Momen Hari Kebangkitan Nasional : Putri Aisyiyah Ambil Sikap Stop Kekerasan Perempuan

0
499

PWMJATENG.COM, SLAWI – 20 Mei sebagai peringatan Hari Kebangkitan Nasional (HKN) dan Milad Nasyiatul Aisyiyah, 16 Mei digunakan untuk Gerakan Aktif dan Massif Nasyiatul Aisyiyah terhadap kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak yang selama ini meluas yang sedikit banyak tindakan untuk mengurangi atau menghentikan kasus kekerasan tersebut.

Nawa cita yang dicanangkan pemerintahan era Jokowi ini yang salah satunya adalah meli dunhi segenap warga negara jika benar-benar dijalankan tidak akan timbul banyak lagi korban-korban kekerasan dalam masyarakat terutama kelompok yang rentan kasus kekerasan, yakni perempuan dan anak.

Di Kabupaten Tegal, masih marak kasus kekerasan yang terjadi, dimana korbannya nyaris tidak terlihat atau terpublish dan terselesaikan. Masyarakat masih tabu terhadap cara penyelesaian yang akan dilaksanakan, merasa takut dan khawatir terhadap pelaku serta keterasingan dari lingkungan dari korban kekerasan tersebut berada.

Nasyiatul Aisyiyah dengan program pendampingan di ranah psikologis (PASHMINA) dan hukum (Paralegal) nya bisa tampil untuk bergerak aktif khususnya di Kabupaten Tegal, minimal dilingkungan terdekat.

Nasyiatul Aisyiyah memandang bahwa semua kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam bentuk apapun tidak dibenarkan dari ajaran agama Islam,

Untuk itu, kegiatan Aksi yang serentak se-Indonesia dilakukan oleh Nasyiatul Aisyiyah dari tanggak 19-21 Mei 2017, sedangkan di Kabupaten Tegal yang dilakukan pada tanggal 21 Mei 2017 ini bertepatan dengan Pelantikan PDNA periode 2016-2020 untuk serta mengambil sikap : 1. Menghentikan segala bentuk kekerasan dalam bentuk apapun, 2. Melindungi dan memberi jaminan terhadap korban dari pelaku serta orang-orang yang berada di lingkungan sekitar korban agar merasa nyaman, 3. Mendesak pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU penghapusan kekerasan seksual, terutama segera dikeluarkannya Surat Presiden agar RUU penghapusan kekerasan seksual segera dapat dibahas. 4. Memberikan ruang bebas kepada perempuan dalam menjalankan organisasi 5. Mengajak seluruh komponen elemen masyarakat untuk memulai budaya anti kekerasan terhadap perempuan dan anak dimulai dari lingkungan terdekat keperempuannya.

“Harapan kami, Nasyiah, bisa berupaya mengurangi dan menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkap Nurliana Rahmasari ketua PDNA Kab Tegal

Menjadikan lingkungan dimanapun RAMAH (Reflektif, Aktif, Massif, Advokatif dan Harmonis) terhadap permpuan dan anak. (Hendra Apriyadi)