Presiden Buka Muktamar Satu Abad Muhammadiyah dari Madina

0
311

Yogyakarta – Muktamar Satu Abad Muhammadiyah akhirnya dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui telekonferensi langsung dari Hotel Oberoi, Al Madinah Al Munawaroh, Arab Saudi. Telekonferensi tersebut dilakukan presiden disela-sela ibadah umroh seusai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Toronto, Kanada, dan kunjungan kenegaraan ke Turki sejak 24 Juni lalu. Didampingi istri, Hj. Ani Yudhoyono, dan rombongan menteri kabinet Indonesia Bersatu, Presiden menyampaikan pidato sambutannya pada pembukaan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang dilaksanakan di stadion Mandala Krida Yogyakarta, yang juga disiarkan langsung oleh Madina TV, TVRI Nasional dan ADi TV.
Presiden memaparkan bahwa Muktamar Muhammadiyah kali ini terasa sangat istimewa bagi warga Muhammadiyah, karena bertepatan dengan seabad berdirinya Muhammadiyah. SBY juga menyatakan dalam rentang waktu satu abad sejak didirikan tahun  1912, Persyarikatan Muhammadiyah telah melalui jalan sejarah yang sangat panjang. “Sejarah untuk Dakwah, Sejarah semangat tajdid atau pembaharuan, dan membangun tatanan dunia, membangun peradaban, berdasarkan nilai Islam yang luhur”, tegasnya. 
Dalam tempo satu abad, Muhammadiyah telah menjadi organisasi kemasyarakatan yang bergerak di barisan terdepan. Ratusan ribu sekolah, panti dan lembaga lembaga keislaman telah didirikan oleh Muhammadiyah di seluruh tanah  air. SBY juga menyatakan saat ini Muhammadiyah tidak saja telah menjadi organisasi terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Gerakan tajdid Muhammadiyah telah membawa pencerahan umat Islam.  “Memasuki Abad kedua ini Muhammadiyah memasuki fase kemajuan perjuangan,mewujudkan Islam yang rahmat semesta alam” papar presiden.
Presiden berharap Muhammadiyah tetap meneguhkan pergerakannya, sebagai pembawa misi Islam yang maju, menjadi kekuatan perubahan transformatif, mewujudkan peradaban umat Islam yang utama. Menghadirkan Islam yang menjadi jembatan antara timur dan barat, juga menampilkan pesan Islam yang berkemajuan, ramah, teduh dan toleran.
Presiden SBY juga mengucapkan selamat bermuktamar kepada ‘Aisyiyah dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Menurut Presiden, kelahiran Aisyiyah menjadi sangat penting dan berarti dalam pergerakan Islam di tanah air. Keahiran Aisyiyah pada tahun 1917 merupakan cerminan penting pesan Islam yang memahami harkat dan martabat perempuan tanpa diskriminasi. Dari kota Madinah ini pula, ibu Negara mengucapkan selamat bermuktamar kepada keluarga besar Aisyiyah. Juga megucapakan terima kasih atas peran Aisyiyah di tanah air, terutama dalam membangun akhlak mulia.
Kepada Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Presiden menyatakan bahwa IPM memilki peran penting bagi organisasi kesiswaan dan kepemudaan di tanah air. IPM juga menjadi tempat perkaderan intelektual muslim di masa depan.
Tampak hadir mendampingi presiden saat telekonferensi di Hotel Oberoi Madina antara lain Menteri Agama Suryadharma Ali, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan Menperin MS Hidayayat.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, M. A yang menyampaikan pidato iftitahnya sebelum presiden, menampik anggapan beberapa pihak yang menyebut bahwa ketidakhadiran Presiden SBY ke arena muktamar sebagai sinyal adanya ketidakharmonisan hubungan pemerintah dengan Muhammadiyah.
Menurut Din, Muhammadiyah tidak punya persoalan dengan pemerintah. Din mengatakan tidak mungkin ada pertentangan antara Muhammadiyah dan Pemerintah, karena sudah terjalin hubungan yang saling membutuhkan, walaupun usia Muhammadiyah lebih tua bagi Negara.
Din menyatakan bahwa gerakan pencerahan dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang dilakukan Muhammadiyah memerlukan dukungan pemerintah, sebaliknya upaya pemerintahpun sangat membutuhkan peran Muhammadiyah.
“Sejatinya Muhammadiyah adalah gerakan pencerahan, gerakan pencerdasan kehidupan bangsa, karena itu Muhammadiyah sepanjang satu abad telah mampu berbuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan ribuan amal usaha, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lembaga sosial, lembaga  pemberdayan ekonomi dan juga lembaga dakwah pencerahana ummat” papar Din. Namun, ia juga menegaskan posisi Muhammadiyah yang tetap kritis terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Muhammadiah tetap akan loyal kritis terhadap Pemerintahan SBY. “Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, sikap loyal kritis ini adalah jika pemerintahan benar menjalankan roda pemerintahan, Muhammadiah akan berada di garda depan untuk membela. Tapi jika menyimpang, Muhammadiah akan mengkritisinya,” kata Din dalam sambutannya.
Ia juga menyoroti bahwa Indonesia saat ini mengalami buta aksara moral yang menghinggapi para elit politik dan kaum terdidik. Hal ini tercermin dari masih banyaknya kasus korupsi dan penyimpangan lainnya yang menciderai nurani rakyat. “Ini harus menjadi keprihatinan kita bersama,” kata Din.
Din Syamsuddin memaparkan Muhammadiyah tidak kenal lelah berkiprah, siapapun  pemerintah Indonesia. Kalau Muhammadiyah ibarat matahari dan negara adalah bumi, bumi diciptakan karena ada matahari, dan matarahi diciptakan untuk menyinari Bumi. Matahari tidak akan berhenti bersinar menyinari bumi. Matahari tidak akan bersinar walaupun ada tsunami. Cahyaning Suryo Suminaring Nagari, yaitu sang sang surya yang menyinari bumi, dan kehidupan bersama.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubowono X, berharap Muhammadiyah dapat membangun kembali jati diri bangsa. “Dengan menyebarluaskan dan memajukan ajaran agama Islam, Muhammadiyah diharapkan dapat membangun kembali jati diri bangsa yang berperadapan unggul, dan mengkristalkan diri guna memperkuat ketahanan budaya ditengah tarikan budaya global”, katanya. Sultan menghimbau dalam menyiasati arus besar perubahan abad ini harus dilandasi dengan hati bersih dan dengan cara yang hati-hati. Jangan menyerah dalam penantian satu abad lagi dan jangan sampai turut tenggelam pusaran air. “Ngeli tanpo keli”, ungkap Sultan memberikan perumpamaan yang berarti mengikuti arus air tetapi jangan terbawa arus.
Pada kesempatan itu, Sultan mengungkapkan rasa bangganya atas diselenggarakannya Muktamar Seabad Muhammadiyah di Yogyakarta. “Adalah suatu kehormatan dapat merasakan suasana keagungan muktamar ini. Untuk itu ijinkanlah saya juga mengucapkan selamat datang, sugeng rawuh kepada seluruh muktamirin dan turut mengayu bagyo Muktamar Satu Abad Muhammadiyah ini”, tutup Sultan.
Pembukaan Muktamar ke-46 atau Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Stadion Mandala Krida Yogyakarta juga dihadiri mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, beserta Hj. Mufida Jusuf Kalla, Mantan Ketua UMUM PBNU Hasyim Muzadi, Para tokoh agama dari berbagai negara peserta The Third World Peace Forum, serta mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Amien Rais. Kedua-duanya juga merupakan penasehat PP Muhammadiyah. (Udn)