Sutomo Luncurkan Pojok Baca untuk Budayakan Literasi

0
3380
Kegiatan siswa saat dipojok baca, mengembalikan kembali apa yang telah mereka baca ke tempatnya.

PWMJATENG.COM, SALATIGA – Buku adalah jendela dunia. Kunci untuk membukanya adalah membaca. Literasi di Indonesia saat ini mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Hasil penelitian literasi internasional yang dirilis Central Connecticut State University, menempatkan budaya literasi Indonesia masuk ke urutan 64 dari 65 negara yang diteliti. Itu artinya Indonesia menempati rangking kedua terburuk dari bawah tentang budaya literasi. Indonesia berada diantara Qatar dan Peru.

Hasil penelitian UNESCO pada tahun 2011, dari 1000 orang Indonesia hanya satu yang memiliki minat baca yang baik. Jadi, jika dibuat ke bentuk presentase budaya literasi di Indonesia sekitar 0,001. Begitu buruknya budaya literasi di negara ini. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat, 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku.

Hal ini menunjukkan kemampuan literasi masyarakat di Indonesia masih rendah, dikarenakan tingkat literasi siswa Indonesia masih jauh tertinggal oleh siswa dari negara lain. Dengan kata lain, minat baca masyarakat Indonesia mengalami kemunduran.

Kepala sekolah, Sutomo menyebutkan, kenyataan inilah yang menjadi pemicu semangat bagi SD Muhammadiyah (Plus) Saatiga membuat sebuah program yang bernama Pojok Baca. Program ini bertujuan untuk memberikan efek positif terhadap siswa didalam membaca buku. Dengan disediakannya 1 pojok baca di setiap kelas, dan beberapa pojok baca di lorong-lorong kelas diharapkan tumbuh budaya literasi di SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga.

“Selain itu, program baca ini sangat berpangaruh kepada pengetahuan, perilaku dan prestasi siswa, karena buku-buku yang disediakan berupa buku cerita keislaman, dan buku pelajaran. Kita baru mencanangkan program ini, mudah-mudahan dapat memberikan efek positif pada dunia pendidikan, dan juga dapat meningkatkan minat baca siswa SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga,” ungkap penerima Satya Lencana pendidikan tersebut. (ENDRA GUNAWAN)