Muhammadiyah, Kiprah Pencerah di Segala Zaman

0
331

Dikisahkan, murid-murid KH Ahmad Dahlan merasa bosan karena sang guru terus-menerus mengajarkan Al Quran Surat Al Maun secara berulang-ulang. Para murid itu pun bertanya, mengapa Dahlan tidak beranjak mengajarkan surat lain. Dahlan pun balik bertanya, apakah murid-muridnya itu sudah mengamalkan Surat Al Maun?

Para murid menjawab, mereka sudah mengamalkan, bahkan sudah menjadikan Al Maun sebagai bacaan di setiap shalat.

Jawaban para murid itu tak membuat Dahlan berhenti mengajarkan Surat Al Maun. Pria bernama kecil Muhammad Darwis itu malah meminta para murid untuk mendalami dan mengamalkan surat yang berisi seruan untuk tidak mengabaikan kaum marjinal tersebut.

Kisah itu menunjukkan bagaimana Dahlan, yang mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 1912, menyampaikan pentingnya kesalehan sosial. Bahwa ilmu agama harus diamalkan, direalisasikan dalam gerakan praksis.

Sari pati Surat Al Maun itu pulalah yang menjadi salah satu rujukan Muhammadiyah untuk menjadi gerakan pembaruan (tajdid), seperti ditegaskan dalam Anggaran Dasar Persyarikatan Muhammadiyah.

Seperti dipaparkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir dalam Pengajian Ramadhan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 20 Juni lalu, teologi Al Maun melahirkan transformasi Islam untuk mengubah kehidupan yang bercorak membebaskan, memberdayakan, dan memajukan.

Pernyataan Haedar itu tak berlebihan. Sejak berdiri pada 18 November 1912, Muhammadiyah tak hanya berkiprah di bidang agama, tetapi juga fokus mengembangkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sosial.

Muhammadiyah hadir untuk menjawab tantangan zaman kala itu. Di bidang keagamaan, masih banyak ditemui ritual keagamaan yang kurang sesuai dengan Al Quran dan Hadis (perkataan, perbuatan, serta perilaku Nabi Muhammad SAW). Seperti sebut saja takhayul, bidah (mengada-ada dalam beribadah), dan khurafat (animisme dan dinamisme).

Di bidang sosial, rakyat Indonesia di bawah pemerintahan Hindia-Belanda umumnya masih miskin dan terbelakang. Mereka juga sulit mengakses pendidikan dan layanan kesehatan.

Buka klinik pengobatan

Untuk membuka akses kesehatan bagi masyarakat, Muhammadiyah mendirikan Pertolongan Kesengsaraan Oemat (kini disingkat PKU). Persyarikatan berlambang matahari bersinar itu pun membangun Rumah Miskin sebagai wadah perjuangan penanggulangan kemiskinan. Tak ketinggalan, panti asuhan anak didirikan untuk membantu kehidupan anak yatim.

Bahkan, dalam pendidikan, Dahlan sudah lebih dulu mendirikan sekolah Islam modern bernama Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan Hindia-Belanda itu dibentuk pada 1911. Tak seperti umumnya sekolah Islam kala itu, sekolah yang didirikan Dahlan sudah modern, diadakan di dalam ruang kelas, lengkap dengan meja, kursi, dan papan tulis.

Modernisasi juga terlihat dari kesadaran persyarikatan tentang pentingnya media massa sebagai ajang dakwah amar makruf nahi mungkar (mengajak berbuat baik dan memerangi kemungkaran). Tiga tahun setelah berdiri, Muhammadiyah menerbitkan majalah bernama Soewara Moehammadijah (sekarang Suara Muhammadiyah).

Apa yang dirintis Dahlan pada awal berdiri Muhammadiyah terus berkembang hingga melintasi satu abad usia persyarikatan. Saat ini, Muhammadiyah memiliki lebih dari 12.000 sekolah Muhammadiyah, dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah lanjutan. Tak hanya itu, Muhammadiyah juga mendirikan lebih dari 172 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Persyarikatan juga memiliki lebih dari 457 rumah sakit, ratusan balai pengobatan, dan panti asuhan. Untuk mendorong kegiatan perekonomian, Muhammadiyah mendirikan bank perkreditan rakyat serta pendampingan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah.

Islam berkemajuan

Sejak awal berdiri, Muhammadiyah juga sudah memosisikan diri sebagai gerakan Islam berkemajuan. Hal itu salah satunya terlihat dalam statuta pertama Muhammadiyah yang menyatakan persyarikatan itu didirikan untuk memajukan agama beserta anggotanya.

Haedar membenarkan bahwa sejak awal Muhammadiyah menjadikan tajdid (pembaruan), reformis, dan modernis sebagai ideologi. Ideologi itu akan tetap dijadikan landasan berpikir dan bertindak bagi Muhammadiyah.

Tokoh intelektual Muhammadiyah, Achmad Jainuri, dalam Pengajian Ramadhan di UMY menjelaskan, ada tiga aspek penting dalam wawasan Islam berkemajuan. Pertama, filsafat keterbukaan, toleransi, dan pluralitas, di mana Muhammadiyah memahami keanekaragaman dalam konteks budaya.

Aspek kedua, memaknai ibadah dalam konteks kehidupan sosial yang sangat luas. Artinya, Muhammadiyah memandang ibadah bukan hanya sebagai ibadah yang jika sudah dilaksanakan maka gugurlah kewajiban seorang Muslim. Lebih dari itu, ibadah ditarik dalam konteks tanggung jawab sosial.

“Misalnya puasa, itu tidak dimaknai sebagai kewajiban saja. Puasa dimaknai sebagai ibadah untuk membentuk identitas diri menjadi orang yang sabar dan bisa menahan diri,” kata Jainuri.

Aspek ketiga, lanjut Jainuri, adalah filsafat praksis. Muhammadiyah lebih mengutamakan amal dibandingkan pendekatan teologis. Hal itu terlihat dari tindakan Dahlan yang mengutamakan pembentukan berbagai amal usaha dibandingkan memperdebatkan masalah ketuhanan.

Komitmen untuk melakukan gerakan pencerahan (tanwir) kembali dikukuhkan Muhammadiyah saat memasuki abad kedua usia persyarikatan. Muhammadiyah memaknai pencerahan sebagai gerakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.

Muhammadiyah memosisikan Islam sebagai jawaban atas berbagai persoalan dan tantangan zaman, terutama persoalan-persoalan yang menyangkut kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan lainnya.

Dalam pemikiran abad kedua Muhammadiyah dipaparkan bahwa persyarikatan meyakini Islam tidak hanya mengandung ajaran berupa perintah dan larangan, tetapi juga petunjuk untuk keselamatan hidup umat manusia di dunia dan akhirat.

Kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan pencerah sudah diakui para pemimpin bangsa dan kalangan intelektual, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan berbagai amal usaha yang didirikan, Muhammadiyah hadir di tempat-tempat di mana negara tidak hadir.

Hal itu pula yang mendasari banyak kalangan menaruh asa besar pada Muhammadiyah, tak terkecuali Soekarno, presiden pertama Indonesia. Saat memberikan sambutan dalam muktamar setengah abad Muhammadiyah di Jakarta, 1962, Soekarno meminta masyarakat Indonesia, khususnya anggota Muhammadiyah, lebih banyak menyumbangkan tenaga, usaha, dan pikiran untuk mengabdi pada Tuhan, tanah air, dan bangsa.

Kini, setelah lebih dari 50 tahun berlalu, bangsa Indonesia mengalami krisis multidimensi. Saat-saat seperti inilah sumbangan tenaga, usaha, dan pikiran Muhammadiyah sangat dibutuhkan. Gerakan pencerahan untuk Indonesia berkemajuan yang dijadikan tema Muktamar Ke-47 Muhammadiyah diharapkan tak sebatas retorika. Banyak harapan Muhammadiyah bisa menjadi pencerah di segala zaman.

(ANITA YOSSIHARA, kompas.com, Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juli 2015, di halaman 5 dengan judul “Kiprah Pencerah di Segala Zaman”).