan Muhammadiyah. Pertama, rumusan corak pembaruan itu sendiri.
Perlu mencari rumusan tepat mengenai paradigma pembaruan Muhamadiyah yang tepat untuk saat ini. Sebab rumusan pembaruan yang selama ini digunakan yakni ”kembali kepada Alquran dan Sunah” memerlukan penjelasan lebih lanjut. Memang corak seperti ini merupakan satu dari sekian model pembaruan pemahaman Islam.
Tapi andai corak seperti itu salah arah justru berkecenderungan pada pemahaman Islam yang sempit dan bersifat, mundur ke belakang. Dalam sejarah pembaruan pemikiran Islam corak pemahaman seperti ini sering dialamatkan pada paham Wahabi di bidang teologi dan Hanbali di bidang fikih.
Lebih Eksis
Muhammadiyah bukanlah neo- Wahabisme maupun neo-Hanbalisme. Kedua paham tersebut kurang tepat sebagai model pembaruannya karena berkecenderungan pada pola pemahaman terhadap teks Alquran dan Sunah yang sempit.
Andai memilih model tersebut, Muhammadiyah bakal mengalami kesulitan menghadapi perubahan ruang dan waktu yang memerlukan kontekstualisasi dalam memahami Alquran dan Sunah. Perlu perumusan ulang (reformulasi) terhadap paradigma kembali kepada Alquran dan Sunah yang lebih progresif supaya Muhammadiyah bisa lebih eksis memainkan peran sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia.
Terlebih Muhammadiyah memiliki lembaga pelayanan publik yang mau tidak mau harus berhadapan dengan situasi di mana lembaga itu berada, baik secara hukum, tradisi maupun tata sosial yang lain. Lembaga sosial ini akan sulit berkembang bila hanya terkungkung makna teks Alquran dan dan hadis tanpa sentuhan ijtihad kreatif dan progresif. Kedua, hilang atau menyempitnya ruang ijtihad. Pada awal berdirinya, Kiai Ahmad Dahlan muda begitu kreatif dalam berijtihad, khususnya ijtihad sosial.
Tetapi dalam perkembangannya proses kreatif yang bernuansa pembaruan (tajdid) menyempit penjadi pemurnian (purifikasi). Celakanya, purifikasi diartikan skriptualisasi atau tekstualisasi dengan mengacu teks Alquran dan hadis. Akibatnya, ketika ada fenomena yang secara tekstual dalam kedua sumber tersebut bukannya dicarikan ruang ijtihad melainkan langsung divonis bidíah dan sesat.
Padahal kita tahu banyak persoalan dan nilai-nilai sosial seperti kearifan lokal yang secara tekstual tidak tercantum dalam Alquran dan hadis. Muhammadiyah telah menjadi satu dari dua arus utama Islam di Indonesia, selain NU.
Muktamar di Makassar bisa jadi momentum strategis membenahi kekurangan, termasuk kemandekan ijtihad yang telah lama disadari. Sudah saatnya kembali merumuskan paradigma pembaruan guna menopang paham Islam yang berkemajuan sebagai karakter paham keagamaan Muhammadiyah.

— Penulis: Drs. Tafsir, M.Ag, Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang. (10/suaramerdeka.com/Fakhrudin)