PERAN IBU YANG TERABAIKAN

0
722
Ilustrasi - Sahabat Yatim

Oleh Mindah Rahayu Mawarningsih (PCA Purwodadi)

KEHANCURAN peradaban Islam dimulai dari keluarga, Di sini sosok ibu sangatlah berperan penting. Sekilas Pesan Ustadz Sumarjo, S. Fil tersebut sangat singkat, jelas, bermakna dan mengena di hati, membuat saya terhenyak. Sosok Ibu adalah sosok yang paling diimpikan dan diidolakan oleh anak-anak di rumah. Tentu saja sosok ibu teladan, penyayang dan lemah lembut.

Kehancuran dan keberhasilan akhlak serta kebiasaan anak bertumpu kepada ibu yang selalu dekat dengan anak. Anak-anak bukanlah hewan piaraan yang hanya disediakan makanan atau yang penting sudah ada makanan di rumah. Anak-anak perlu perhatian khusus terutama dari sosok ibu, biarkanlah anak-anak bermanja, mencurahkan isi hatinya. Biarkanlah mereka bercerita kepada ibu karena itulah kedekatan mereka.  Kedekatan dan curhat anak-anak akan terbawa sampai mereka dewasa kelak. Artinya jika mereka dewasa jangan sampai mereka curhat dan lebih percaya kepada orang lain daripada kepada ibunya sendiri. Hal ini akan membuat kedekatan anak dan ibu akan terancam.

Seorang ibu yang bekerja tentu akan mempunyai waktu luang yang amat sedikit dibandingkan dengan ibu rumah tangga. Seorang Ibu yang bekerja akan sibuk mengurus pekerjaannya, pergi pagi dan pulang sore hari. Kedekatan dan komunikasi anak-anak dengan ibu yang bekerja tentu hanya beberapa jam saja. Anak-anak akan lebih banyak dengan pembantu atau neneknya. Sehingga, jangan heran jika anak-anak tersebut akan mengikuti kebiasaan dan akhlak dari pembantu atau simbahnya. Alhamdulillaah jika akhlak pembantu dan nenek itu baik, tetapi jika tidak maka malapetaka akan mengancam masa depan anak-anak tersebut.

Miris rasanya mendengar tausyiah itu. Bagaimana tidak, saya sendiri sosok ibu yang bekerja. Waktu saya untuk bercanda tawa dan bercengkerama dengan mereka hanya beberapa jam saja. Tapi saya selalu menyempatkan waktu untuk mereka. Membuat mereka nyaman dan merasa mereka tidak sendiri ketika harus ditinggal bekerja.

Ada sesuatu yang saya peroleh ketika saya bekerja. Seperti yang disampaikan oleh Ustadz Sumarjo, jika ibu bekerja, anak-anak akan lebih dewasa. itu betul, mereka lebih mengerti dan memahami keadaan orang tua, dan yang lebih mengharukan lagi mereka menjadi anak-anak yang hemat karena berpikir bahwa ibunya bekerja dari pagi sampai sore, sehingga tidak mau menghamburkan uang apalagi meminta hal-hal yang jauh dari jangkauan orang tuanya. Itu kesadaran dan pemikiran mereka sendiri tanpa diberitahu orang tuanya. Rasa empati terhadap orang tua lebih tinggi karena merasa kasihan melihat ibunya yang bekerja. Namun, semua kembali kepada peran ibu dalam mendidik dan membiasakan anak-anak di rumah. Ibu yang bekerja haruslah tetap mengedepankan kebutuhan anak yang masih banyak butuh perhatian dan kasih sayang, dengarkanlah cerita dan curhat mereka meskipun pekerjaan kantor menunggu.

Kodrat ibu memang untuk mendidik anak-anak dan menghantarkan mereka menuju maghligai kebahagiaan dunia akhirat, menempa mereka menjadi anak-anak yang berakhlakul karimah, sholih dan sholihah. Ketika keputusan harus ditempuh menjadi pendidik, jangan sampai kita lupa bahwa kita juga wajib mendidik anak kita sendiri di rumah. Itu pesan akhir tauziah Ustadz Sumarjo, anak-anak kita merindukan cerita kita, candaan kita. Mereka menanti kehangatan pelukan seorang ibu.

Selain kehancuran peradaban Islam yang lain yakni akhlak siswa yang tidak lagi bisa menghormati dan menghargai guru di sekolah. Mustahil jika anak bisa menghormati orang tuanya di rumah sementara dengan guru saja mereka tidak hormat. Lagi-lagi peran ibu sangat dibutuhkan di sini, anak yang sudah terbiasa bertutur kata sopan, menghormati dan menghargai orang lain tentu saja juga akan terbawa kemanapun anak itu berada. Ibu yang dekat dengan anak harus tahu bagimana komunikasi anaknya serta dengan siapa bergaul. Jalinlah silaturohmi dengan guru, tanyakan perkembangan anak di sekolah, terima semua masukan dan kritikan dari guru dengan lapang dada demi kebaikan anak di masa depan.

Kehancuran peradaban yang terakhir disebabkan oleh penyimpangan dari tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat seharusnya menjadi suri tauladan, perilaku mereka seharusnya menjadi inspirasi. Tetapi ketika tokoh masyarakat justru melakukan penyimpangan, kemana masyarakat bertanya, kemana mereka bersandar. Akhirnya mereka lebih percaya pada tokoh nonmuslim yang mereka anggap percaya.

Demikianlah keadaan peradaban kita saat ini. marilah kita selamatkan anak-anak kita, baik anak-anak biologis maupun ideologis. Marilah kita berlomba berbenah, mengangkat senjata memerangi kehancuran peradaban. Semoga ridho Allah senantiasa bersama kita. Aamiin.

Artikel disarikan dari Pengajian Rutin Ahad Pon, 8 Januari 2017 diisi oleh Ustadz Sumarjo, S. Fil. (Kepala SMK Muhammadiyah Purwodadi) yang diselenggarakan oleh PCA Purwodadi bertempat di SMP Muhammadiyah Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.