PENDIDIKAN KREATIF DAN INOVATIF MENUJU SEKOLAH MUHAMMADIYAH UNGGULAN

0
1445
HENDRA APRIYADI

Oleh : Hendra Apriyadi

Mahasiswa Magister Pengkajian Bahasa di UMS dan Guru SMK Muhammadiyah Lebaksiu

PENDIDIKAN merupakan kebutuhan primer pada saat ini, apalagi sebagian besar masyarakat sudah menyadari pentingnya pendidikan dalam menata masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu setiap negara senantiasa berusaha memajukan bidang pendi-dikan, disamping bidang yang lain dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas serta berusaha mengejar kemajuan negara lain.

Satu dari sekian banyak masalah di era global yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masalah di bidang pendidikan. Masalah yang belum teratasi pada saat ini terutama masalah yang berhubungan dengan kualitas hasil pendidikan (Suyanto, 2007).

Seorang guru penting untuk menciptakan paradigma baru untuk menghasilkan praktik terbaik dalam proses pembelajaran (Carolin Rekar Munro, 2005). Oleh karena itu, ketika terjadi perubahan kurikulum dan terjadi pergeseran tuntutan hasil pendidikan yang berkaitan dengan tuntutan pasar kerja, maka gurulah yang harus berperan mewujudkan harapan itu. Guru harus selalu mengembangkan diri, baik yang berkaitan dengan kompe-tensi bidang studi maupun pedagogik.

Dalam mengembangkan peran dan fungsinya sebagai pendidik, guru dalam tugasnya harus mampu mengembangkan proses pembelajaran yang mampu membawa peserta didik agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Degeng dalam Sugiyanto (2010) daya tarik suatu pelajaran (pembelajaran) ditentukan oleh dua hal, pertama oleh mata pelajaran itu sendiri, dan kedua oleh cara mengajar guru. Oleh karena itu berkaitan dengan cara mengajar guru maka tugas guru adalah menjadikan pelajaran yang sebelumnya tidak menarik menjadikannya menarik, yang dirasakan sulit menjadi mudah, yang tadinya tidak berarti menjadi bermakna

Menulis Bagian Proses Kreatif

Menulis sebagai salah satu bagian dari keterampilan berbahasa. Suhendar (1992: 17) menyatakan bahwa keterampilan menulis ini menduduki peringkat tertinggi atau tersulit karena menulis tidak lain dari kemampuan melahirkan pikiran, perasaan, dan pengalaman dengan bahasa yang baik. Suatu keterampilan yang pada mulanya berupa kemampuan mengenal dan menuliskan lambang-lambang bunyi, menuliskan kata-kata dan melahirkan struktur kalimat.

Bahasa adalah alat komunikasi manusia, berupa lambang atau tanda, dan selalu mengandung pikiran/perasaan.

Demikian pernyataan Suhendar (1992:1). Salah satu bagian dari catur keterampilan berbahasa adalah keterampilan menulis. Suhendar (1992: 17) menegaskan bahwa keterampilan menulis ini menduduki peringkat tertinggi atau tersulit karena menulis tidak lain dari kemampuan melahirkan pikiran, perasaan, dan pengalaman dengan bahasa yang baik.

Suatu keterampilan yang pada mulanya berupa kemampuan mengenal dan menuliskan lambang-lambang bunyi, menuliskan kata-kata dan melahirkan struktur kalimat. Hal ini tentu saja jika dibandingkan dengan 3 keterampilan berbahasa yang lain yakni keterampilan menyimak,berbicara,dan membaca.

Namun demikian kita masih melihat adanya pembelajaran di sekolah-sekolah yang berpusat pada guru dimana guru masih aktif sebagai pemberi informasi dan mendominasi pembelajaran di kelas, sedangkan peserta didik pasif sebagai penerima informasi, meski-pun paradigma pendidikan yang baru sudah mengarahkan pada student centered.

Selain itu pembelajaran masih menekankan pada hafalan dan drill-drill (latihan) yang kemungkinan besar disebabkan banyaknya materi yang harus diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun peserta didik tidak lagi dianggap objek pembelajaran, tetapi kenyataannya materi pembelajaran masih sangat ditentukan oleh guru.

Di sebagian besar sekolah, masih terlihat kurang mengoptimalkan pengembangan kapabilitas peserta didik, baik yang menyangkut cipta, rasa, dan karsa, serta peserta didik kurang memiliki kesempatan untuk berpikir kritis, logis, kreatif, dan inovatif.

Paradigma Pendidikan Muhammadiyah

Pendidikan Muhammadiyah harus berwawasan pada keunggulan, Kompetensi dan kuat nya gerakkan dalam rangka melahirkan generasi unggulan yang kompetitif untuk merebut masa depan. Siapa saja yang mendalami filosofi Muhammadiyah akan sukses membesarkan amal usaha pendidikan Muhammadiyah. Selaku guru saya melihat generasi penerus Muhammadiyah kreatif dan inovatif. Salah satu contoh Kegiatan Kreatif yang di Selenggarakan oleh SMK Muhammadiyah Lebaksiu Kab Tegal dengan berbagai macam kolaborasi antara pembelajaran secara teori dan di Implementasi pada hal yang nyata.

Dengan kenyataan seperti itu, maka sudah saatnya bagi guru untuk mencoba mengembangkan profesionalismenya melalui pengembangan model-model pembelajaran yang benar-benar mampu mengaktifkan dan menciptakan kondisi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan sekaligus menyenangkan. Dengan demikian peserta didik akan merasakan kebermaknaan belajar bagi hidup dan kehidupannya dan akhirnya meaningful learning akan terwujud. (*)