Nasyiatul Aisiyah Galang Aksi Tanda Tangan Untuk Hapuskan Kekerasan Pada Anak dan Perempuan

0
400
TANDA TANGAN : Anggota Nasiyatul Aisyiyah Kecamatan Todanan membubuhkan tandatangan anti kekerasan terhadap perempuan yang dilaksanakan di Depan Kantor Desa Todanan Kecamatan Todanan Blora, Minggu (21/5). (SM/Sugie Rusyono)

PWMJATENG.COM, BLORA – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan akhir-akhir ini membuat Nasiyatul Aisyiyah (NA) Kabupaten Blora merasa prihatin. Keprihatinan itu diwujudkan melalui aksi simpatik penggalangan tanda tangan dan pembagian stiker anti kekerasan terhadap perempuan. “Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Nasyiyatul Aisyiyah agar segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan ajaran islam, jadi mari mulai budaya kekerasan terhadap perempuan dan anak dari lingkungan terdekat,” ujar Ketua PCNA Kecamatan Todanan Endang Widayati yang juga koordinator aksi tersebut.

Aksi dimulai dari Masjid Al Hikmah lalu melakukan jalan kaki sampai depan Kantor Desa/Kecamatan Todanan Blora. Disitulah tanda tangan dilakukan pada banner besar berwarna putih, bukan hanya anggota NA saja yang ikut ambil bagian tetapi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) serta masyarakat dan aparat TNI dan Polisi ikut ambil bagian dalam aksi tersebut.

Menurutnya kampanye anti kekerasan sekaligus peringatan Milad NA ke-88 dan Hari Kebangkitan Nasional. Serta bentuk kampanye nasional, selama ini dia melihat banyak kasus yang menimpa justru berasal dari lingkungan terdekat. Serta banyak korban yang tidak mau melaporkan lantaran takut dan malu. Ataupun banyak kasus yang berhenti pada tingkat kepolisian karena tidak cukup bukti. “Ada banyak kasus, dan banyak yang belum berpihak sehingga kami mendesak agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera di sahkan oleh DPR dan Pemerintah,” terangnya.

Lantas alumnus Pertanian Universitas Brawijaya Malang ini menyampaikan kalau setiap hari hampir ada 10 kasus dan 50 persennya adalah kasus seksual, hal itu berdasarkan data yang dirilis dari Komnas Perempuan pada tahun 2016. Dengan kasus tahunan 16.217 kasus paling banyak kekerasan fisik disusul kekerasan seksual. Bahkan dari data BPS per 30 Maret 2017 terdapat 1-3 perempuan berusia 15-64 mengalami kekerasan fisik dan seksual.

Selain di Kecamatan Todanan, aksi serupa juga dilakukan oleh PCNA Kecamatan Kunduran, PCNA Kecamatan Kedungtuban dan PCNA Blora. Khusus di Blora dilakukan dengan membangikan bunga sebagai bentuk keprihatinan. “Melihat angka itu sungguh ironis, jadi mulai dari diri kita, lingkungan keluar dan lingkungan sekitar harus kita jaga dan anti kekerasan,” ujar Endang. (Sugie Rusyono)