SEMANGAT BERKURBAN DIPERLUKAN SEPANJANG ZAMAN

0
562
Ilustrasi - Penyembelihan kurban

Oleh: Drs. Mohammad Fakhrudin, M. Hum.[2]

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا .

فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ.

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُ،لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

 

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

Sungguh merupakan kewajiban dan kebutuhan kita selalu bersyukur kepada Allah swt. sampai saat ini kita dalam keadaan sehat dan sempat. Semua itu kita peroleh berkat rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya. Dengan semua itu, sejak subuh hari Arafah sampai berakhirnya hari Tasyrik, kita mengagungkan asma Allah dengan takbir, tahlil, dan tahmid.

Beruntunglah kita; pada hari ini menjadi bagian dari umat Islam  sedunia, yang mampu dan mau menunaikan perintah Allah swt. dan senantiasa berusaha meninggalkan segala larangan-Nya. Mungkin ada di antara keluarga, saudara, tetangga yang pada hari ini  tidak dapat menunaikan salat Idul Adha karena sakit atau sebab lain. Mari kita doakan; semoga yang sakit segera sembuh. Aamiin!

 

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

 

Ada banyak nilai dalam peristiwa Idul Adha, diantaranya nilai historis, nilai religi, nilai sosial kemasyarakatan, dan nilai pendidikan. Semua nilai itu bersifat abadi dan universal.

 

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

Hakikat Idul Adha

  1. Idul Adha dapat berarti hari raya untuk memperingati peristiwa bersejarah, yakni kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s.

‘Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Oleh karena itu, pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS, as-Shafat: 102)

Peristiwa itu tercatat di dalam sejarah Islam. Itulah sebabnya Idul Adha–yang disebut juga Idul Qurban–bernilai sejarah.

 

  1. Kurban membuktikan rasa pengabdian manusia kepada Allah swt.

Manusia diciptakan oleh Allah agar berbakti dan mengabdi kepada-Nya. Allah berfirman,

 

‘Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.’ (QS, adz-Dzariyat: 56)

Dalam surat al-Bayyinah: 5 Allah berfirman,

‘Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus’.

Mengapa manusia dicipta hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah? Jawabannya: manusia memerlukan Allah. Dengan kata lain, pengabdian yang dilakukan manusia bukanlah untuk Allah, melainkan merupakan kebutuhan manusia itu sendiri. Allah tidak memerlukannya karena Allah tidak bergantung pada manusia. Manusialah yang bergantung pada Allah. Manusialah yang mohon pertolongan kepada Allah swt.

Lagi pula, kebaikan yang dilakukan oleh manusia pada akhirnya kembali kepada manusia itu sendiri. Sebaliknya, kejelekan yang dilakukannya pun akhirnya kembali kepadanya, kepada manusia itu sendiri.

(QS, al-Isra: 7)

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

Sungguh luar biasa pengurbanan Nabi Ibrahim. Telah bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya mendambakan punya anak. Namun, setelah mempunyainya, ia diperintah menyembelihnya. Sebagai manusia biasa, ia tentu mengalami konflik batin yang luar biasa hebatnya. Akan tetapi, ia menyadari cintanya kepada Allah harus melebihi segalanya, termasuk cintanya kepada Ismail, buah hati belahan jiwanya. Di samping itu, Ibrahim telah memberikan teladan yang sangat berharga bagi kehidupan berdemokrasi. Ia adalah pemimpin Ismail dan istrinya. Meskipun demikian, ia bersedia berdialog dengan anak dan istrinya itu. Bukankah ketika ia akan melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail ia berdialog lebih dahulu? Ini mengajari para pemimpin agar bersedia berdialog dengan pihak yang dipimpin.

Siti Hajar pun sudah pasti menghadapi konflik batin yang sama. Betapa besar kerinduannya mempunyai anak. Namun, ia harus ikhlas melepas jantung hatinya. Betapa besar godaan setan, tetapi ia tidak tergoda sedikit pun karena tahu bahwa suaminya melakukan kebenaran Ilahi.

Tidak kalah hebatnya adalah pengurbanan Ismail. Ia masih muda belia. Akan tetapi, ia pun dengan sabar dan ikhlas menerima dan melaksanakan perintah Allah. Ia berkurban dengan penuh keikhlasan demi kehidupan yang abadi.

Itulah nilai religius yang harus kita contoh. Sungguh berat perjuangan mereka melawan hawa nafsu. Namun, mereka lulus dari ujian  Allah. Kita harus berusaha mencontohnya.

Nafsu merupakan musuh yang paling sulit kita tundukkan. Nafsu menyatu dengan kita; melekat rapat pada siapa pun kita; orang awam atau cerdik pandai, rakyat atau orang berpangkat, orang kaya raya atau miskin papa.

Banyak orang hancur namanya atau hidupnya karena gagal mengendalikan nafsu yang melahirkan kesombongan. Sejarah telah menunjukkan siapa pun orangnya yang sombong pasti hancur. Betapa sombongnya Firaun karena kekuasaannya, tetapi akhirnya tenggelam dalam keadaan tak terampuni dosanya.

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

Penyembelihan hewan kurban dapat diartikan secara simbolis sebagai penyembelihan nafsu hewani yang melekat pada manusia. Sungguh perlu kita renungkan bersama bagaimana pendapat Imam al-Ghazali mengenai nafsu.

“Hawa nafsu laksana kuda yang amat gesit dan binal. Manakala manusia dapat memimpin dan menundukkannya, ia akan dapat mengendarai dan diantar sampai tujuan dengan selamat. Namun, manakala manusia tidak mampu menundukkan dan tidak mampu menguasainya, ia akan jatuh dan sengsara karenanya”.

 

  1. Pembagian Daging Kurban adalah Salah Satu Cara Mengurangi Kesenjangan Sosial

Pada Idul Adha kaum muslimin yang mampu sangat dianjurkan berkurban, yakni dengan menyembelih hewan kurban. Firman Allah dalam surat al-Kausar:

‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.’

Daging hewan kurban dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, terutama kaum dhuafa. Ini jelas merupakan salah satu upaya mengurangi kesenjangan sosial.

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

  1. Idul Adha Mempererat Rasa Kekeluargaan dan Kebersamaan

Kita bersama-sama mengagungkan asma Allah dengan bahasa dan lagu yang sama meskipun berasal dari suku, bangsa, dan negara yang berbeda. Di samping itu, umat Islam yang mampu dan mau menunaikan ibadah haji berkumpul di satu tempat yang sama. Pendek kata, Idul Adha merupakan sarana mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan umat Islam seluruh dunia.

Umat Islam tidak dibeda-bedakan berdasarkan warna kulit, suku bangsa, pangkat, jabatan, atau golongan. Pembedaan kita hanyalah berdasarkan kualitas ketakwaan. Di hadapan Allah kita sama, dan yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertakwa.

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah yang dimuliakan Allah!

Menteladani keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Salah satu yang amat kita butuhkan dalam hidup ini adalah mendapatkan figur-figur teladan yang bisa memberi warna positif dalam kehidupan kita. Karena itu, Allah swt menjadikan Nabi Ibrahim as dan keluarganya sebagai figur teladan sepanjang masa,  Allah swt berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Diantara bentuk keteladanan  dari keluarga Nabi Ibrahim as, yang patut kita kaji dan kita laksanakan adalah:

Pertama, memegang prinsip kebenaran sejak muda hingga tua. Memahami, meyakini nilai-nilai kebenaran merupakan prinsip yang harus selalu dipegang manusia. Pada sosok Nabi Ibrahim, ada idealisme berkelanjutan. Ini amat penting, karena banyak orang buruk  saat muda, baru baik saat tua. Ada pula yang baik saat muda, buruk saat tua, bahkan ada yang buruk dari muda sampai tua dan mati.

Kesimpulan ini kita dapatkan dari kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala saat masih muda dan menunjukkan ketaatan yang luar bisa dalam menerima perintah Allah untuk menyembelih Ismail saat usia lanjut. Nabi Ibrahim mencontohkan kepada kita bahwa prinsip ketuhanan dan aqidah yang benar merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu, sejak muda remaja, Nabi Ibrahim sudah berjuang agar keluarga dan masyarakatnya hingga para pemimpin terbuka hati dan pikirannya atas kesesatan bertuhan kepada selain Allah swt.

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.

Kedua, kritis. Keharusan berlaku baik pada siapapun tidak boleh menghilangkan daya kritis, sebagaimana daya kritis tidak boleh juga menghilangkan kebaikan kita kepada orang yang harus kita perlakukan dengan baik. Nabi Ibrahim kritis kepada ayahnya, kepada masyarakatnya dan kepada pemimpin.

Dalam kehidupan sekarang daya kritis amat kita butuhkan. Ini akan membuat kita bisa menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Yang amat kita sayangkan adalah, sekarang ini kepentingan sesaat sangat mendominasi sehingga daya kritis sudah hilang, apalagi dalam bidang politik. Kehendak pemimpin sering kali harus disetujui dan dituruti begitu saja agar posisinya aman. Akibatnya yang prinsip diabaikan dan yang salah malah menjadi prinsip. Dalam konteks kepemimpinan, memiliki pemimpin yang bertaqwa dan shalih kepada Allah swt dan shalih secara sosial merupakan sesuatu yang amat prinsip.

Satu hal yang harus kita sadari bahwa daya kritis itu ada konsekuensinya, karenanya keberanian berkorban membuat orang bisa kritis terhadap segala pendapat dan kebijakan yang melanggar prinsip kebenaran ilahi. Buya Hamka dalam tafsirnya Al Azhar menyatakan: “Kalau tidak ada semangat seperti semangat Nabi Ibrahim, tidaklah akan ada perubahan kepada yang lebih baik di dunia ini”.

اللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَ للهِ اْلحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

Ketiga, kematangan pribadi. Hidayah sempurna dari Allah swt yang dimilikinya membuatnya memperoleh kematangan daya berpikir, kecerdasan dan kejernihan hati. Sebagai anak yang baru gede, kematangan diri Ismail tidak hanya dari sisi fisik yang sudah baligh, tetapi juga kematangan berpikir, kematangan jiwa untuk menerima dan melaksanakan perintah yang berat.

Keempat, semangat berusaha dan berjuang. Dalam konteks kehidupan sekarang masa depan umat Islam bergantung pada perjuangan umat Islam itu sendiri. Jika umat Islam ingin memperbaiki diri, berarti harus berjuang. Ini memerlukan pribadi yang takwa kepada Allah, yang terus-menerus berusaha mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh umat. Relevan dengan itu diperlukan rasa kekeluargaan dan kebersamaan, serta semangat berkurban! Masa depan umat Islam yang lebih baik daripada sekarang hanya dapat diwujudkan melalui perjuangan. Perjuangan memerlukan pengurbanan! Jadi, sukses tidaknya pembangunan masa depan umat Islam terpulang kepada bagaimana kita memiliki semangat berkurban. Selama kita memiliki semangat berkurban yang tinggi, insya-Allah masa depan umat Islam cerah, menjadi khaira ummah, umat terbaik

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُوللهِ الْحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah,

Berdasarkan uraian di atas, mari kita renungkan!

  1. Orang Tua

Nabi Ibrahim dan Siti Hajar  mencintai Allah jauh lebih besar daripada cintanya kepada segala sesuatu yang bersifat duniawi. Pengurbanannya amat besar sehingga memperoleh balasan yang amat besar pula. Mereka tidak tergoda sedikit pun oleh bujukan setan. Sudahkah kita, orang tua, mencontohnya?

  1. Kaum Muda

Ismail adalah pemuda yang taat kepada Allah dan orang tuanya. Demi mencapai tujuan hidup yang mulia,  dan karena tahu bahwa yang dilakukannya merupakan kebenaran Ilahi, ia rela berkurban. Sudahkah, kita kaum muda, menirunya?

Semoga Allah mencerahkan hati dan pikiran kita.

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

[2] Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo

(Khotbah pada Idul Adha 10 Dzulhijjah 1438/1 September 2017)