Nuzulul Qur’an, Forum Karyawan PWM dan AMM Jateng Hadirkan Psikolog Motivator

0
345

SEMARANG – Dalam rangka Nuzulul Qur’an, Forum karyawan Gedung Muhammadiyah Jawa Tengah dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Jawa Tengah menghadirkan Psikolog, Hastaning Sakti.
Hal ini berbeda dengan peringatan-peringatan Nuzulul Qur’an umumnya karena biasanya peringatan Nuzulul Qur’an hanya dilakukan dengan refleksi proses Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu yang pertama, kemudian makna yang terkandung didalamnya, mengapa ayat tersebut yang diturunkan, dan beberapa ulasan lainnya.
Inisiatif tersebut muncul sebagai upaya dalam mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis, yang terkandung dalam makna-makna Al Qur’an, sehingga Al Qu’an tidak hanya dibaca secara tekstual semata tetapi dapat menentramkan hati dan pikiran, hidup dalam harmoni, membangun kepercayaan diri, melihat segalanya lebih bijak dan menjadi motivasi dan kreasi untuk masa depan.
Ibu Hasta, sapaan akrab Psikolog Hastaning Sakti, memaparkan bahwa dalam wujud manusia jasmani dan rohani adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan, hanya ketika meninggal saja baru dipisahkan. Menurutnya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam tiga aspek, yaiu wujud, martabat dan benih karakter.
Ibu Hasta menjelaskan kebanyakan manusia hanya berfikir tentang kesempurnaan wujudnya saja, yang terkadang justru sering lupa bersyukur atau bahkan memanjakan wujudnya tersebut. Namun banyak orang yang tidak memandang aspek martabat dari penciptaan dirinya, karena walau dengan wujud yang sempurna bisa saja manusia tidak mempunyai martabat atau miskin martabat, yang kemudian akan tercermin dalam karakternya, yaitu baik atau buruk.
“Oleh karena itu bangsa kita mengalami empat krisis, yaitu krisis jati diri, krisis idiologi, krisis karakter dan krisis kepercayaan, karena kebanyakan orang memisahkan penciptaan manusia antara wujud dan martabatnya”, tegas Ibu Hasta.
Ibu Hasta berpendapat bahwa martabat manusia mempunyai empat unsur, yaitu moral, nilai guna, ilmu dan akhlak. Keempat unsur tersebut saling berkaitan, oleh karena itu seseorang dinilai bermartabat ketika empat unsur tersebut tergabung. Orang yang berilmu hendaknya semakin tinggi ilmunya maka akan semakin merunduk, semakin bermoral, berakhlak dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya.
Ibu Hasta juga menggambarkan optimisme keseimbangan dunia, seperti keseimbangan yin dan yang. Dia menjelaskan bahwa dalam kebersihan jiwa seseorang pasti masih terdapat sisi kegelapannya, dan dalam kegelapan sisi kehidupan seseorang pasti masih ada sisi kejernihan hatinya.
Oleh karenanya, ibu Hasta menghimbau kepada para karyawan Gedung Muhammadiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah, para kaum dhuafa’ yang datang pada acara tersebut untuk tidak menganggap dirinya rendah dan harus meyakini bahwa dirinya mempunyai kemampuan. Selain itu, audiens juga dihimbau untuk mampu menciptakan harmoni kehidupan sosial, mempunyai kepercayaan diri, hidup damai dalam harmoni, melayani dengan penuh cinta dan kasih sayang, melihat segalanya dengan lebih bijak dan berkreasi untuk masa depan. (Udn)