Semarakkan Milad, IMM Averroes FT UMS Undang Ketua Pimpinan Aisiyah Jawa Tengah Umul Baroroh

0
550

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Sabtu (18 Maret 2017) IMM Komisariat Averroes Fakultas Teknik UMS Menyemarakkan Milad IMM 53 denganKajian. Secara umum Tema yang di usung oleh pimpinan komisariat averroes dalam Semarak Milad IMM 53 ini adalah “Rekonstruksi Paradigma Mahasiswa dalam Membangun Bangsa demi Terwujudnya Masyarakat Madani” dalam melakukan rekontruksi paradigma maka diadakan kajian keperempuanan dengan tema “ Menjadi Perempuan-Perempuan Agent of Change” yang di sampaikan oleh Dr Hj. Umul Baroroh, ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah.

Kajian ini diadakan di ruang seminar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Salah satu agenda dari serangkaian agenda milad IMM 53 ini di hadiri oleh 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa umum, kader-kader IMM serta beberapa dari perwakilan organisasi pergerakan mahasiswa non IMM.

Meskipun kajian ini adalah kajian keperempuanan kehadiran peserta putra juga tidak kalah banyaknya. Selain menandakan meriahnya milad IMM yang ke 53 di cabang kota Surakarta jug menandakan minat dan ketertarikan mahasiswa terhadap kajian keperempuanan juga tinggi. Memang hal ini seharusnya terjadi dalam setaiap kajian keperempuanan“ ketika yang mengikuti kajian kepeempuanan hanya perempuan saja maka akan menimbulkan sebuah ketimpangan dan tidak menimbulkan pemahaman yang meluas, intinya hanya perempuan saja yang tahu soal peran perempuan tidak cukup” ungkap pembicara.

Berbicara soal peran perempuan bu Umul Baroroh mengawalinya dengan sejarah, bahwasnya Rasullullah Muhammad SAW merupakan bapak feminisme. Di lihat dari latar belakang sejarah, perempuan sebelum ajaran islam turun diibaratkan sebagai harta warisan, dan di anggap sebagai aib keluarga sehingga banyak bayi perempuan yang dibunuh. Denganturunya Muhammad Saw yang membawa ajaran Islam beliau kemudian mengangkat derajat perempuan dan memuliakanya. Adanya konsep Islam yang tidak adanya pengecualian (diskriminasi) bersoalkan ibadah dan hukuman dalam hal agama merupakan bukti konkrit terhadap pengangkatan derajat perempuan, misal dalam kasus perzinaan.

Dalamkon teks ke-Indonesiaan peran peranperempuan pada umumnya di desa desa peran perempuan masih berpatok pada “Dapur, Sumur, Kasur” . Mindsite tersebut masih mengakar di kalangan desa pada umumnya,   apalagi di perkuat dengan prosesi pembelajaran yang di lakukan di Sekolah Dasar. Proses pembelajaran baca tulis, ketikamenyusunkalimattentunyaadahubunganantarasubjekobjekdanpredikat. Nah biasanyaketikasubjeknyaperempuanmakaperdikat yang tertulistidakakanjauhdari “Dapur, Sumur, Kasur”.

Seiringdenganperkembanganteknologi yang semakinpesatiniperanperanmanusiasemakin di mudahkandenganteknologi, ternyataini pun berdampakpadaadanyakesetaraangender .tapikarenakurangatausalahnyapemahamanterhadap gender era saatinimuncul “BebanGandaPerempuan”. Perempuan yang memilikiperangandadalamkehidupuandiasebagaipencarinafkahsekaligussebagaiIbu, kemudianmunculfenomena LGBT danmasihbanyakfenomenabaru.

Melihatbeberapakasus yang memerlukanpemahaman yang lebihtajamsoal Agama dalammenjawabsituasisosialterutamaberhubunganperanperanperempuanpembicaramenegaskansupayakitabelajar gender agar kitabisamenyaringgagasangagasan yang munculsoalperanperempuan, agar sesuaiajaran Agama Islam.

Kajianinicukupmengenaterhadappesertadanadabeberapapeserta yang berkomentarbaiksetelah agenda berakhirpadapukul 22.00 dengansuasana yang cukupmeriah, mulaidarisesifotobersamapembicarasertabeberapapesertaberfotodi foto corner yang sudah di sediakan panitia. (panitia)