Sekolah Gratis di MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga. “Ingin Bayar, Silakan ke Sekolah Lain”

0
313

PURBALINGGA – Kebijakan sekolah gratis sering terdengar saat kampanye pilkada. Namun, ternyata setelah diterapkan bukan hal yang mudah. Di MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga, program tersebut sudah dijalankan. Tak tanggung-tanggung, program tersebut sudah berlangsung lima tahun dan sukses.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga, Purnomo, menjelaskan sekolah gratis itu tidak hanya khusus untuk siswa tidak mampu, melainkan seluruh siswa. ”Semua siswa kelas 7-9 yang berjumlah 512 anak, gratis,” katanya. Uang SPP, uang gedung, pembayaran ini-itu tidak ada, bahkan semua siswa baru sejak program diluncurkan mendapat seragam olahraga, pramuka, OSIS, batik, kerudung, juga mukena dan sepatu hitam. ”Siswa juga mendapat 16 buku tulis sesuai dengan jumlah mata pelajaran. Buku cetak sudah disiapkan sekolah,” kata dia yang sebelumnya selama delapan tahun menjabat kepala MTs tersebut.
Purnomo menjelaskan, uang yang dipakai untuk menggratiskan biaya pendidikan tersebut sebagian didapat dari tabungan infak siswa, sebagian dari zakat guru dan karyawan. Tentu saja sebagian lainnya dari BOS dan Bantuan Siswa Miskin (BSM). ”Setiap hari Jumat siswa kami latih untuk berinfak. Kami siapkan kotak infak di setiap kelas. Ada yang memasukkan Rp 500, Rp 1.000, Rp 5.000, ada juga yang tidak infak. Pernah juga ada yang infak Rp 100.000,” terangnya.
Potong Gaji
Hasil kotak infak siswa dalam satu kali Jumat yang dikumpulkan dari 13 kelas tersebut terkumpul Rp 200.000 sampai Rp 300.000, sehingga dalam sebulan bisa mencapai Rp 1,2 juta. Infak tersebut digunakan untuk kepentingan siswa. ”Misalnya ada siswa kelas 8 atau 9 yang seragamnya sudah kekecilan, celananya sudah congkrang, maka dibelikan lagi oleh sekolah menggunakan infak siswa. Atau ada siswa sakit dibantu juga dengan dana tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, penggalangan dana oleh guru dan karyawan dilakukan dengan cara memotong 10 persen gaji setiap bulan. Ada 26 guru dan karyawan di MTs tersebut, sehingga bila rata-rata yang dipotong Rp 100.000 maka dalam sebulan terkumpul Rp 2,6 juta. ”Kalau kas madrasah ini bisa dipakai oleh siapa pun dan untuk keperluan apa pun. Misalnya ada karyawan yang mau beli motor, bisa pakai dana ini dulu. Mengangsurnya lebih ringan,” jelasnya.
Sekolah gratis tersebut membuat sejumlah pihak penasaran, bahkan ada yang menilai MTs tersebut adalah sekolah yang nganeh-anehi. Pasalnya, sekolah lain seolah berlomba menarik uang dari siswa namun di MTs tersebut malah tidak memungut biaya, bahkan mendapat bonus.
”Ada orang tua calon siswa baru yang protes karena merasa mampu namun tetap digratiskan. Kami lalu bilang, kalau tidak mau digratiskan maka anaknya sebaiknya didaftarkan di sekolah lain yang bayar,” katanya. Purnomo menambahkan, sasaran utama program tersebut adalah siswa baru yang tidak mampu. Jadi jangan sampai ada lulusan SD/MI yang tidak melanjutkan, karena tidak mampu secara ekonomi. ”Ini untuk mengangkat kaum duafa,” katanya. (Arief Noegroho/suaramerdeka.com/editor:Fakhrudin)