Penampilan Drama Kolosal SMK Muhammadiyah 3 Weleri Awali Upacara Detik – detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke – 72 di Kendal

0
629
Salah satu adegan sosiodrama ' Tumenggung Bahurekso ' yg diperankan oleh anak _ anak SMK Muhammadiyah 3 Weleri, Kendal sebelum upacara detik _ detik proklamasi kemerdekaan RI ke-72 di alun _ alun kota Kendal

 

PWMJATENG.COM, KENDAL – Suara irama tetabuhan gamelang jawa terdengar jelas sebagai pertanda bahwa warga Kendalsari dalam kehidupan yang makmur, tentram dan menyenangkan. Tidak lama berselang puluhan orang berpakaian adat jawa pada datang dengan berjalan kaki. Mereka sedang menuju pasar.  Ada yang memikul, menggendong dan memanggul dagangannya untuk dijual di pasar tradisional. Ketika penduduk pribumi tersebut sedang asik melakukan transaksi, tiba – tiba datang sejumlah pasukan Belanda yang memaksa agar seluruh dagangannya dijual kepada Belanda. Keadaan pasar berubah menjadi kacau.

Itulah salah satu adegan sebuah drama kolosal ‘ Tumenggung Bahurekso ‘ oleh anak –anak SMK Muhammadiyah 3 Weleri, Kendal Kamis (17/8) di alun – alun kota Kendal. Drama tentang babad Kendal dan perjuangan merebut kemerdekaan tersebut  digelar sebagai pra acara sebelum upacara detik – detik proklamasi kemerdekaan RI ke – 72 dimulai.

Lebih lanjut dikisahkan, pada tahun 1605 Kyai Hangabehi Bahurekso dinobatkan oleh Raja Mataram Panembahan Hanyakrawati. Sebagai penguasa di Pekalongan. Tahun 1613 VOC Belanda melakukan pemaksaan terhadap pribumi untuk menjual dagangannya kepada Belanda, maka Tumenggung Bahurekso melakukan penyerangan dan membakar kantor – kantor Belanda, banyak tentara Belanda yang tewas. Puncak kemarahan Mataram 1619 ketika Belanda menguasai Jayakarta dan menjadi Batavia.

Mataram merencanakan menyerang Belanda dengan menunjuk Tumenggung Bahurekso sebagai panglima perang Mataram. Tanggal 3 April 1628 Kyai Rangga mengirim pasukan dan disusul oleh pasukan Tumenggung Bahurekso dengan 59 perahu berkekuatan 900 prajurit dari Kendal dan terjadilah peperangan. Dalam peperangan tersebut pasukan Suro Geni berhasil membakar sebagian benteng, dan perang  berhenti ketika hari masuk petang. Pagi harinya pasukan Belanda mengejar pasukan Tumenggung Bahurekso yang mulai kehabisan amunisi dan sebagai penggantinya adalah “ mimis tinja “ . Tumenggung Bahurekso menarik mundur pasukannya yang dimanfaatkan Belanda dengan kekuatan 2866 tentara untuk memburu, dan menangkapnya meski tidak berhasil. Tumenggung Bahurekso hanya luka ringan dan dirawat di daerah Tegal oleh Tumenggung Tegal dan Tumenggung Anrangbaya.

Sajian drama kolosal berdurasi 60 menit disutradarai oleh Maria Cahyaningsih dengan melibatkan sekitar 85 pemain.

“ Dalam suguhan drama kolosal kami telah membangun kerja sama dengan Kodim 0715 Kendal “ kata kepala SMK Muhammadiyah 3 Weleri ketika dihubungi.

Sementara keterlibatan siswa menurut Darmawan tidak begitu bermasalah karena sudah berlatih dengan baik. Hal itu diakui Ervan Akbar Khanif (16) salah satu pemain, merasa tidak ada kesulitan ketika harus memerankan seorang Tumenggung Mandurorejo, salah satu dari 6 Tumenggung.

“ Kami berlatih cuma satu pekan, sebelum tampil “ akunya. Ervan yang juga kelas X/TKR 3 merasa bangga bisa tampil di depan publik.

“ Ini pengalaman saya di drama yang sebelumnya belum pernah sama sekali “

Berbeda dengan Rizkia Ayu Purwaningtyas (17) yang memerankan istri Tumenggung  Hangabehi Bahurekso, Dewi Rantamsari.

“ Saya latihan hanya empat kali “ kata Ayu usai penampilan.

“ Dan tidak ada kesulitan dalam peran, selain terdapat narator, peran yang sama pernah saya mainkan tahun lalu “ pungkasnya. (Abd Gofur/MPI Kendal)