SD Muhammadiyah Sudagaran Sambut Siswa Baru Layaknya Tamu Agung

PWMJATENG.COM, WONOSOBO – Senin (17/07 2017 ), SD Muhammadiyah Sudagaran Wonosobo mengadakan Sambut Siswa baru tahun ajaran 2017-2018 sekaligus mengawali Kegiatan Belajar Mengajar bagi siswa lama.

Bertempat di halaman SD Muhammadiyah Sudagaran acara dikemas dengan meriah dan khidmat. Diawali pembacaan Tilawah oleh ananda Mutiara Sheila dan Destini Lila Jovanca selaku sari tilawah, dalam acara itu pula ditampilkan beberapa kreasi siswa dari hasil program ektstra kurikuler yang ada disekolah.

Berbeda dengan sekolah yang lain yang mengawali KBM dengan upacara bendera dan kegiatan resmi yang lain, SD Sudagaran sebagai sekolah unggulan di Wonosobo berusaha menjadikan acara tahunan ini sebagai ajang silaturrahmi sekaligus memuliakan tamu dari wali siswa dan siswa baru yang masuk pada tahun ajaran ini. Disamping mengenalkan sekolah secara singkat oleh kepala sekolah dan orientasi agenda sekolah.

Kepala sekolah SD Muhammadiyah Sudagaran Sukaryo, S.Pd.I dalam sambutannya menekankan bahwa SD Sudagaran berusaha memfasilitasi segala potensi siswa, sekecil apapun potensi anak in sya Allah sekolah akan memfasilitasi dengan spenuh hati, sehingga tidak ada keunikan anak yang terabaikan.

SD Sudagaran tidak pernah mengadakan test masuk bagi calon siswa baru, yang ada hanya pemetaan kompetensi sehingga di awal masuk setiap siswa baru diharapkan lebih mudah dalam pengkondisian didalam pengelolaan oleh wali kelas.

Pada tahun ajaran 2017/2018 SD Muhammadiyah Sudagaran hanya menerima sejumlah 98 siswa baru, hal ini berkaitan dengan fasilitas ruang yang terbatas, dengan dibagi menjadi tiga kelas. Dari hasil pantuan PWMJATEG.COM serta wawancara dengan panitia PPDB, Triet Palaparini, S.Pd bahwa asal sekolah dari siswa baru pada tahun ini merata menyebar dari seluruh kecamatan wonosobo kecuali kaliwiro, wadaslintang dan kalibawang. Dengan fasilitas antar jemput mobil sekolah diharapkan memberi kenyamanan bagi anak dan wali siswa.

Sebagai puncak acara, melepaskan ratusan burung dari sangkarnya, setiap anak baru memegang satu burung gereja yang selanjutnya dikomando oleh kepala sekolah untuk dilepaskan bebas. Dengan filosofi bahwa setiap anak yang masuk sekolah ini maka sudah bisa bebas dengan sikap kekanak-kanakan dan berubah menjadi mandiri menuju pribadi yang unggul. ( Hans-MPI )