Rozihan: “Fitrah, Modal Pembangunan”

0
439

MAKNA dasar fitrah adalah membangun jiwa yang merupakan jargon keagamaan, dan Nabi saw pun bersabda, “Dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik maka baiklah perbuatan manusia, dan apabila segumpal darah itu rusak maka rusaklah perbuatan manusia. Ingatlah dia adalah hati”.
Baik buruk manusia ditentukan oleh hati atau jiwa. Orang yang berjiwa mulia atau kaya akan isi Alquran mendapat julukan paling takwa, bentuk superlatif dari takwa. Mereka adalah orang orang yang suka berderma atau bersedekah. (QS Al Lail: 17-18) Orang yang suka bersedekah disebut paling takwa karena itu indikator kebersihan jiwa.
Jiwa yang bersih terhindar dari keserakahan dan kerakusan. Kekayaan alam Indonesia bisa memberi kemakmuran kepada anak bangsa jika penyelenggara negara berjiwa kaya dan bersih. Seandainya jiwa mereka miskin, sebanyak apa pun sumber daya alam yang kita miliki tidak akan mencukupi kesejahteraan warga negara. Dalam kaitan ini ada korelasi antara sedekah dan membangun jiwa.
Sedekah tidak hanya terbatas pada pemberian harta, karena Nabi Suci memberi isyarat bahwa tiap kebaikan itu sejatinya sedekah (kullu ma‘ruufin sadaqah). Bahkan Rasulullah sangat memuliakan mereka yang berbuat kebaikan, terlebih dermawan yang suka membagikan rezeki. Begitu tinggi Rasul memuliakan dermawan sekalipun mereka kafir Dalam sebuah kasus wanita kafir ditawan Rasulullah, wanita itu protes minta dibebaskan karena ia anak orang terhormat.
Ketika Nabi bertanya siapa orang tuanya, wanita itu menjawab,‘‘ Bapakku orang terhormat karena biasa memberi makan mereka yang kelaparan, memberi pakaian mereka yang telanjang, membantu mereka yang kesulitan, itulah kemuliaan bapakku. Bapakku bernama Hatim at Thaif.‘‘ Nabi kemudian bersabda,‘‘ Sungguh, bapakmu orang mulia.
Jika dia masih hidup tentu saya hormat dan mencintainya dan Allah pun sangat cinta kepadanya.‘‘ Itu seperti kata Allah dalam Surah Al Baqarah Ayat 195 bahwa Dia sangat sayang kepada mereka yang berbuat kebaikan. Seorang sufi besar di Spanyol bernama Ibnu Arabi adalah cucu Hatim at Thaaif, nonmuslim yang dermawan itu.
Pada akhirnya Rasul bersabda bahwa seseorang akan memperoleh derajat tinggi bukan karena rajin shalat dan berpuasa sunah melainkan karena dua hal, yaitu as sakhowah (kedermawanan) dan wa shofwatul qolb atau hati yang bersih ketika berhadapan dengan muslim. Hati yang terdalam itu tidak mengandung prasangka, kecurigaan, dan kebencian. Kita sekarang sadar bahwa jiwa itulah yang menentukan corak dan hasil suatu perbuatan. Membangun badan adalah kerja keras.
Betapa Nabi Muhammad saw menaruh hormat terhadap pekerja keras. Sepulang dari berperang, para sahabat menyambut dan menjabat tangan. Rasul terkejut tatkala menjabat tangan Sa‘ad bin Muadz al Anshory terasa kasar,‘‘ Mengapa tanganmu begitu kasar dan berdarah?‘‘ Sa‘ad menjawab, ‘‘Saya kerja keras memecah batu ya Rasul untuk menafkahi keluarga.‘‘
Mendengar jawaban itu, segera Rasulullah mencium tangan Sa‘ad seraya meneteskan air mata dan bersabda,‘‘ Kamu adalah orang terhormat.” Kemerdekaan, kebahagian, kesucian, ingin dihormati adalah fitrah manusia. Fitrah adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Jika kita tidak ingin ditindas, maka jangan menindas, jika tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti, dan seterusnya. Itulah fitrah atau naluri dasar manusia. Hati Fitrah Menindas adalah mengambil hak orang lain, mengambil hak rakyat sehingga mereka sengsara dan menderita. Itulah orang yang merusak kesucian atau kefitrian jiwa dan merusak kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.
Allah mengkritik lewat An Nahl: 92, “Janganlah kamu seperti seorang wanita yang memintal benang dengan kuat kemudian mengurai menjadi cerai berai kembali.” Negara yang dibangun oleh para pendiri bangsa hendaknya tidak kita nodai dan kita rusak untuk kepentingan kepentingan sesaat. Termasuk ibadah yang telah kita kerjakan sehingga kita menjadi ‘‘bangkrut‘‘, bukan dalam arti tak memiliki kekayaan apa pun.
“Bangkrut” adalah mereka yang pada hari kiamat menhadap Allah dengan membawa setumpuk ibadah sekaligus membawa segudang perbuatan tercela. Memelihara diri dan negara dari perbuatan tercela agar tetap suci merupakan fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah kesetaraan dan kepedulian terhadap sesama, seperti dilukiskan pada bayi baru lahir. Bayi yang baru lahir itu merasa dirinya setara dengan bayi lain. Bila ada 7 bayi berbaring berdampingan dan salah satunya menangis, pasti bayi lain pun ikut menangis.
Bayi itu tidak mengenal apakah bayi lain itu muslim atau nonmuslim. Mari kita berjanji kepada diri sendiri setelah perayaan Idul Fitri 1434 H berusaha menjadi bayi yang fitri, memegang konsep kesetaraan dan saling menguatkan, membangun diri dengan bersedekah, tidak menodai negara dan lingkungan dengan perbuatan tercela. Inilah indikator hati yang suci, hati yang fitrah. Semoga Allah menerima ibadah dan mengampuni dosa kita, dan kembali mempertemukan dengan Ramadan tahun depan.
— Drs. Rozihan, SH, M.Ag, Dosen Fakultas Agama Islam Unissula, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng. Artikel ini juga dimuat di Harian Suara Merdeka (Fakhrudin)