Mengenal Lebih Dekat Sosok Drs. H. Tafsir, M. Ag, Ketua PWM Jateng Terpilih

0
976

SEMARANG – Ada yang tidak biasa dari sosok Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Periode 2015-2020 tersebut. Tafsir berani melawan arus mainstream di tubuh organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan tahun 1912 tersebut, baik dari segi gagasan maupun aksi. Pria kelahiran Kebumen, 16 Januari 1964 tersebut konsisten memperjuangkan ide-ide progresif didalam tubuh Muhammadiyah (struggle from within) meski secara organisasional masih sulit diterima. Ide-idenya tersebut juga pernah dituangkan dalam buku “Jalan lain Muhammadiyah”.
Disamping memiliki radius pergaulan lintas agama yang luas, Tafsir tidak ragu untuk berinteraksi bahkan terlibat intens dengan kelompok-kelompok marginal seperti kelompok waria, preman, korban narkoba, dan penderita schizophrenia. Tafsir juga berperan dalam pendirian Muhammadiyah Disaster Managemen Centre (MDMC) di Jawa Tengah, sebuah lembaga penanggulangan bencana alam milik Muhammadiyah di Jawa Tengah. Dalam pandangannya, Islam harus benar-benar menjadi kado terindah untuk alam.
Latar belakang Muhammadiyah tidak membuat dirinya larut dalam sektarianisme kelompok yang anti pluralisme. Justru Tafsir berkeyakinan Muhammadiyah sudah seharusnya terbuka dan memberi manfaat kepada semua golongan. Muhammadiyah untuk semua. Bagi Pandita Henry, tokoh agama Buddha, dan Sri Rahayu, Ketua Wanita Hindu Jawa Tengah, kiprah Tafsir sebagai tokoh Muslim sangat mengesankan. Bahkan Agnes Widanti, seorang intelektual Katholik, menyukai khutbah-khutbah Tafsir yang memancangkan optimisme dan perdamaian.
Melalui Interfaith Forum Committe (IFC), Semarang, yang pernah dipimpinnya, Tafsir menggalang solidaritas lintas agama untuk melakukan kerja-kerja sosial kemanusiaan sebagai bentuk common ground agama-agama seperti memberantas kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan. Menurut penuturan Darti dan Sugiyono, Kepala Desa Kali Kayen 1999-2007, kehidupan masyarakatnya sangat terbantu dengan adanya program IFC seperti pengerasan jalan yang membantu kelancaran transportasi warga dan distribusi hasil panen serta program padat karya untuk mengatasi pengangguran akibat krisis moneter.
Dalam penilaian rekan kerjanya di Muhammadiyah dan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Yusuf Suyono, MA, sosok dan sepak terjang Tafsir sangat jarang ditemukan di lingkungan organisasi Muhammadiyah.
Dari sepak terjangnya tersebut, pria yang tinggal di Jl. Tanjung Sari III No. 3 Ngaliyan, Semarang tersebut, pernah mendapatkan penghargaan Ma`arif Award tahun 2008, penghargaan untuk insan yang memperjuangkan pluralisme dan multikultural yang diberikan oleh Ma`arif Institute. (Fakhrudin€)