Pelatihan KOKAM Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Batang

0
738

BATANG – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Batang menggelar pelatihan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM),Sabtu s.d Minggu (30-31/3) di Desa Sodong, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang.
Materi pelatihan yang disampaikan meliputi baris berbaris, pengenalan dasar SAR yang dipandu oleh tim KOKAM Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, Drs. Eko Basuki dan Puji Lestari.
Komandan KOKAM Batang, Moh. Sorimin, melaporkan pelatihan tersebut diikuti 89 peserta utusan dari 9 cabang yakni Kecamatan Limpung, Batang, Reban, Tersono, Kandeman, Gringsing, Pecalungan, Bawang dan Pecalungan. Dalam sambutannya, Sorimin berharap pelatihan tersebut dapat memberi pemahaman dasar dan fungsi kehadiran KOKAM. “Mudah-mudahan KOKAM bisa mengawal perjalanan Muhammadiyah di Batang dan menambah ghiroh kita dalam berorganisasi,” kata Sorimin mewakili panitia. Dia juga berharap setelah pelatihan tersebut ada tindak lanjut, misalnya anggota KOKAM diikutkan pada event-event lainnya atau paling tidak dari sisi sosial ekonomi kader KOKAM bisa dilibatkan dalam kegiatan amal usaha Muhammadiyah (AUM), misal menjadi satpam.
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Batang, Haris Nurudin, dalam sambutannya mengatakan kegiatan pelatihan tersebut berawal dari munculnya wacana perlunya menyediakan kader Muhammadiyah karena dirasakan organisasi ini minim kader. “Kami berharap peserta mendapatkan pengalaman yang mengesankan dan memberi efek positif pada masyarakat khususnya di Batang. Paling tidak setelah pelatihan tersebut ada peningkatan kemampuan setiap anggota KOKAM,” tandasnya.
Sekilas KOKAM PDPM Batang
Di Kabupaten Batang, KOKAM sebenarnya sudah ada sejak era 1990-an, dengan adanya sejumlah kader yang mengikuti pelatihan. Namun dalam perjalanan selanjutnya, kegiatan KOKAM mengalami kevakuman dan baru beberapa tahun belakangan ini mulai beraktivitas dengan mengirim sejumlah kader mengikuti jambore. Pelatihan kali ini merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat membentengi persyarikatan.
Dalam sejarahnya, KOKAM lahir bukan karena sebuah kebetulan, tetapi atas perkenan dan kehendak Tuhan. Sejarah mencatat, komitmen kemanusiaan dan kebangsaan persyarikatan Muhammadiyah tertulis nyata dalam rentang perjalanan usia dan terpatri kuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Dengan tanpa menyinggung peran kongritnya dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik tanpa melupakan arti penting peran kader-kader Muhammadiyah yang berjuang secara individual dan menjadi tokoh besar di berbagai bidang dalam zamannya masing-masing, mulai fase perjuangan fisik hingga pada era pembentukan wajah Indonesia modern.
Sikap istiqomah Muhammadiyah secara kelembagaan tersebut tercermin secara nyata dalam kancah pertahanan keamanan dan lapangan bela negara, seperti Hisbul Wathan pada zaman perjuangan kemerdekaan dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) pada era G.30 S PKI.
Perjuangan membangun bangsa dan negara bagi persyarikatan Muhammadiyah bersifat holistik tanpa batas dan tanpa melihat suasana, baik dalam kondisi pahit paupun manis, menguntungkan secara material atau tidak. Keterlibatan persyarikatan Muhammadiyah dalam kancah bela negara pada era G.30 S PKI di saat keamanan negeri ini terancam, maka dengan penuh kesadaran institusional, pada tanggal 1 Oktober 1965 jam 21.30 WIB, Muhammadiyah menetapkan berdirinya barisan bela negara yang dikenal dengan nama KOKAM. Keputusan tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk peran kongrit persyarikatan Muhammadiyah bersama dengan komponen bangsa lainnya dalam memberi dukungan fisik terhadap berbagai bentuk ancaman bagi kedaulatan negara RI.
Dalam perkembangan selanjutnya, ketika Indonesia relatif damai, KOKAM secara alamiah juga berubah fungsi dan peran, yakni sebagai salah satu jalur pembinaan anggota Pemuda Muhammadiyah berdasarkan minat, bakat, dan kemampuannya, dengan catatan tidak menggunakan uniform militer secara mencolok dan merubah arah aktivitas dari satuan pengamanan ke arah penyiapan sumber daya terlatih untuk penanganan masalah – masalah publik berbasis bencana, sehingga akan tercipta “Pemuda Islam yang ahli SAR, ahli Kepalangmerahan, dan paham tentang tugas-tugas kemanusian. (Laporan:Kawe Shamudra/batang.muhammadiyah.or.id/editor:Fakhrudin)