Muhammadiyah Bantu Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana

0
496

BATANG – Muhammadiyah sudah menyelenggarakan kegiatan penanggulangan bencana sebagai wujud komitmen membantu pemerintah. Hal ini disampaikan Naibul Umam Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah di Batang pada acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).
Naibul Umam menyebutkan bahwa sejak tahun 2010 MDMC Jawa Tengah telah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana. Pihaknya mengaku telah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas relawan seperti pelatihan SAR, medical response, psikososial dan dapur umum.
Hal senada disampaikan Gembong Purwanto Nugroho BPBD Provinsi Jateng saat memberikan sambutan pada upacara pembukaan Rakerwil. Keberadaan lembaga-lembaga non pemerintah seperti MDMC Jateng ini sangat membantu program kegiatan kami.
Gembong mengakui bahwa tidak semua kegiatan penanggulangan bencana bisa dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. BPBD harus bermitra dengan lembaga-lembaga non pemerintah termasuk dengan MDMC Jateng ini. Rakerwil LPB PWM Jateng berlangsung Jumat-Minggu (21-23/5), diikuti 200-an pimpinan LPB MDMC daerah dan wilayah.
Pembukaan acara itu dihadiri Sekda Pemkab Batang Nasikhin, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jateng H.M. Yazid Jamil, Gembong P Nugroho dari BPBD Jateng, dan wakil dari berbagai instansi pemerintah di Kabupaten Batang. Sekda Pemkab Batang menyambut baik penyelenggaraan Rakerwil ini.
Menurut Nasihin ini merupakan bentuk apresiasi kami terhadap MDMC sehingga penyelenggaraan Rakerwil ini dilaksanakan di pendopo Kabupaten Batang. Sekda Batang menyebutkan bahwa urusan bencana menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Kegiatannya dimulai sejak pra bencana, saat terjadi bencana dan paska bencana. MDMC perlu memperbanyak kegiatan pra bencana terutama sosialisasi kesadaran masyarakat terhadap pengurangan risiko bencana. Rakerwil kali ini menghasilkan tiga program unggulan yaitu pengembangan Jamaah Tangguh Bencana yang merupakan pengejawentahan dari konsep Desa Tangguh Bencana yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah. Sekolah aman yang dipadukan dengan sekolah welas asih dan pengembangan dapur umum berbasis wirausaha relawan. Disinggung tentang sekolah aman dan sekolah welas asih Umam menjelaskan bahwa MDMC Jateng tak hanya menyasar pendidikan kebencanaan di sekolah. MDMC menambah muatan Sekolah Aman yaitu mewujudkan Sekolah Welas Asih (Compassionate School). Dengan demikian, istilah Aman dalam konteks ini tak hanya dimaknai sebagai “Aman dari Bencana” namun juga Aman dari kekerasan, diskriminasi, dan sebagainya. Ada 3 program tambahan yang akan melengkapi program Sekolah Aman. Pertama, Compassionate School adalah standar yang menentukan sejauh mana sekolah menerapkan nilai-nilai welas asih. Nilai itu meliputi respect (saling menghormati) kepada lingkungan, sesama, orang yang berbeda, dan kepada diri sendiri; responsibility: bertanggung jawab, siap menerima risiko atas perbuatannya, dan exellence: memberikan yang terbaik, baik untuk dirinya maupun lingkungan. Sasarannya guru, karyawan, dan siswa. Sekolah yang menerapkan Welas Asih akan tergabung dalam jaringan sekolah welas asih dunia.Bentuk programnya adalah workshop bagi pemangku kepentingan sekolah untuk mewujudkan Sekolah Welas Asih (Compassionate School). Kedua, Peace Generation, program menanamkan nilai-nilai perdamaian dan solidaritas untuk siswa. Siswa mempelajari nilai perdamaian yaitu bangga jadi diri sendiri, tak berprasangka, berteman walau berbeda, tak ngegank, emoh konflik, memberi maaf, tak sombong dsb. Siswa yang lulus dengan mengikuti materi yang dikemas dengan permainan interaktif, akan mendapat sertifikat sebagai agen perdamaian. Mereka akan jadi agen untuk menyebarkan nilai nilai perdamaian kepada teman dan lingkungannya. Materi bisa masuk dalam ekstrakurikuler, integrasi dalam mata pelajaran Budi Pekerti atau lainnya sesuai dengan situasi sekolah.Sasarannya siswa kelas IV dan V SD, VII dan VIII SMP, atau X dan XI SMA dan sederajat. Sedangkan yang ketiga Partisipasi Sekolah dalam Penanggulangan Bencana. Pelibatan keluarga besar sekolah dalam penanganan bencana dalam berbagai bentuk misalnya dukungan logistik, sukarelawan, dan sebagainya. Sumber daya yang dimiliki sekolah dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk mendukung penanggulangan bencana terutama melalui MDMC Jawa Tengah. (Teguh HP)