Tafsir : Islam Rahmah, Islam Syari’ah dan Islam Barakah

0
642

ISLAM RAHMAH,
ISLAM SYARI’AH DAN ISLAM
BARAKAH

Oleh Tafsir

 

Boleh saja tidak setuju ketika Islam dikategorikan dalam
banyak
istilah.
Islam Liberal, Fundamentalis, Islam Radikal, Islam
Transformatif
dan seabrek istilah yang lain. Tetapi
itulah
kenyataan sosiologis umat Islam yang dalam faktanya dapat dikategorikan
dalam
banyak tipe.

Secara normatif memang Islam adalah satu.   Hal
ini tercermin dari Tuhan, kenabian dan
kitab sucinya adalah satu, yakni Allah swt, Nabi Muhammad saw dan
al-Qur’an.
Hanya saja dari penampilan para pemeluknya tentu saja umat Islam akan
menampilkan keragaman yang sangat komplek. Fenomena ini tidak hanya
terjadi di
kalangan umat Islam tetapi juga umat beragama manapun. Tak ada satu
agamapun
yang bertahan dalam satu corak pemahaman.Yang ada adalah seseorang akan
berkecenderungan pada pola, corak dan penekanan pemahaman tertentu dari
agama
yang dipeluknya.

Tampilan Islam Rahmah, Islam Syari’ah dan Islam Barakah juga tak lebih dari fenomena umat Islam sebagaimana
digambarkan
di atas. Idealnya Islam ditampilkan secara komprehensif sehingga tak ada
penekanan pada corak tertentu. Kenyataannya manusia sering tidak mampu
menmpilkan Islam yang  komprehensif atau kaffah tersebut.
Akhirnya tak dapat dihindari di antara kita akan tercorak pada ketiga model Islam ini.

Islam Rahmah adalah mereka yang ingin menampilkan
bagaimana
anggunnya nilai-nilai Islam dalam hamamayu hayunung bawono,
sehingga
Islam adalah kasih Allah yang diberikan kepada umat manusia.
Muslim dengan wajah ini jauh dari sikap garang kepada
siapapun,
baik sesama Muslim maupun non-Muslim.
Lebih
dari itu
kasih yang ada bukan hanya kepada sesama manusia tetapi juga alam
seluruhnya.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi
semesta alam”.(
QS.
Al-Anbiya : 107). Apalah
artinya
jika agama diturunkan ujung-ujungnya untuk berantem juga.
Apa bedanya manusia beragama dengan yang tidak
beragama atau
kafir jika antara keduanya saling bunuh bahkan atas nama agama. Lebih celaka dari orang kafir mengingat mereka adalah
orang-orang
yang tahu perintah Allah.

Kelompok Islam ini biasanya cenderung tidak ideologis
apalagi
formalis.
Mereka lebih konsentrasi pada pelayanan umat yang akan
menunjukan bagaimana Islam mampu memberi manfaat kepada umat manusia
secara universal
ketimbang mempersoalkan dasar Negara syari’ah apalagi ‘nggebugi’
orang-orang
yang  sedang di tempat hiburan atas nama
amar ma’ruf nahi munkar.

Banyak dasar normatif yang dipakai oleh Muslim dengan
corak ini.
Di samping ayat di atas,  dua nama Allah yang sangat penting ar-Rahman dan ar-Rahim bertengger di dua kalimat penting dalam Islam
yakni basmallah dan al-Fatihah.. Bisa dipastikan seorang
Muslim
yang baik berapa kali dia menyebut Allah yang ar-Rahman dan ar-Rahim dalam sehari semalam.
Dua sifat Allah tersebut memilki akar kata
dan
makna yang sama yakni kasih Allah kepada
seluruh
makhluknya.

Bahkan ar-Rahman sering dimaknai sebagai kasih Allah kepada siapapun tanpa perbedaan
mukmin dan
kafir serta makhluk yang lain. Sedangkan ar-Rahim adalah sifat kasih Allah secara khusus bagi orang beriman di akhirat
kelak
berupa sorga.
Inilah letak keadilan Allah
dimana orang
beriman mendapat imbalan sorga dan sebaliknya yang kafir mendapat siksa
neraka.

Corak
Islam ini lebih menekankan bagaimana terjadi suasana hidup yang harmonis
dengan
keragaman hidup yang ada daripada menonjolkan benar-salahnya suatu agama . Kebenaran agama adalah kebenaran keyakinan
bukan
kebenaran empiris sehingga bisa buang-buang waktu dan  energi jika hal ini yang dipersoalkan.
Sementara persoalan kemanusiaan seperti kemiskinan,
kesehatan
dan kesejahteraan menjadi terabaikan.

Dunia, dalam pandangan Islam Rahmah adalah media untuk
siapapun
baik mukmin maupun kafir.
Di sinilah tempat
perjuangan
antara baik dan buruk untuk saling mempengaruhi tetapi tidak dapat
dipaksakan
termasuk agama sekalipun.
Agama  harus disampakan tetapi tidak untuk
dipaksakan. Allah sendiri menyebut “iman kepada Allah dan Rasul-Nya”
serta “jihad” sebaga tijarah, “dagangan
 (
QS. Ash-Shaff
:
10). Dagangan tentu tidak dapat dipaksakan
kepada
konsumen.
Yang ada adalah bagaimana kita
menjadi
pedagang-pedagang yang baik dan ramah sehingga dagangan kita yakni
“Islam” banyak yang berminat.
Bagaimana orang berminat untuk
beli jika yang menawarkan saja sudah terlihat  sangar.

Lain lagi dengan Islam Syari’ah. Corak Islam ini
cenderung
formalis,ideologis, militant dan terkesan
menonjolkan
diri. Identitas bagi mereka adalah kebanggaan. Dalam pandangan mereka, model Islam Rahmah terlalu
lemah dan tidak militant.
Islam akan tergilas dan tergusur oleh
pengaruh
ideologi lain jika tampil dengan corak ini.

Corak pemahaman Islam model ini memiliki landasan teologis
yang
sangat meyakinkan.
Lihat saja QS. Al-Maidah : 44, 45 dan 47. “… Barangsiapa yang
tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir.(44), dhalim (45) dan
fasiq
(47).
Di tambah lagi dua ayat dengan bunyi yang sama tetapi terdapat
dalam
dua surat,
masing-masing at-Taubah : 93 dan at-Tahrim :
9, “Hai
Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap
keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah
neraka
Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”.

Ayat-ayat
di atas diperkuat lagi oleh ayat berikut : “Muhammad
itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu
lihat
mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,
tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat
mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman
yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu
menjadikan
tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas
pokoknya;
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mu’min).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang
saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar
.(QS. Al-Fath : 29).

Dengan landasan inilah mereka berkeyakinan bahwa kita
kafir jika
tidak berhukum pada hukum Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah dalam
seluruh aspek
kehidupan.
Konsekwensinya mendirikan Negara
berdasarkan syari’ah adalah wajib adanya.
“Selamatkan
Indonesia
dengan syari’ah” menjadi salah satu jargon sebagian di kalangan mereka.
Juga, demokrasi adalah haram karena mendasarkan pada
suara
mayoritas masyarakat yang belum tentu mayoritas itu sesuai dengan
syari’ah,
yang benar adalah Allahkrasi.
Allahkrasi
artinya
bahwa yang memiliki hak untuk membuat hukum hanyalah Allah semata,
sedangkan manusia tinggal menjalankan hukum yang telah disusun oleh
Allah yang
kemudian disebut dengan syai’ah.

Dalam
bentuknya yang ekstrim kelompok ini bisa menganggap sah berbuat
kekerasan atas nama agama kepada orang kafir
atas perintah Allah dalam QS. At-Taubah : 73,
at-Tahrim : 9 dan al-Fath : 29 di atas. Dalam
pandangan sebagian mereka mudah saja membuat criteria kafir
sebagai orang yang sah untuk “dikasari” bahkan halal darahnya.
Asal bukan seorang Muslim berarti kafir. Dengan cara pandang simpel seperti ini sudah
cukup untuk mencuri
harta mereka bahkan membunuhnya atas nama agama dan jihad dengan imbalan
sorga.
Tidak usah heran jika mereka dengan penuh keyakinan dan semangat yang
menggelora mengucapkan takbir, Allah akbar ketika
diadili akibat meledakkan bom yang menewaskan banyak orang termasuk
beberapa
orang Muslim.

Bisa saja sebagian kita tidak suka terhadap Muslim dengan
corak
ini.
Tetapi ketahuilah bahwa ayat yang mendasari pemikiran ini
ada, maka
kelompok Muslim dengan corak seperti ini akan selalu
ada. Selamanya akan ada Imam Samudra-Imam
Samudra yang
lain yang akan muncul kelak.

Tetapi bukan umat beragama jika tidak beragam. Corak yang ini sangat menekankan pada aspek batin atau
spiritualitas.
Dengan bahasa ilmiahnya, corak ini berkonsentrasi
pada
nilai-nilai isoterik Islam.
Kelompok
ini tidak
terlalu pusing apakah tindakannya itu ada dalilnya atau tidak.
Yang penting bagi mereka adalah ketenangan batin dan
kepuasan
spiritualitas dalam menjalankan agamanya.
Mereka akan selalu berusaha “ngalap barakah” melalui mitos-mitos yang ada
terlepas hal tersebut ada dasarnya atau tidak. Mujahadah
kubra,
istighasah, ziyarah qubur ke makam para wali, sowan ke kyai khosh yang
penuh keramat, manaqib dan barzanji adalah media-media ber-tabaruk favorit mereka.

Lihatlah fenomena Mujahadah Kubra Kyai Asrori, ribuan
orang dzikir
di tengah lapang bertenda denga tempo bisa empat jam.
Sambil
menangis histeris sebagian mereka bertabaruk kepada Kyai Asrori.
Dalam kegiatan ini banyak fenomena tidak masuk akal
dilakukan
peserta dzikir.
Tetapi dalam pandangan mereka
hidup
ini, termasuk agama memang tidak harus selamanya masuk akal.
Bertabaruk, tentu saja bukan hal penting masuk akal atau
tidak,
terdapat dalilnya atau tidak.
Terpenting
adalah
kepuasan batin dan semoga barakah Allah melalui kyai keramat tersebut
dapat
diraih.
Akan sia-sia saja kita menyampaikan
argument
akal dan dalil terhadap kelompok Muslim ini.

Ketiga model atau corak keberagamaan umat Islam hanyalah
pada
penekanannya yang berbeda kualitas dan kuantitasnya.
Sebab
tidak ada corak yang sepenuhnya hanya pada satu penekanan tertentu.
Corak Islam Rahmah bukan berarti mengabaikan
syari’ah.
Demikian juga model Islam Barakah tetap menjalankan syari’ah dan
menampilkan
sikap rahmah. Ketiganya pasti saling melengkapi. Hanya saja fenomena sosio-religius ketiganya mudah
untik dikenali
dalam perilkaunya sehari-hari.
(Penulis
adalah
Sekretaris PWM Jawa Tengah).