Muhammadiyah dan Aisyiah Kota Semarang Gelar Musyda 27 Maret 2016

0
320

SEMARANG – Organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Semarang akan menggelar Musyawarah Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah, Minggu (27/3/2016) di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), jl. Kedungmundu Raya 18 Semarang. Permusyawaratan yang diselenggarakan lima tahun sekali tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh 250 peserta dari utusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kota Semarang, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Kota Semarang,Pleno Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), majelis pembantu pimpinan dan organisasi otonom Muhammadiyah tingkat Kota Semarang.
Ketua Steering Commite Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, Danusiri, mengatakan agenda utama adalah reorganisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. “Acara ini merupakan forum evaluasi, pertanggungjawaban dan memilih pimpinan PDM dan PD Aisyiah Kota Semarang atau peralihan kepemimpinan,” papar Danusiri.
Danusiri menjelaskan bahwa peralihan kepemimpinan Muhammadiyah dan Aisyah tidak bergantung dari seorang figur. Dirinya memaparkan bahwa pimpinan Muhammadiyah terdiri dari 13 pimpinan dengan sistem kolektif kolegial. “Tiap anggota ditawarkan untuk mencalonkan diri. Awalnya ada 80 yang mencalonkan diri, disaring menjadi 52. Sisanya 39 calon pimpinan. Nanti akan ada 13 pimpinan. Rata-rata akademisi. Tidak ada yang menawarkan diri untuk memilih dirinya sendiri atau kampanye. Hanya satu dua, karena tidak ada kultur seperti itu di Muhammadiyah,” ungkap Danusiri.
Danusiri menjelaskan, pola pemilihan pimpinan Muhammadiyah diawali pemilihan pimpinan pleno yang berjumlah 13 orang. Dari 13 pleno yang disebut sebagai formatur itulah calon ketua umum dipilih. “Biasanya yang ketahuan kampanye malah tidak terpilih,” ucapnya.
Danusiri memaparkan tantangan pimpinan Muhammadiyah semakin kompleks. Misalnya saat berdakwah, ikonnya baru Rumah Sakit (RS) Roemani dan SD Muhammadiyah 1 Plus. Pihaknya berharap bisa menelurkan ikon Muhammadiyah yang lain.
Menurut Danusiri, dakwah komunitas di Kota Semarang harus dikembangkan. Ia ingin merangkul komunitas seperti penderita HIV/AIDS dan menyadarkan LGBT. Pihaknya juga prihatin dengan istilah Sunan Kuning. Sebenarnya di sana ada benar-benar makam sunan. Tapi tertutup oleh aura lokalisasi.
Sementara itu, Ketua PCM Kecamatan Tembalang, Eddy Suryanto, selaku tuan rumah Musyda, menjelaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan rektor Unimus. Dimulai mulai pagi hari hingga dini hari. “Puncak acara adalah pemilihan 13 pimpinan dan penunjukkan ketua umum, biasanya sampai tengah malam,” jelasnya. (bakti buwono budiasto, Catur waskito Edy, TRIBUNJATENG.COM/editor: Fakhrudin PWM Jateng)