SMA Muhpat Kendal Siap Menuju GSM, Hadirkan M. N. Rizal

0
104
PENDIRI GSM. Muhammad Nur Rizal,S.T, M.Eng, Ph.D pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bersama istri, Novi Poespita Candra, foto bersama usai menyampaikan konsep GSM (foto dok iwan)

PWMJATENG.COM, KENDAL – Sekolah adalah lembaga yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan pembelajaran. Dan dalam proses pembelajaran terkadang tidak terjadi garis lurus untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mengembangkan sekolah untuk maju, berprestasi, tetapi tidak ditakuti warga sekolah bukan pekerjaan yang mudah. Terdapat beberapa sekolah masih menerapkan kebijakan kurang memanusiakan manusia, yaitu proses pembelajaran yang bertumpu pada isi daripada proses, yang disesuaikan dengan minat, bakat, kemampuan serta kebutuhan belajar anak dan potensi lingkungan. Teori ini bersifat elektif, artinya dapat memanfaatkan teknik atau teori belajar apapun asal selama proses pembelajaran menyenangkan tanpa meninggalkan tujuan belajar itu sendiri.

Adalah Muhammad Nur Rizal, pengajar di Departemen Teknik Elektro dan Teknik Informasi (TETI), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM). Beliau adalah inisiator sekaligus eksekutor Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dengan sasaran sekolah-sekolah marjinal di daerah pinggiran. Menurut Rizal, sekolah-sekolah elite di kota besar sudah berdaya untuk meningkatkan mutu pendidikan sendiri tanpa bantuan dari lembaga lain. Tetapi gerakan yang ia inisiasi harus memiliki keberpihakan kepada sekolah-sekolah kurang berdaya agar kesenjangan sekolah elite-sekolah marjinal bisa dikurangi. GSM berusaha mendobrak gap tersebut secara perlahan demi mewujudkan pendidikan berkualitas yang merata.

GSM menerapkan pendidikan global yang bisa dirasakan oleh setiap anak, bukan hanya yang kaya dan memiliki privilage saja. Dalam implementasinya, sekolah akan dilatih, didampingi, dan diajak berubah bersama sekolah lain yang memiliki basis platform GSM yang menggunakan teori psikologi mutakhir dan pendekatan teknologi untuk mengubah mindset, mental, dan skill guru.

Hal itulah yang menjadi daya tarik SMA Muhammadiyah 4 (Muhpat) Kendal dan berhasrat untuk menjadikan lembaga pendidikannya sebagai Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). “GSM dalam pelaksanaan diantaranya adalah menekankan pentingnya dibangun suasana yang menyenangkan di lingkungan kelas, sehingga kelas maupun sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa” kata Rizal di SMA Muhpat pada Jum’at (11/10). Kedatangan Rizal didampingi sang istri, Novi Poespita Chandra, pengawas SMA, H. Utomo, dan Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kota Kendal, Sunarto.

Rizal mengatakan, implementasi GSM di setiap lembaga pendidikan adalah adanya pembagian peran sekolahan dan siswa sehingga tercipta sekolah yang benar-benar menyenangkan.

“Posisi sekolah berperan sebagai fasilitator dan memberikan rangsangan serta mengarahkan kepada peserta didik. Anak-anak harus dibuat kasmaran terhadap belajar. Sekolah harus membuat suasana seperti anak berada di rumah,” tegasnya.

Salah satu ciri budaya belajar yang baik, kata Rizal, adalah ruang tata kelasnya tidak boleh konvensional atau kaku. Sedangkan sistem pembelajaran yang harus diterapkan adalah bagaimana memanfaatkan informasi yang ada di internet. Jadi yang diajarkan adalah keterampilan berpikir, baik berpikir kreatif dan berpikir kritis.

“Apalagi talenta yang dimiliki anak-anak itu banyak dan berbeda-beda seperti melukis, olahraga, matematika, menari, bermain musik, dan lain sebagainya. Harapannya, dengan sistem pembelajaran demikian kemampuan kompetensi anak-anak akan semakin bertambah” .

“Kalau bisa sistem belajarnya harus membangun semua talenta tersebut,” ujarnya.
Rizal memaparkan kompetisi yang harus diharapkan dimiliki anak di masa depan ada tiga, yakni yang pertama kemampuan literasi.

“Literasi tidak hanya membaca buku 10-15 menit, namun mampu membaca bacaan panjang. Kemudian mampu merefleksikan isi bacaan tersebut serta menggunakan informasi yang diperoleh untuk menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat,” kata Rizal.

Kedua adalah memiliki kemampuan daya kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan daya saing. Ketiga adalah menciptakan gairah hidup (passion). “Sehingga fungsi guru bukan lagi sebagai sumber belajar, namun sebagai motivator dan fasilitator,” ujar alumnus Monash University Australia itu.

Adapun salah satu ciri budaya belajar yang baik, kata Rizal, adalah ruang tata kelasnya tidak boleh konvensional atau kaku.

Dalam salah satu dialog dengan siswa Rizal maupun Novi menekankan pentingnya dibangun suasana yang menyenangkan dilingkungan kelas, sehingga kelas maupun sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa.

“Anak harus bisa belajar seperti saat di rumah dimana terkadang mereka bisa belajar sambil menonton televisi, sambil duduk di teras, sambil tidur-tiduran, dan sebagainya”
Rizal juga menekankan jangan ada lagi ada sekolah yang hanya menekankan pada pembelajaran kognitif hafalan semata. Hal itu menurutnya adalah sistem pembelajaran yang telah usang. Sudah saatnya pembelajaran dikembalikan kepada ruh yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

”Nilai-nilai seperti sekolah yang menyenangkan sebenarnya sudah dikenal sejak lama. GSM hadir karena ingin mengembalikan ruh sekolah layaknya taman atau keluarga seperti yang dicita-citakan bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantoro,”
“GSM dalam pelaksanaannya diantaranya adalah menekankan pentingnya dibangun suasana yang menyenangkan dilingkungan kelas, sehingga kelas maupun sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa” imbuhnya.

yaitu menerapkan azas gotong royong dalam pembiayaannya. ”Misalnya, ketika workshop pelatihan guru maka setiap pembiayaan dari tempat, ATK, konsumsi, transportasi dibiayai oleh guru sebagai peserta,” terangnya.

Sedangkan kepala SMA Muhammadiyah 4 Kendal, Sunarmi mengatakan, bahwa semua yang ada dikelas adalah kreasi siswa. “Siswa diajak berkreasi dikelasnya, untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi dirinya saat belajar sesuai dengan kebutuhannya” pungkasnya. (Fur/MPI Kendal)