Tafsir: Ketulusan Yang Kian Langka

0
277

Pernah, dan tidak hanya satu kali, penulis datang di suatu tempat terpelosok, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Bagi yang pertama kali berkunjung, dipastikan ia tidak akan menduga bahwa di tempat tersebut telah berdiri Ranting Muhammadiyah. Desa itu terletak di pelosok dan harus melewati hutan lebat dengan kondisi jalan sempit berbatu. Akan terbengong lagi ketika melihat penampilan jamaah pengajian yang sebagian besar bersarung. Beberapa di antara mereka malah mengenakan sorban laiknya kiai pengasuh sebuah pondok pesantren. Lebih khas lagi, mereka tak pernah berhenti merokok sepanjang acara.
Situasi tersebut tentu jauh dari kesan Muhammadiyah yang selama ini dikesankan sebagai gejala kota. Tetapi itulah kenyataannya. Itu adalah acara Muhammadiyah. Sekali lagi, penulis benar-benar pernah menghadiri pengajian yang diadakan oleh Ranting Muhammadiyah di desa tersebut.
Penulis makin takjub karena acara itu tak cuma pengajian, tapi juga peresmian sekolah Muhammadiyah. Dilihat dari bangunan rumah warga desa tersebut, latar belakang ekonomi mereka tampaknya tidak menonjol. Namun, ketulusan mereka untuk menjadi pejuang sosial lewat Muhammadiyah patut diacungi jempol. Semangat berlomba-lomba dalam kebaikan melekat dalam diri Ranting Muhammadiyah itu yang termanifestasikan dalam pendirian sekolah Muhammadiyah.
Ya, branding! Tampaknya, memang telah menjadi branding Muhammadiyah bahwa tak ada Ranting tanpa amal usaha Muhammadiyah (AUM). Belum dikatakan Ranting Muhammadiyah sejati bila aktivitasnya hanya sebatas pengajian saja. Tak hanya itu, branding lain yang terjaga dari aktivitas di balik pembangunan AUM itu adalah “bersih tanpa korupsi.” Itulah ketulusan hati yang harus kita tiru. Mengapa? Dengan khusuk, penulis menyimak laporan panitia pembangunan AUM. Dikatakan, Ranting Muhammadiyah itu mampu membangun TK ABA sebanyak tiga lokal dengan menghabiskan anggaran 52 juta rupiah. Tentu, ini sulit dipahami dalam hitungan matematika, apalagi oleh logika orang yang sudah terbiasa menjadi pimpinan proyek pemerintah. Sebab, ada anggapan bahwa dalam setiap proyek pemerintah selalu ada kebocoran sekitar 30 persen.
Di Muhammadiyah sebaliknya. Para pimpinannya dapat mengelola anggaran yang ada untuk menghasilkan bangunan senilai tiga kali lipat dari anggaran yang ada. Jika anggaran yang ada 52 juta rupiah, maka bangunan yang dihasilkan secara riil bernilai tidak kurang dari 150 juta rupiah berupa tiga ruang kelas.
Terdapat nilai-nilai yang dapat diteladani dari para pemimpin lokal Muhammadiyah di tingkat basis bawah. Nilai-nilai keteladanan itu meliputi kebersamaan, keterbukaan, keikhlasan, dan semangat berkemajuan. Nilai kebersamaan yang dibangun tidak sebatas sesama warga Muhammadiyah, tetapi seluruh komponen masyarakat terlibat pada pembangunan sekolah. Mereka juga tidak segan-segan menyerahkan sebagian harta yang dimilikinya mulai dari uang sampai material bangunan demi selesainya pembangunan sekolah. Semangat inilah yang membuat anggaran yang ada dapat menghasilkan bangunan yang jumlahnya hingga tiga kali lipat.
Nilai transparansi terlihat sangat jelas ketika secara rutin panitia melaporkan berapa uang yang masuk dan keluar dengan sangat detail, jujur, dan apa adanya. Dengan cara ini, semua anggota masyarakat mengetahui berapa jumlah dana yang ada dan apa yang harus dilakukan jika kekurangan dana. Suatu nilai yang sangat indah untuk kita teladani.
Keikhlasan tentu saja hanya Allah dan yang bersangkutan yang mengetahuinya. Tetapi dilihat dari kegigihan mereka mengerahkan segala kemampuan yang ada demi selesainya bangunan yang menyangkut hajat orang banyak, tampaknya sulit untuk mengatakan mereka sebagai orang tidak ikhlas.
Semangat berkemajuan adalah branding Muhammadiyah dalam menampilkan wajah ke-Islamannya. Begitupun bagi Ranting Muhammadiyah di desa terpencil. Oleh karena itu, tak heran jika yang ada dalam pikiran warga Muhammadiyah pastilah bagaimana mampu mencerdaskan masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, di mana pun mereka berada akan selalu mendirikan sekolah di segala tingkatan.
Ciri kemajuan setidaknya dilihat dari tingkat pendidikan dan kesehatan. Karenanya, dua program ini selalu ada dalam pikiran warga Muhammadiyah di mana dan kapan pun. Terlalu ideal jika nilai-nilai tersebut diteladani apa adanya bagi para penyelenggara negara maupun komponen masyarakat yang lain. Tetapi setidaknya dapat memberi inspirasi dalam membangun bangsa ini. Tidak mungkin membangun fasilitas pemerintah menghasilkan bangunan tiga kali lipat dari anggaran yang ada seperti yang banyak terjadi di Ranting maupun Cabang Muhammadiyah.
Kontras dengan Muhammadiyah, praktik-praktik korupsi dalam bentuk proyek pembangunanisasi fasilitas publik oleh negara telah jamak dipahami. Alih-alih menghasilkan proyek dengan nilai tiga kali lipat dari anggaran yang ada, meminimalisir kebocoran kurang dari 30 persen sudah merupakan bagian dari tranparansi yang luar biasa. Menemukan kebocoran pada proyek pembangunan oleh negara hingga nol persen tampaknya bagai mencari jarum di tengah padang pasir di waktu malam hari.•
___________________
KH. Drs. Tafsir, MAg, Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.
(Artikel ini juga dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah)