Muhammadiyah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H Jatuh pada Tanggal 17 Juli 2015

0
379

YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menentukan hasil hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1436 Hijriah sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang berpedoman dari Majelis Tarjih dan Tajdid. Berdasarkan penentuan tersebut, 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah bagi warga Muhammadiyah jatuh pada Jumat 17 Juli 2015.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, dalam konferensi persnya menyampaikan ijtimak jelang Syawal tahun ini terjadi pada Kamis 16 Juli tepatnya pukul 08.26 WIB. Tinggi bulan saat terbenam matahari di Yogyakarta sudah wujud hilal, dan seluruh wilayah Indonesia ketika terbenam matahari itu bulan berada di atas ufuk. “Artinya, jatuhnya 1 Syawal 1436 H pada Jumat Pahing 17 Juli 2015. Warga Muhammadiyah melakukan Salat Idul Fitri di lapangan saat itu,” kata Syamsul Anwar dalam keterangan pers di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (7/7/2015).
Begitu juga tentang Dzulhijah (Hari Raya Idul Adha) yang akan jatuh pada 14 September 2015. Hari Arafah atau 9 Zulhijah jatuh pada Selasa 22 September 2015. Sedangkan hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu 23 September 2015.
Sementara itu, untuk awal puasa 1 Ramadhan sudah terjadi secara bersamaan dengan pemerintah yaitu pada 17 Juni 2015. Syamsul melihat tidak ada perbedaan dalam menentukan 1 Syawal dengan pemerintah pada tahun ini.
Himbauan PP Muhammadiyah
Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, menambahkan ada dua kewajiban yang harus dilakukan warga Muhammadiyah pada 1 Syawal yakni melaksanakan Salat Idul Fitri di lapangan dan menyerahkan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat tersebut.
Saat ditanya apakah dirinya akan hadir pada sidang Isbat yang digelar pemerintah untuk penentuan 1 Syawal, Yunahar menjawab diplomatis bahwa Muhammadiyah akan hadir jika sidang tersebut dilakukan tertutup, begitu juga sebaliknya. “Kita hormati perbedaan, kita hadir kalau sidang dilakukan tertutup. Sehingga ketika terjadi perbedaan, Menteri Agama yang memberi penjelasan,” ujarnya.
Menurut Yunahar, sidang terbuka yang disiarkan semua stasiun televisi hanya akan membuat orang terpancing eksis dan berbicara yang tidak perlu. Adanya siaran langsung juga membuat kekuatan menyerang perbedaan semakin besar dan hal tersebut tidak baik untuk kedamaian umat muslim di masyarakat. (Prabowo/ira/ful/okezone.com/editor: Fakhrudin)